pameran seni rupa bertajuk 10 + 1 garis, cahaya, dan jiwa mempertemukan sebelas perupa yang memilih jalan kesetiaan pada goresan garis, pijaran cahaya, dan kedalaman jiwa. di tengah pesatnya perkembangan seni kontemporer yang kerap mendefinisikan ulang batas-batas ekspresi, para perupa yang terlibat dalam pameran ini yaitu Admadi Mulya, Andreanus Gunawan, Bambang Sugiarto, Didik HP, Hamid Nabhan, Henry Siswanto, I Ketut Gede Susila W., Katrina Agatha, Pinardi, Shodiq Indo, hingga Yosa Andika, menghadirkan sebuah kesadaran penting tentang akar keindahan yang abadi.
sering kali ada pandangan yang keliru bahwa realisme dan impresionisme adalah gaya yang terpinggirkan oleh arus zaman. padahal, realisme dan impresionisme sesungguhnya adalah fondasi dasar dari perjalanan seni rupa itu sendiri, termasuk seni kontemporer hari ini.
kebebasan konseptual dan eksperimen seni masa kini berdiri di atas landasan pemahaman bentuk, kepekaan warna, serta keahlian menangkap momen yang telah ditradisikan oleh realisme dan impresionisme. tanpa fondasi tersebut, eksplorasi seni akan kehilangan pijakan estetiknya.
pameran yang berlangsung selama sembilan hari, mulai tanggal 31 oktober hingga 8 november 2026 di galeri dks (dewan kesenian surabaya), kompleks balai pemuda, jalan gubernur suryo no:15, surabaya, dan dibuka oleh Amang Mawardi ini menjadi ruang pembuktian bahwa karya-karya realis dan impresionis bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan denyut keindahan yang terus hidup dan diminati.
kejujuran realisme dalam merekam objek serta kelincahan impresionisme dalam menangkap atmosfer cahaya senantiasa memiliki daya pikat universal yang menyentuh nurani penikmatnya. pameran ini menjadi bukti nyata bahwa seni yang berakar kuat pada garis, cahaya, dan jiwa tidak akan pernah usang, melainkan terus relevan dan menjawab tantangan zaman.

Social Header