Breaking News

Sang Badut Dan Orang Bijak Cerpen Oleh: Hamid Nabhan


​Bab 1

Di bawah bayangan teriknya kota

Panggung sandiwara digelar dalam sunyi dan duka. Para penguasa meniup janji. Sementara rakyat memikul lapar

Di tepi kesia-siaan

Wabah datang merenggut asa

Di antara riuh dan sepinya jalanan kota

Seorang badut merajut hidup

Di ujung air mata

​ Di penghujung musim kemarau, matahari membakar kota tanpa ampun. Kehidupan tetap berdenyut seperti biasa, meski tak terasa hampir delapan bulan pandemi mengurung keseharian. Tak ada perubahan yang benar-benar berarti. Gelombang wabah kadang melandai, lalu tiba-tiba melonjak kembali. Keadaan tak kunjung membaik, pandemi ini menjelma bagai hantu, tak kasat mata, tapi jejak kepedihannya teramat nyata.

​ Roda ekonomi limbung. Sebagian pengusaha dan guru gulung tikar. Di sisi lain, tak sedikit yang sigap meraup untung dari keadaan yang sulit, dengan menjual bahan-bahan penunjang medis seperti cairan pembersih tangan, vitamin, hingga masker. Sebagian warga lainnya memilih bertahan menjadi kurir, melintasi jalanan demi mengantar makanan dan barang kebutuhan bagi mereka yang enggan melangkah keluar rumah.

​ Di tengah situasi yang kian terimpit, angka penularan wabah terus melonjak, dan korban yang tak tertolong pun tak sedikit. Pemakaman-pemakaman kian padat, memancarkan aura mencekam bak adegan dalam film horor.

Namun di sudut kota yang lain, gelak tawa masih terdengar lepas. Orang-orang duduk berkumpul, bersenda gurau melintasi hari. Mungkin itulah cara mereka menghibur diri, agar beban di kepala tidak terus-menerus menindih pikiran. Sebagian besar warga berdisiplin mengenakan masker dan menjaga jarak, walau di sana-sini masih ada segelintir yang acuh.

​Di tengah riuh dan sepinya kota, Pulot sang badut, tubuhnya kini makin kurus, wajahnya tirus, dan pakaiannya tampak tak terurus. Ia terus berjuang menyambung napas demi menghidupi diri dan keluarganya. Jalan hidupnya memang tak pernah mulus, tetapi keberuntungan-keberuntungan kecil yang tak terduga kerap menyapanya.

Walau penghasilan jauh dari kata cukup, yang terpenting baginya adalah napas kehidupan di rumah tetap terjaga serta harapan tak sepenuhnya padam. Sesekali, seorang kawan mengajak menjaga gudang milik majikan atau menjadi kurir pengantar barang.

​Di sela-sela waktu sembari menunggu keajaiban, pikiran Pulot kerap hanyut dalam janji-janji manis para penguasa. Harapan-harapan diembuskan begitu sedap, bahwa pandemi akan segera berakhir seiring hadirnya vaksin, dan pada akhirnya kemakmuran akan kembali menyapa dengan senyuman hangat. Masyarakat luas pun turut menggantungkan asa pada janji-janji yang terus berganti rupa setiap pekannya. ​Janji-janji itu terasa tak kalah manis dari sirup susu vanila putih, seputih deretan gigi sosok yang mengucapkannya di layar televisi.

Kata-kata yang terucap begitu memabukkan, bak mantra magis yang menenangkan ingatan bahwa hari esok akan jauh lebih baik seiring berlalunya wabah. Janji yang dinanti tak pernah benar-benar terwujud. Namun, di tengah ketidakpastian itu, sebagian masyarakat masih memilih bermimpi dan memelihara halusinasi, dengan meyakini bahwa janji-janji manis tersebut suatu saat akan terbukti.


​Bab 2

Seperti hari-hari biasanya, Pulot sang badut yang kini tampak begitu letih dengan pakaian yang lusuh dan rambut terurai panjang, kembali menjalani rutinitas demi menyambung hidup. Kayuhan sepedanya kerap melintasi taman balai kota, tempat yang dahulu menjadi saksi bisu perbincangannya bersama sang sahabat, seorang penyair.

​Taman itu masih terkunci rapat untuk umum. Aksesnya dilarang, kecuali saat sesekali dibuka untuk agenda khusus, seperti pembagian beras atau gelaran acara keluarga para pejabat. Setiap kali menatap ke dalam taman, dada Pulot selalu dihimpit kesedihan, bayangan sahabat penyairnya yang telah tiada mendadak hadir kembali.

