Breaking News

Basyaiban: Dari Hubungan Kraton hingga Kursi Bupati – Jejak Keluarga Sayyid dalam Sejarah Magelang Oleh: Hamid Nabhan


   Keluarga Basyaiban merupakan salah satu klan Sayyid (keturunan Ahlul Bait Rasulullah) yang memiliki peran penting dalam sejarah Jawa Tengah, khususnya Kota dan Kabupaten Magelang. Asal-usul keluarga ini berasal dari cabang Ba’alawi Hadramaut, Yaman, dengan nenek moyang Muhammad Asadullah bin Hasan al-Turabi yang dapat dilacak hingga Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir. Abubakar Basyaiban bin Muhammad Asadulloh adalah sosok pertama yang menggunakan julukan Basyaiban, yang kemudian menjadi nama bagi seluruh keluarga dan klannya. Beliau adalah seorang ulama hafizh Al-Qur’an yang belajar fikih kepada Syaikh Al-Jalil Muhammad bin Abubakar Ba’abbad dan tasawuf kepada Al-Syaikh Abdurrahman Assegaf. Julukan Basyaiban diberikan karena rambutnya yang putih setelah menghilang puluhan tahun dan muncul kembali dengan wajah yang masih muda, berasal dari kata syaiban yang berarti beruban. Beliau wafat di Tarim sekitar tahun 807 H (1389 M) atau 803 H (1382 M).

   Disebutkan dalam kitab Syamsuzh Zhohiroh bahwa Abdurrahman bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abubakar Basyaiban bin Muhammad Asadulloh masuk ke Cirebon pada awal abad 18 Masehi (setelah tahun 1700).  Hal ini menunjukkan adanya kesalahan dalam asumsi sebelumnya yang menyatakan beliau datang pada masa Sunan Gunung Jati pertama (Syarif Hidayatullah), yang wafat pada tahun 1568 M. Maka, yang dimaksud dengan "Sunan Gunung Jati" yang hidup pada saat beliau datang kemungkinan besar adalah cucu dari Syarif Hidayatullah atau tokoh penerus dinasti Kesultanan Cirebon yang menggunakan gelar yang sama. Sayyid Abdurrahman bin Umar Basyaiban datang ke Indonesia untuk mengurus pembangunan masjid di Cirebon dan kemudian menikah dengan putrinya, Syarifah Khadijah atau Ratu Ayu. Dari perkawinan ini lahirlah Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Tajuddin Basyaiban, yang kemudian menetap di Krapyak Pekalongan dan dikenal sebagai Sayyid Sulaiman Mojoagung. Beliau memiliki empat putra, yaitu Hasan (Pangeran Agung), Abdul Wahab (Sunan Mojoagung), Muhammad Baqir (dimakamkan di Geluran Sidoarjo), dan Ali Akbar (dimakamkan di Ndresmo Surabaya). Semua putranya berperan sebagai pejuang melawan penjajah Belanda. Keluarga ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah Jawa.

   Perjalanan keluarga Basyaiban yang erat dengan dunia kraton dimulai ketika Sayyid Ahmad bin Muhammad Said bin Abdul Wahab bin Sulaiman Mojoagung bin Abdurrahman Tajuddin Basyaiban menikah dengan anggota keluarga Raden Adipatih Danurejo I, administrator wilayah Yogyakarta. Selain menjadi menantu kraton, Sayyid Ahmad juga menjabat sebagai Qadhi (hakim agama) di lingkungan Kasultanan Yogyakarta, yang memperkuat kedekatan keluarga dengan pemerintah pusat Jawa Tengah pada masa itu. Sayyid Ahmad memiliki tiga orang putra yang kemudian membangun jejak masing-masing: Sayyid Hasyim yang bergelar Raden Wangsorejo, Sayyid Abdullah yang menggunakan gelar Raden, serta Sayyid Alwi yang lebih dikenal dengan nama Danukromo dan kemudian menjadi Bupati pertama Magelang. Keturunan Sayyid Hasyim dan Sayyid Abdullah banyak mendiami Yogyakarta dan menduduki posisi penting di lingkungan Sultan, seperti Wedana Jaksa dan Kepala Urusan Umum.

   Sekitar tahun 1813, Letnan Gubernur Jendral Sir Stamford Raffles mengangkat Sayyid Alwi bin Ahmad Basyaiban menjadi Bupati pertama Kabupaten Magelang dengan gelar resmi Raden Adipati Arya Danuningrat I. Pengangkatan ini merupakan konsekuensi dari Perjanjian Inggris-Yogyakarta tanggal 1 Agustus 1812 yang memisahkan wilayah Magelang dari kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Sebelumnya, beliau bekerja sebagai asisten patih di Yogyakarta dan menjabat sebagai Demang Bojong di Kedu. Berdasarkan petunjuk gurunya, Sayyid Alwi memilih daerah antara Desa Manti Asih dan Desa Gelangan sebagai pusat pemerintahan awal Magelang, yang kemudian berkembang menjadi pusat kota seperti saat ini. Beliau merintis pembangunan infrastruktur utama, termasuk Alun-alun, rumah bupati, dan Masjid Agung Magelang. Selain mengelola pemerintahan daerah, beliau juga dikenal sebagai ahli strategi yang membantu perjuangan Perang Diponegoro dari dalam struktur pemerintahan kolonial, sesuai catatan sejarah keluarga Basyaiban. Dalam autobiografinya, Pangeran Diponegoro menyebutkan peran Sayyid Alwi yang mengumpulkan pasukan di Dimoyo untuk menghadapi pasukan penjajah. Sayyid Alwi wafat pada tanggal 30 September 1825 (19 Muharram 1241 H) dalam pertempuran di Pos Kalijengking. Awalnya beliau dimakamkan di Selarong, sebelum pemakamannya dipindahkan ke Makam Khusus Keluarga Basyaiban di Payaman Magelang.

