Nagekeo – mgn.id. Tuduhan aksi penganiayaan brutal yang dialamatkan kepada Ferdinandus Dhosa alias Ferdin terhadap Kepala Desa Labolewa dan seorang warga di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, akhirnya mendapat bantahan keras dari pihak yang dituding.
Ferdin menilai pemberitaan yang dimuat media online WartaGlobal.id tidak hanya berlebihan, tetapi juga berpotensi menyesatkan opini publik.
Dalam pemberitaan tersebut, Ferdin dituduh melakukan penganiayaan brutal terhadap Kepala Desa Labolewa, Valens Nusa, dan seorang warga bernama Tobias Dega pada Sabtu (14/3/2026).
Namun Ferdin dengan tegas membantah narasi tersebut. “Berita itu terlalu berlebihan dan tidak sesuai fakta. Saya tidak pernah melakukan penganiayaan seperti yang ditulis. Jangan sampai fakta diputarbalikkan,” tegas Ferdin saat dikonfirmasi.
Ia bahkan menyebut beberapa bagian dalam berita tersebut tidak pernah terjadi. “Di berita itu ditulis saya memukul sampai jatuh lalu menginjak-injak di sawah. Itu tidak benar sama sekali. Di lokasi ada saksi yang melihat langsung kejadian sebenarnya,” katanya.
Berawal dari Sapi Perusak Padi
Menurut Ferdin, konflik itu bermula dari persoalan lama yang selama ini dikeluhkan petani di wilayah Pomabala, yakni ternak sapi yang dibiarkan berkeliaran dan merusak tanaman padi.
Ia mengaku hampir setiap malam tanaman padinya menjadi sasaran ternak yang masuk ke sawah.
Merasa dirugikan, Ferdin kemudian membuat perangkap untuk mengetahui siapa pemilik sapi yang sering merusak tanaman tersebut.
Usahanya membuahkan hasil. Pada Sabtu dini hari (14/3/2026), sapi yang selama ini merusak padi miliknya akhirnya masuk ke dalam perangkap.
Ferdin lalu memanggil Tobias ke rumahnya dan mengajaknya ke lokasi untuk melihat langsung sapi tersebut serta kondisi tanaman padi yang telah rusak.
“Di lokasi Om Tobias mengakui bahwa sapi itu memang miliknya,” ujar Ferdin.
Namun bukan hanya sapi milik Tobias yang masuk perangkap. Seekor sapi milik Kepala Desa Labolewa, Valens Nusa, juga ikut terperangkap.
Sindir Kepala Desa
Di lokasi kejadian, Ferdin mengaku hanya menyampaikan kritik keras kepada pemilik ternak, termasuk kepala desa, agar lebih bertanggung jawab terhadap ternaknya.
“Sebagai kepala desa seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat. Jangan biarkan ternak berkeliaran merusak tanaman petani,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah daerah sebenarnya telah memiliki aturan mengenai penertiban ternak.
“Sudah ada Perda soal penertiban ternak. Tolong jalankan aturan itu, apalagi saat musim hujan ketika petani mulai menanam,” tegasnya.
Tidak Tuntut Ganti Rugi
Meski tanaman padinya rusak, Ferdin mengaku tidak menuntut ganti rugi maupun memberikan sanksi kepada pemilik ternak.
Sebagai bentuk penyelesaian, ia hanya meminta Tobias membawa seekor anak ayam dan kelapa merah untuk melakukan ritual adat Keta Ja sebagai bentuk permohonan maaf terhadap kerusakan tanaman.
“Ini tradisi yang diwariskan leluhur kami. Kalau tanaman rusak, kita harus melakukan ritual agar hasil kerja keras petani tidak sia-sia,” jelasnya.
Menurut Ferdin, Tobias menyetujui permintaan tersebut dan mereka sepakat melakukan ritual bersama di lokasi kejadian. “Saya pikir persoalan ini sudah selesai. Kami sudah saling memaafkan,” ujarnya.
Soroti Konflik Kepentingan
Ferdin juga menyoroti pemberitaan yang menurutnya tidak berimbang. Ia bahkan mengungkap bahwa jurnalis yang menulis berita tersebut, Gebi Rata, memiliki hubungan keluarga dengan Kepala Desa Labolewa.
“Kalau benar seorang jurnalis, seharusnya profesional dan melakukan verifikasi di lapangan. Jangan hanya menulis dari satu sisi,” katanya.
Ferdin menegaskan bahwa pemberitaan yang tidak berimbang berpotensi memprovokasi masyarakat dan memperkeruh persoalan yang sebenarnya telah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Saya ini justru korban. Padi saya dimakan ternak, tetapi sekarang malah saya yang disalahkan,” ujarnya.
Ia berharap setiap jurnalis tetap memegang teguh kode etik jurnalistik dengan menyajikan berita yang jujur, terverifikasi, dan berimbang.
“Profesionalisme jurnalis itu ada pada kejujuran dan keberimbangan dalam menyajikan fakta,” pungkasnya.
(James)

Social Header