Di sudut kota Cirebon pada awal abad ke-20, lahir seorang anak laki-laki keturunan Arab bernama Said Abdullah Bamuzaham. Ia tumbuh membawa takdir yang kelak mengukir sejarah besar dalam khazanah seni dan pergerakan nasional Indonesia.
Masa muda Said Abdullah Bamuzaham sejatinya dipenuhi impian menuju dunia sinematografi. Ia tidak pernah bercita-cita menjadi seorang biduan atau pemetik instrumen, melainkan berangan-angan menjadi sutradara dan pemain film. Untuk mendekati mimpinya, Said Abdullah Bamuzaham rela bekerja sebagai pemutar film di riuhnya Pasar Malam Varia Surabaya.
Namun, langkah di dunia proyektor itu terhenti pada tahun 1926 karena rasa hormat dan baktinya kepada sang ibunda yang tidak menyukai pekerjaan tersebut. Said Abdullah Bamuzaham kemudian memilih mengikut pamannya bekerja di perusahaan pelayaran Belanda sebagai mandor kapal.
Siapa sangka, di atas geladak kapal yang diterjang ombak, alunan keroncong yang dimainkan para pelaut menembus relung hatinya. Terpesona oleh suara biola yang mendayu-dayu, Said mulai mempelajari instrumen tersebut. Hanya dalam waktu tiga bulan, jemarinya sudah lincah menari di atas dawai biola.
Panggilan musik begitu kuat hingga ia memutuskan berhenti dari pelayaran dan bergabung dengan klub musik keroncong Nachtegaal.
Di klub Nachtegaal, Said Abdullah Bamuzaham tidak cepat puas hanya menjadi pemusik biola. Ia mengolah vokal secara mandiri dengan tekun hingga berhasil menjadi biduan utama.
Keberanian dan keseriusannya terbukti saat Said merebut juara ketiga pada kompetisi keroncong di Pasar Malam Surabaya tahun 1929. Tak lama setelah itu, ia mendirikan grup musiknya sendiri yang diberi nama Tovido.
Bersama Tovido, kiprah Said Abdullah Bamuzaham kian meroket hingga berhasil menyabet juara pertama dalam ajang kompetisi keroncong. Antara tahun 1930 hingga 1933, namanya menjadi perbincangan hangat di seantero negeri. Suara merdunya mulai direkam dalam piringan hitam dan bergema dari radio-radio kota hingga pelosok desa. Bahkan, ketika komedian ternama dunia Charlie Chaplin berkunjung ke Surabaya pada tahun 1932, ia jatuh hati pada lagu "Si Meta Setan" karya Said Abdullah Bamuzaham dan menemui sang maestro secara langsung.
Di tengah puncak kariernya, Said Abdullah Bamuzaham dihantam duka mendalam atas kepergian ibu dan istrinya dalam waktu yang berdekatan. Rasa kehilangan yang amat sangat itu dituangkannya ke dalam lagu legendaris "Oh! Iboe" yang dirilis pada tahun 1935.
Langkah musiknya semakin kokoh saat dikontrak oleh perusahaan rekaman His Master's Voice (HMV) dan karyanya rutin mengudara di radio NIROM. Bersama dua maestro lainnya, Kusbini dan Kusbandi, Said Abdullah Bamuzaham memberikan kontribusi monumental bagi bangsa dengan meramu, merekonstruksi, serta membakukan struktur musik keroncong asli atau keroncong moreska.
Dedikasi inilah yang mengukuhkan dirinya sebagai Bapak Musik Keroncong Indonesia.
Ketika gelombang nasionalisme bertiup kian kencang, Said Abdullah Bamuzaham tidak tinggal diam di dalam menara gading kesenian. Ia bergabung dengan Partai Arab Indonesia (PAI) yang didirikan oleh A.R. Baswedan pada tahun 1934. Melalui perjuangan PAI, Said Abdullah Bamuzaham menyumbangkan suara emasnya untuk menyanyikan Mars PAI yang liriknya ditulis oleh A.R. Baswedan dan iramanya digubah oleh Oemar Baraja.
Rekaman piringan hitam lagu tersebut diproduksi oleh Canary Record di Shanghai pada tahun 1936.
Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda melarang keras lagu "Indonesia Raya" untuk diperdengarkan. Situasi ini membuat Mars PAI yang dibawakan oleh Said Abdullah Bamuzaham meluas dengan cepat dan dinyanyikan oleh rakyat di berbagai pelosok daerah sebagai simbol menggelorakan semangat perlawanan.
Liriknya yang bernas dan sarat pesan nasionalisme membuat pemerintah kolonial gentar. Hindia Belanda kemudian secara resmi melarang penyebaran lagu tersebut dan menyita piringan-piringan hitamnya dari pasaran. Meski demikian, keberanian para anggota PAI di Surabaya berhasil menyelamatkan salah satu salinan piringan hitam berharga itu dari jangkauan penguasa kolonial.
Hingga akhir hayatnya pada Juni 1941 di kota kelahirannya Cirebon, Said Abdullah Bamuzaham telah meninggalkan warisan yang amat berharga. Tidak hanya membakukan fondasi musik keroncong modern Indonesia, lagu keroncong populer "Terang Bulan" yang pernah direkam dan dipopulerkan olehnya terus melintasi batas zaman dan samudra, hingga kelak melodinya mengilhami lahirnya lagu kebangsaan Malaysia, "Negaraku".
Nama Said Abdullah Bamuzaham tetap abadi sebagai seniman pergerakan dan pejuang budaya yang senjatanya adalah nada dan piringan hitam.
Daftar Pustaka:
-Hayaze, Nabiel A. Karim. (2021). Mendendang Gambus Memeluk Indonesia: Legenda Seniman Musik Indonesia Keturunan Arab. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca.
-Kurniawan, Hasan. (2025, 17 Februari). S. Abdullah: Bapak Musik Keroncong Indonesia, Aktivis Keturunan Arab yang Lagunya Dilarang Belanda.
Harian Massa.
-Arsip & Koleksi Digital Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI).
-Catatan Sejarah Perkembangan Musik Keroncong Moreska dan Piringan Hitam Era Hindia Belanda.
-Dokumentasi Sejarah Partai Arab Indonesia (PAI). Catatan Perjuangan A.R. Baswedan dan Peran Seni dalam Pergerakan Nasional (1934–1939).

Social Header