​ Untuk mengusir rasa sepi dan melepas lelah, Pulot kerap menyempatkan diri duduk di bangku batu di tepi jalan depan taman. Dari sana, ia memperhatikan lalu lalang kendaraan, sesekali diselingi raungan sirene ambulans yang melintas tajam.

Di tempat itu pula, ia beberapa kali disapa oleh orang-orang yang kemudian menjadi teman berbincang singkat. ​Dari sekian banyak persinggahan, ada satu sosok yang paling sering menghampirinya. Seiring berjalannya waktu, keakraban tumbuh di antara mereka.

​ Pria itu bernama Piko. Berperawakan agak pendek dengan usia sekitar tujuh puluh tahun, namun sisa-sisa kekar di tubuhnya masih kentara. Berambut putih, berkacamata bulat, serta gemar mengenakan baju tanpa kerah. Piko adalah pribadi yang ramah, sopan, dan hangat. Setiap kali berbincang dengan Piko, bayangan sahabat penyairnya kerap terlintas di benak Pulot. Hanya saja, Piko jauh lebih sabar dan bijaksana. Suaranya renyah, bicaranya tenang tanpa luapan emosi, dan ia selalu menjadi pendengar yang tekun.

​Hadirnya Piko bak penawar duka bagi Pulot. Ia merasa seolah mendapatkan kembali sosok sahabat yang telah pergi, tempat ia bisa kembali mencurahkan seluruh isi hati. Wajah Pulot yang dulunya selalu muram dan kecut kini berangsur pudar, berganti dengan sunggingan senyum gembira. Perut yang sesekali meronta lapar pun tak lagi jadi perintang kebahagiaannya.

​Berbagai hal mereka diskusikan bersama, mulai dari sempitnya lapangan pekerjaan hingga kebijakan-kebijakan yang terasa janggal. Hari demi hari berlalu, dan tanpa disadari, benih-benih semangat hidup Pulot yang sempat mati kini tumbuh kembali.


​Bab 3

​Di suatu sore yang cerah, Pulot bergegas menemui Piko, sahabat barunya. Tampak Piko tengah duduk santai di kursi tepi jalan.

“Hai, Piko!” sapa Pulot penuh semangat.

​Piko pun menyambut sapaan itu dengan hangat, “Bagaimana kabarmu hari ini, Pulot?”

​ “Ya, saya bersyukur dengan apa yang saya dapatkan hari ini, walau tak seberapa,” jawab Pulot. “Seperti hari-hari sebelum datangnya wabah, keadaan seperti ini justru melatih saya untuk lebih bersabar.”

​ “Ya, Pulot. Sabar adalah kunci menuju kebahagiaan,” sahut Piko lembut. “Kau tahu, Pulot, terkadang aku kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ingin kuceritakan. Tapi aku tak pernah kehilangan nurani untuk tetap bersabar dalam mencintai sesama. Itulah modal utamaku untuk terus melangkah dalam hidup ini.”

Piko menatap jauh ke depan, lalu melanjutkan kisahnya, “Dulu, aku mempunyai usaha yang cukup berkembang. Lalu ketika usahaku hancur, istriku bersama anak-anak meninggalkanku. Pada awalnya, aku merasa begitu berat, terlempar, dan hampir berputus asa. Namun dari rentetan kejadian yang terus menamparku itu, aku menjadi lebih kuat dan belajar banyak tentang arti hidup serta kesabaran.”

​Pulot menyimak setiap ucapan Piko dengan sungguh-sungguh. Kata-kata Piko seakan menjadi asupan vitamin bagi telinga dan jiwanya, wejangan yang sudah lama tak pernah ia dengar semenjak sahabat penyairnya menghilang. Pulot mengangguk-angguk pelan.

​Melihat antusiasme Pulot, Piko pun melanjutkan, “Pulot, hidup ini ibarat roda yang terus berputar. Saat berada di atas, kita harus tetap menunduk ke bawah. Dan ketika sedang berada di bawah, kesabaranlah yang paling kita butuhkan. Bagaimanapun juga, hidup harus terus berjalan beriringan dengan getir dan manisnya kehidupan itu sendiri.”

