Sejarah kerap kali melompat langsung pada garis-garis besar tanpa menceritakan simpul-simpul penting yang menghubungkan satu babak dengan babak lainnya. Dalam pusaran riwayat Kesultanan Kadriah Pontianak, masyarakat sering kali hanya mengenal Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai sang pendiri, atau cucunya di era kemerdekaan, Sultan Hamid II.
Namun, di antara dua rentang masa tersebut, terdapat seorang tokoh penting bernama Pangeran Syarif Hamid bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang kerap disalahartikan dan dicampuradukkan dengan cucunya. Pangeran Syarif Hamid adalah putra langsung dari pendiri Kesultanan Pontianak, lahir sekitar tahun 1790, yang memilih jalan perjuangan, perniagaan bahari, serta dakwah di tengah masyarakat luas.
Karena garis ibunya bukan berasal dari kalangan bangsawan utama, ia tidak menempati singgasana kesultanan, melainkan mendedikasikan hidupnya untuk menentang kebijakan kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Sikap tegas dan penolakannya terhadap cengkeraman kekuasaan asing membuat pemerintah kolonial menangkap dan mengasingkannya bersama sekitar 180 pengikut ke Batavia pada kurun waktu 1823 hingga 1825.
Di tanah pengasingan, ia menetap di kawasan Angke, sebuah wilayah persimpangan budaya tempat berhimpunnya masyarakat Betawi, Banten, Melayu, hingga keturunan Arab, dan dihormati sebagai panutan serta ulama.
Pangeran Syarif Hamid wafat pada tahun 1274 Hijriah atau 1854 Masehi dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan tepat di depan Masjid Jami' Angke atau Masjid Al-Anwar di Tambora, Jakarta Barat. Kompleks makam yang berada di dalam bangunan cungkup beratap perisai dengan kelambu kuning keemasan ini hingga kini senantiasa dizirahi masyarakat, khususnya pada malam Kamis dan saat peringatan haul satu hari setelah Idul Adha. Keberadaannya berdampingan dengan makam-makam tokoh lain seperti Ratu Pembayun Fatimah dari Banten dan Syaikh Liong Tan, sang arsitek masjid, menjadi lambang pertautan sejarah yang erat antara Pontianak, Banten, dan Batavia.
Eksistensi historis Pangeran Syarif Hamid juga diabadikan secara visual oleh pelukis maestro bangsa, Raden Saleh, melalui lukisan potret berjudul Portrait of Pangeran Sjarif Alkadri yang tersimpan di Tropen Museum Amsterdam. Menelusuri kembali riwayat Pangeran Syarif Hamid di tepian Kali Angke bukan sekadar meluruskan catatan silsilah keluarga besar Alkadrie, melainkan mengenang keteguhan seorang putra pendiri bangsa yang mewariskan api perjuangan, cinta tanah air, dan keteguhan iman yang melintasi zaman.

Social Header