   Jabatan Bupati Magelang kemudian diteruskan oleh keturunannya secara berkelanjutan hingga generasi kelima. Bupati kedua adalah Sayyid Hamdani bin Alwi Basyaiban (Raden Adipati Arya Danuningrat II) yang menjabat tahun 1826-1862, diikuti oleh Sayyid Sa’id bin Hamdani Basyaiban (Danuningrat III) sebagai bupati ketiga tahun 1862-1878, kemudian Sayyid Achmad bin Sa’id Basyaiban (Danukusumo) sebagai bupati keempat tahun 1879-1908, dan yang terakhir adalah Raden Aryo Adipati Danusugondo (Sayyid Muhammad bin Sa’id Basyaiban) sebagai bupati kelima yang menjabat hingga tahun 1939. Keturunan dari tiga putra Sayyid Ahmad Basyaiban banyak tersebar di berbagai daerah di Magelang, dengan konsentrasi terbesar di Desa Tuguran, serta beberapa di daerah Tumbu dan Meteseh. Sementara itu, keturunan Sayyid Hamdani bin Alwi Basyaiban banyak bermukim di Jakarta dan menduduki posisi penting dalam pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beberapa tokoh terkemuka dari keluarga ini antara lain: Prof. Dr. Abdul Mutholib bin Hasan bin Said Basyaiban yang menjabat sebagai Menteri Kelautan pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, Ali Sastroamidjojo mantan Perdana Menteri Indonesia Serikat yang ibu bernama Kustia binti Hamdani dari keluarga Basyaiban, serta R. Said Soempeno bin Soeleman Danoewilogo bin Hamdani bin Alwy Danoeningrat Basyaiban yang menjadi Wali Kota Pekalongan pertama di awal kemerdekaan (5 September 1945-5 Maret 1954). Selain itu, keluarga Basyaiban juga aktif dalam perkembangan pendidikan dan keagamaan di Magelang, seperti mendirikan sekolah al-Iman bersama Sayid Saggaf al-Jufri yang menggunakan bahasa Arab sebagai media pengajaran. Hal ini menjadikan mereka bagian tak terpisahkan dari identitas sejarah Islam Nusantara.

 

   Perlu ditegaskan bahwa julukan Basyaiban tidak hanya digunakan oleh satu jalur keturunan. Julukan ini hanya ada di keluarga Ba'alawi, yang terdiri dari dua cabang utama: Basyaiban Ba’alawi (jalur Husain bin Ali) di mana kata "Ba'" pada Basyaiban digunakan untuk marga yang berasal dari Hadramaut, serta Basyaiban Al-Hasani (jalur Hasan bin Ali) yang dulu dikenal dengan sebutan Syaibani. Bupati pertama Magelang beserta keluarga yang menjadi fokus tulisan ini termasuk ke dalam cabang Basyaiban Ba’alawi, yang secara sah boleh menggunakan sebutan Habib, Sayyid, atau Syarif sesuai dengan kebiasaan lokal. Hal ini berbeda dengan tokoh Raden Mas Basaiban yang menjadi Bupati Pekalongan, yang berasal dari jalur keturunan yang berbeda.

Catatan kaki

[1] Halaman Wikipedia, Basyeiban, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Basyeiban; Kitab Syamsuzh Zhohiroh karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein al-Masyhur, diakses dari https://santri.laduni.id/kitab/post/read/692/kitab-syamsu-dzahirah

[2] Konten video Jamasan.tv, Nguri-nguri Sejarah Aulia dan Ulama, diakses dari https://m.youtube.com/watch?v=YcuK-wGMzxI&t=21s

[3] Situs Resmi Visit Magelang, Sejarah Kabupaten Magelang, diakses dari https://visitmagelang.id/sejarah-kabupaten-magelang

[4] Halaman Wikipedia, Danukromo, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Danukromo

[5] Jurnal Kura Institute, Diaspora Etnik Alawiyyin Keluarga Basyaiban Magelang dalam Implementasinya di Dunia Pendidikan, diakses dari https://journal.kurasinstitute.com/index.php/bip/article/view/468

[6] Jurnal UNKAFA, Akulturasi Budaya Arab Jawa: Keluarga Basyaiban Magelang 1813-1939, diakses dari http://ejournal.unkafa.ac.id/index.php/miyah/article/download/607/692

[7] Tulisan referensi pengguna, "Baalawi Basyaiban yang Asli di Kursi Bupati Pertama Magelang: Fakta, Bukan Mitos", diakses dari https://www.facebook.com/share/p/1AZD2AStmU/

[8] Ratu Nasab Indonesia, Nyai Raden Linawati, dalam pendapat terkait pembedaan jalur Basyaiban Ba’alawi dan Basyaiban Al-Idrisi (dikutip dari tulisan referensi pengguna)

[9] Tulisan referensi pengguna, "Baalawi Basyaiban yang Asli di Kursi Bupati Pertama Magelang: Fakta, Bukan Mitos", diakses dari https://www.facebook.com/share/p/1AZD2AStmU/

[10] Dokumen ecommons.cornell.edu, Notes on Java's Regent Families: Part II, diakses dari https://ecommons.cornell.edu/items/28939359-f274-46b6-8299-c24d991c6d47

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id