​ “Ya... benar sekali, Piko,” sahut Pulot setuju. “Situasi saat ini memang sangat berat. Wabah ini mengubah segalanya, mulai dari melumpuhkan perekonomian hingga mengubah watak seorang kawan. Banyak orang yang usahanya gulung tikar. Sementara mereka yang di atas justru sibuk mempertahankan kedudukan dan memperkaya diri.”

​Pulot terdiam sejenak, mengumpulkan napas, lalu melanjutkan kisahnya dengan raut duka. “Kemarin ada tetanggaku yang nekat bunuh diri.”

​Piko sedikit terkejut, matanya membelalak. “Memangnya kenapa?”

​ “Ya...” kata Pulot seraya menarik napas panjang. “Anak tunggalnya, yang selama ini diharapkan menjadi tulang punggung keluarga, dihakimi massa hingga tak bernyawa.”

“Loh?” sahut Piko heran bercampur ngeri. “Apa salahnya?”

​ “Gara-gara mencuri makanan demi mengganjal perut,” sahut Pulot dengan raut wajah getir. “Sedang kalau kubaca di surat kabar tadi pagi, seorang pria berdasi yang merampok uang negara justru tersenyum lebar menyambut ketukan palu hakim. Ia diputus tak bersalah hanya karena perbuatannya dianggap sebagai sebuah kekhilafan.”

​Piko tertunduk lesu mendengar cerita itu. Muka duka menggelayut di wajahnya, mungkin ingatannya melayang kepada anak-anaknya yang kini telah pergi menjauh. Beberapa detik kemudian, lamunan Piko terbuyarkan oleh raungan sirene ambulans yang melintas kencang di hadapan mereka.

“Pulot,” bisik Piko perlahan. “Dalam urusan keadilan, nurani manusia kerap kali menguap. Sementara jika sudah berurusan dengan perut, rasa kemanusiaan mendadak buram. Hal-hal yang berbau duniawi memang tampak begitu berkilau, seperti permata yang tak hanya menyilaukan mata, tetapi juga membutakan mata hati.”

“Ya, aku rasa benar sekali, Piko,” sahut Pulot setuju. “Kalau kuperhatikan, harta seakan menjadi segala-galanya bagi mereka. Demi mendapatkannya, tak sedikit orang yang rela menggadaikan harga diri. Mereka tak segan menjadi penjilat, bahkan mengorbankan teman sendiri pun tak jadi masalah, asal impian pribadi bisa tercapai.”

“Benar,” tanggap Piko dengan raut wajah amat serius. “Ini sudah menjadi penyakit yang menggerogoti sebagian kehidupan kita. Semoga kita tidak terjerat menjadi seperti mereka. Karena bagiku, Pulot, salah satu hadiah terindah dalam hidup ini adalah persahabatan. Bukan harta, bukan pula kedudukan, melainkan kesetiaan.”

​Piko menghela napas panjang, lalu menambahkan dengan suara pelan, “Lagi pula, hidup ini hanya sementara, Pulot. Andai saja mereka menyadarinya.”

​Piko kemudian bangkit berdiri dan berpamitan, “Jaga kesehatanmu, Pulot.”

​Pulot masih tertegun duduk di bangku batu, mengunyah dan mencerna setiap kata bijak yang baru saja diucapkan sahabat barunya itu. Tak lama kemudian, ketika Pulot menoleh, sosok Piko sudah tampak menjauh dan menghilang di belokan jalan.


​Bab 4

​Hari-hari berlalu seperti biasa, sementara bayang-bayang wabah masih mencengkeram kehidupan warga. Imbauan dari para penguasa agar rakyat mengurung diri di rumah hanya efektif bertahan beberapa hari saja. Selebihnya, masyarakat mulai mengabaikan aturan tersebut. Dorongan perut yang lapar tak bisa dikompromikan.

Bagaimanapun, larangan keluar rumah tanpa diimbangi jaminan pasokan pangan selama masa isolasi adalah kebijakan yang mustahil masuk di akal. Urusan perut selalu berada di barisan paling depan.

​Sementara itu, warta yang tersiar di media tak hanya membicarakan ancaman virus, melainkan juga perilaku oknum-oknum tak bernurani. Mereka tanpa malu mengambil bantuan sosial yang seharusnya diperuntukkan bagi rakyat kecil yang sedang terseok-seok bertahan hidup. Sebuah potret yang teramat kontras, yaitu di satu sisi rakyat berdarah-darah mengusung kemanusiaan, di sisi lain para penjahat moral melenggang tanpa sedikit pun rasa bersalah.

