Pada paruh kedua abad ke-19, lanskap politik di kawasan dunia Islam Melayu yang meliputi Hindia Belanda, Malaya, dan Singapura berada sepenuhnya di bawah cengkeraman kekuasaan kolonial Barat. Di tengah sistem birokrasi dan pengawasan ketat yang diterapkan oleh pemerintah kolonial seperti Belanda dan Inggris, masyarakat pribumi dan komunitas muslim menghadapi tekanan yang berlapis-lapis, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun politik.
Situasi yang menindas ini menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya sebuah ikatan solidaritas yang melampaui batas-batas teritorial yang dikendalikan oleh kekuatan imperium Eropa. Di sinilah figur-figur kunci dari kalangan diaspora Hadramaut mengambil peran strategis sebagai jembatan penghubung, di mana salah satu tokoh paling terkemuka dalam sejarah percaturan diplomasi lintas benua tersebut adalah Habib Abdurrahman Az-Zahir (1832–1896).
Sebagai seorang ulama sekaligus tokoh pergerakan yang memiliki mobilitas tinggi di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah, Habib Abdurrahman Az-Zahir mampu membaca dengan jeli celah-celah geopolitik pada masanya. Ketika gelombang perlawanan lokal terhadap kolonialisme berkobar, seperti kecamuk Perang Aceh, ia tampil tidak hanya sebagai penggerak moral, tetapi juga sebagai seorang diplomat yang membawa aspirasi serta penderitaan umat Islam Nusantara ke panggung internasional.
Bagi masyarakat di Hindia Belanda dan sekitarnya, Kesultanan Utsmaniyah di Istanbul dipandang sebagai satu-satunya pusat kekhalifahan Islam yang dapat menjadi tumpuan harapan, pelindung spiritual, serta simbol perlawanan terhadap hegemoni imperialisme Barat. Perjalanan dan misi yang diemban oleh Az-Zahir merupakan upaya nyata untuk menyambungkan suara tertindas dari dunia Melayu agar didengar langsung oleh Sang Sultan di Istanbul.
Selain memperjuangkan kepentingan politis dan perlawanan terhadap kolonialisme, peran Habib Abdurrahman Az-Zahir juga sangat krusial dalam memperkuat jaringan perlindungan hukum bagi komunitas diaspora Hadramaut di kawasan urban seperti Singapura dan Batavia. Pada masa itu, banyak tokoh dan saudagar Arab yang berupaya mendapatkan status resmi sebagai subjek atau warga negara Utsmaniyah agar memperoleh proteksi diplomatik dari kesewenang-wenangan hukum kolonial Barat.
Keberadaan Az-Zahir di tengah-tengah arus jejaring tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan kultural, keagamaan, dan administratif antara dunia Islam Melayu dan pusat kekhalifahan Utsmaniyah tetap terjalin erat meskipun dibatasi oleh jarak geografis yang sangat jauh. Melalui keteguhan sikap dan keberanian diplomasinya, Habib Abdurrahman Az-Zahir berhasil mengukir sejarah penting sebagai tokoh sentral yang merajut persatuan dan komunikasi antara umat Islam Nusantara dan Istanbul di tengah badai kolonialisme abad ke-19.
(Disarikan dari: Tekin, Alaeddin, dan Alwi Alatas. "Hadramis as Ottoman Subjects in Singapore and Batavia." Studies on the Relations between the Ottoman Empire and Southeast Asia, hlm. 173–208)

Social Header