Nama Muhammad Ridwan Mashabi, atau yang lebih akrab disapa sehari-hari dengan panggilan Mamat, dengan "Mashabi" sebagai nama keluarga, merupakan salah satu sosok paling monumental dalam sejarah perkembangan musik populer di Indonesia.
Lahir dan dibesarkan di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dari darah keturunan Arab dan budaya Betawi yang kental, ia adalah seorang penyanyi sekaligus penulis lagu jenius yang aktif pada era 1950-an hingga 1960-an. Di tangannya, musik Orkes Melayu mengalami metamorfosis besar yang menjadi fondasi utama lahirnya genre dangdut Indonesia.
Terlahir sebagai putra kedua dari 14 bersaudara dari pasangan Salim Mashabi dan Salamah Mashabi, bakat seni Mashabi mengalir langsung dari sang ayah yang merupakan seorang pemusik andal dalam Orkes Melayu al-Wardah. Lingkungan perkampungan Betawi-Arab di Tanah Abang mengasah sensitivitas bermusiknya, menghasilkan karya-karya yang sarat dengan penghayatan emosional, lirik puitis yang menyayat hati, serta cengkok vokal ratapan yang begitu khas.
Puncak kreativitas Mashabi terukir saat ia bergabung dengan Orkes Melayu (OM) Kelana Ria. Bersama rekan-rekan sejawatnya seperti Husein Bawafie dan Munif Bahasuan, ia membidani revolusi besar terhadap Orkes Melayu Deli tradisional. Mereka meninggalkan instrumen tradisional seperti gong, mempercepat tempo serta ritme menjadi lebih dinamis, dan mengubah struktur lirik lama yang kaku dari bentuk pantun atau syair menjadi tema-tema percintaan, renungan, serta realitas sosial perkotaan.
Dalam perjalanan kariernya, Mashabi juga sempat berkolaborasi dengan penyanyi ternama pada masanya, seperti Ellya yang dijuluki Si Boneka dari India dan Johana Satar.
Meski masa kariernya tergolong singkat dengan menciptakan karya yang tidak sampai 20 lagu, setiap rekaman suaranya memiliki daya tahan yang luar biasa. Lagu-lagu bertema ratapan dan renungan karyanya diabadikan ulang oleh musisi lintas era, mulai dari M. Ireng Mashabi, Muchsin Alatas, A. Rafiq, Meggy Z, Mansyur S., Emilia Contessa, Titiek Sandhora, Caca Handika, G4ul, Amriz Arifin, hingga Iis Dahlia.
Beberapa karya emasnya yang melegenda meliputi Harapan Hampa, Renungkanlah, Ratapan Anak Tiri yang awalnya berjudul Keluhan Anak Tiri dan diadaptasi menjadi film layar lebar legendaris tahun 1973, Kesunyian Jiwa, Untuk Bungamu, Hilang Tak Berkesan atau Hilang Tak Memena, Jangan Mengharap, Ketjewa, Belas Kasih, Penggoda Jiwa, serta Peristiwa Lama.
M. Mashabi berpulang di usia yang masih sangat muda, yaitu di kisaran usia 30-an tahun antara tahun 1963 hingga 1967. Meski perjalanannya terhenti lebih cepat, warisan seninya terlampau besar untuk diabaikan. Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi besarnya terhadap kebudayaan Betawi dan musik tanah air, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan pada 20 Juni 2022 secara resmi mengabadikan namanya menjadi Jalan M. Mashabi, menggantikan Jalan Kebon Kacang Raya Sisi Utara di jantung tanah kelahirannya sendiri di Tanah Abang.

Social Header