​Rakyat jelata terpaksa memeras keringat jauh lebih keras demi sesuap nasi. Begitu pula Pulot. Setiap hari ia berjuang dari terbit matahari hingga petang menjelang demi mengumpulkan sepeser demi sepeser uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Kesibukan itu praktis merenggut waktunya. Tak ada lagi momen bersantai untuk sekadar merapat dan mengobrol bersama Piko, sahabat barunya.

Seorang diri, Pulot harus mengarungi samudra kehidupan yang makin hari makin sempit dan menghimpit. ​Barulah beberapa hari kemudian, tatkala gelombang kesibukannya sedikit melandai, Pulot menyempatkan diri singgah ke depan taman balai kota, berharap keberuntungan mempertemukannya kembali dengan Piko.

​Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak menunggu lama, sosok Piko terlihat berjalan pelan menuju bangku batu tempat biasa mereka bersua. Pertemuan itu seketika mencairkan kerinduan, dan keduanya kembali larut dalam perbincangan hangat.

​Sore itu, benak Pulot dipenuhi gelisah dan beragam pertanyaan yang langsung ia tumpahkan kepada sahabatnya.

“Piko, belakangan ini aku melihat banyak sekali orang berkumpul di jalanan untuk berunjuk rasa,” buka Pulot. “Mereka seperti sedang memperjuangkan dan menuntut suatu keadilan.”

​Piko terdiam sejenak, mengamati raut cemas di wajah teman bicaranya sebelum perlahan menjawab, “Ya... itu adalah hak mereka untuk menyuarakan isi hati, Pulot. Lagi pula, aksi mereka dilindungi oleh undang-undang. Demonstrasi lahir karena adanya rasa ketidakpuasan terhadap para pembuat kebijakan, kebijakan yang dirasa memberatkan, atau bahkan merugikan bagi mereka yang bersuara.”

​Piko menghela napas, lalu melanjutkan pandangannya dengan tatapan menerawang. “Pulot, aku teringat pada sebuah ungkapan bijak: ketika seekor anjing menyalak, anjing-anjing lainnya akan ikut menyalak. Itulah yang sedang kita saksikan saat ini. Makin hari makin banyak massa yang turun ke jalan, sementara mereka yang duduk di kursi kekuasaan mulai merasa terusik, dan para penjilat yang berburu keuntungan pun mulai bermunculan. Para penjilat itu berusaha mati-matian mempertahankan posisi, agar para majikan mereka bisa duduk dengan tenang di atas sana.”

​Pulot terdiam, berusaha meresapi dan mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Piko.

“Ya, benar, Piko,” gumam Pulot seraya menunduk lesu. “Kehidupan ini terasa semakin berat, dan aku sungguh merasakannya. Tapi kau tahu, Piko, keadaan yang menghimpit seperti ini justru melatihku untuk bisa lebih bersabar.”

“Ya, benar sekali, Pulot,” sahut Piko lembut. “Seperti yang pernah kukatakan padamu, sabar adalah kunci menuju kebahagiaan. Teruslah berusaha menciptakan ketenangan dalam hati, bahkan di tengah kepungan kehidupan yang penuh kerisauan ini.”

​Tak terasa, senja pun perlahan berlabuh. Piko berjanji untuk kembali bertemu esok sore, sebelum akhirnya mereka berdua berpisah melangkah menuju jalan masing-masing.


​Bab 5

​Janji Piko untuk kembali bertemu keesokan sorenya menjadi salah satu pemicu semangat yang membuat Pulot mengayuh sepedanya lebih ringan hari itu. Namun, senja yang dinanti justru datang membawa hawa yang berbeda. Udara kota mendadak terasa lebih berat dan menekan. Kabar buruk berembus lebih cepat daripada angin sore ketika varian baru dari virus yang jauh lebih ganas dan mematikan mulai merebak, merayap dari sudut ke sudut pemukiman.

​ Pulot tiba di tempat biasa, dan Piko sudah lebih dulu duduk di sana. Wajah pria tua itu tenang, namun matanya menatap jauh ke cakrawala yang memerah.

“Rupanya gelombang baru sudah sampai, Pulot,” ucap Piko pelan sebelum Pulot sempat menyapa.

“Ya, Piko. Orang-orang di jalanan kembali panik,” sahut Pulot seraya menyandarkan sepedanya. “Aturan ketat akan kembali diberlakukan. Kita mungkin dilarang keluar rumah sama sekali.”

​ Piko tersenyum tipis, sebuah senyuman yang teduh dan penuh kepasrahan. “Manusia sering kali panik menghadapi apa yang tidak bisa mereka kendalikan, Pulot. Tapi ingatlah, apa pun yang terjadi di luar sana, jangan biarkan rasa takut mencuri ketenangan di dalam dadamu. Kesabaran dan nurani adalah satu-satunya harta yang tidak bisa dirampas oleh wabah maupun penguasa.”

​Piko kemudian bangkit, menepuk bahu Pulot dengan lembut. Tatapan matanya hangat, seolah sedang menyampaikan salam perpisahan yang panjang. “Jaga dirimu baik-baik, Pulot. Tetaplah menjadi manusia yang jujur pada hatimu sendiri.”

​Itulah kali terakhir Pulot mendengar suara renyah sahabatnya.

​Keesokan harinya, kota benar-benar dikunci rapat. Pintu-pintu rumah digembok dari dalam, jalanan lengang bagai kota mati, dan raungan sirene ambulans tak lagi terputus siang dan malam. Berhari-hari hingga berminggu-minggu berlalu, Pulot tak pernah lagi melihat Piko di bangku batu itu. Sahabat tua yang bijak itu menghilang ditelan gelombang baru, meninggalkan kenangan manis yang membekas dalam di jiwa Pulot.


​Bab 6

Di dalam rumahnya yang sempit dan remang, Pulot duduk sendirian. Hari-hari pengasingan terasa begitu panjang. Hari ini, persediaan makanan di lemari kayu yang miring itu benar-benar habis. Tak ada sebutir beras pun yang tersisa, bahkan jelang malam perutnya hanya diisi air rebusan.

Pulot melangkah pelan menuju jendela, menyibak sedikit tirai lusuh dan menatap ke luar. Jalanan di bawah sana sepi mencekam. Di balik celah jendela itu, benaknya bergelut dalam simpang-siur pemikiran yang mengimpit.

​Jika ia nekat keluar rumah membawa sepedanya untuk mencari sesuap nasi, bahaya nyata telah menghadang di luar, virus varian baru yang tak terlihat siap menerkamnya, membawanya pada penderitaan dan kematian di jalanan atau ruang isolasi. Namun, jika ia memilih tetap berdiam diri tertutup di dalam rumah demi menghindari wabah, kelaparan yang perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya pun akan bermuara pada titik yang sama, kematian.

​Sebuah dilema yang begitu getir yaitu keluar berujung maut, bertahan pun perlahan padam. ​Pulot menghela napas panjang. Anehnya, tak ada lagi rasa panik atau amarah yang membakar dadanya seperti dulu. Di tengah kehampaan perut dan bayang-bayang ketidakpastian itu, bisikan kata-kata Piko dan kenangan bersama sahabat penyairnya mendadak hadir kembali, mengalun lembut di kepalanya.

“Sabar adalah kunci menuju kebahagiaan dan berusahalah menciptakan ketenangan dalam hati di tengah kehidupan yang merisaukan ini.”

​Pulot memejamkan mata sejenak, meresapi setiap kata itu. Ia menyadari bahwa hidup dan mati bukanlah sesuatu yang bisa ia tawar atau takuti lagi. Ketika dunia di luar sana riuh oleh keserakahan, kepanikan, dan janji-janji palsu, ia justru berhasil menemukan sesuatu yang amat berharga di dalam rumahnya yang sunyi, yaitu ketenangan batin yang merdeka.

​Pulot kembali membuka mata, lalu menatap langit malam yang ditaburi sedikit bintang dari balik celah jendela. Sebuah senyuman tulus dan hangat terulas pelan di bibirnya, senyuman dari seorang badut yang kini tak lagi membutuhkan topeng untuk merasa bahagia. Bagaimanapun esok akan menyapa, ia telah siap menyambutnya dengan jiwa yang utuh dan penuh kepasrahan yang indah.


Epilog

Di balik jendela

yang berdebu itu

Wabah datang merenggut sisa asa

Sementara perutnya

Meronta dalam siksa

Tiada lagi takut

Tiada lagi amarah

Tanpa topeng direlakan dunia 

Menutup seluruh jalannya


Surabaya, 29 Juli 2021

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id