Pada masa-masa awal lahirnya Republik Indonesia (1945–1947), jalan panjang menuju pengakuan kedaulatan di kancah internasional dipenuhi tantangan yang teramat berat. Di tengah upaya militer dan diplomasi blok sekutu serta cengkeraman blokade ekonomi Belanda yang berusaha mengisolasi bangsa yang baru merdeka ini, sebagian besar dunia internasional masih memilih membisu.
Namun, di tengah heningnya dunia, secercah harapan besar dan gelombang dukungan justru bertiup hangat dari kawasan Timur Tengah. Liga Arab bersama Mesir, Arab Saudi, serta simpati mendalam masyarakat Arab membentangkan tangan untuk menguatkan langkah Indonesia.
Kisah diplomasi bersejarah ini tidak lepas dari sosok Sekretaris Jenderal Liga Arab pertama, Abdurrahman Azzam Pasya. Dalam catatan narasi sejarah, digambarkan bagaimana Azzam Pasya duduk di depan meja kerjanya, menatap lamat-lamat peta dunia untuk mencari letak sebuah negeri bernama Indonesia. Meski kala itu nama Indonesia belum banyak terukir di peta-peta buatan Barat, gema perjuangan Sukarno dan Hatta dalam mempertahankan kemerdekaan telah mengetuk nurani kemanusiaan dan ikatan persaudaraan di tanah Arab.
Azzam Pasya tak tinggal diam. Ia menghimpun laporan berkala dari para mahasiswa Indonesia di Kairo serta menggalang data perlawanan rakyat Indonesia, yang saat itu berpenduduk sekitar 70 juta jiwa, untuk dibawa ke meja diplomasi. Langkah ini berlanjut pada lobi-lobi tingkat tinggi. Azzam menemui para pemimpin negara-negara Arab, di antaranya Raja Farouk dari Mesir serta Raja Abdul Aziz as-Saud dari Arab Saudi.
Sikap hangat dan tegas ditunjukkan para pemimpin tersebut. Raja Farouk memberikan persetujuan agar Mesir membantu Indonesia, seraya menitipkan pesan mendalam agar kelak ketika Indonesia berdiri tegak, bangsa ini tidak melupakan sejarah dan ikut membebaskan bangsa-bangsa lain yang masih terjajah.
Sementara itu, dalam pertemuannya di Mesir pada 16 Januari 1946, Raja Abdul Aziz as-Saud menegaskan komitmen penuh Kerajaan Arab Saudi untuk berdiri di samping bangsa Indonesia. Terciptalah kesepakatan pembagian peran yang konkret yaitu Mesir bertanggung jawab atas dukungan logistik senjata, sedangkan Arab Saudi menanggung seluruh biaya pengangkutannya.
Dukungan Liga Arab tidak berhenti pada kesepakatan di atas kertas. Ketika berita perjuangan Indonesia kian bergelora di media-media Kairo, Azzam Pasya melayangkan gertakan diplomasi yang berani kepada Pemerintah Inggris. Ia menegaskan agar Inggris tidak membantu Belanda dalam aksi fisiknya. Apabila peringatan itu diabaikan, Liga Arab menyatakan tidak akan ragu menyerukan pengiriman sukarelawan perang dari negara-negara Arab untuk bertempur bersama pejuang Republik.
Puncak dari penggalangan dukungan ini terwujud pada Sidang Pleno Liga Arab di Istana Qasr Za'faran, Kairo, di penghujung tahun 1946. Dalam momen yang sangat bersejarah, pimpinan sidang Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasya membacakan sepucuk surat dari Panitia Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia di hadapan para delegasi Arab. Sidang tersebut akhirnya melahirkan resolusi resmi yang merekomendasikan seluruh negara anggota Liga Arab untuk secara kolektif mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Gelombang Pengakuan Kedaulatan Pertama
Buah dari keteguhan Liga Arab, gerakan mahasiswa Indonesia, serta dukungan tokoh-tokoh masyarakat Arab adalah terbukanya pintu pengakuan kedaulatan internasional. Negara-negara Arab menjadi kelompok bangsa pertama di dunia yang secara resmi mengakui keberadaan Republik Indonesia.
Mesir: Menjadi pelopor dengan memberikan pengakuan de facto pada 22 Maret 1946, yang kemudian diperkuat melalui Perjanjian Persahabatan pada 10 Juni 1947.
Suriah: Menyampaikan pengakuan resminya pada 2 Juli 1947.
Sedang Lebanon: Memberikan pengakuan kedaulatan pada 29 Juni 1947,
Arab Saudi: Secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada 21 November 1947. Sedang
Yaman: Memberikan pengakuan kedaulatan pada 20 November 1947.
Sebagai wujud nyata persaudaraan tersebut, perwakilan Liga Arab, M. Abdul Mun'im, bahkan nekat menembus ketatnya blokade militer Belanda untuk menyusup masuk ke wilayah Indonesia. Kehadirannya secara langsung membawakan pesan singkat namun membakar semangat: "Negeri Ini Tidak Sendiri, Bung!"
Renungan Sejarah
Dukungan tanpa pamflet pamit dari Liga Arab dan bangsa Arab di awal kemerdekaan Indonesia bukanlah sekadar transaksi politik antar-negara. Ia adalah manifestasi dari persaudaraan yang melintasi batas geografis, didorong oleh ikatan keagamaan, nilai-nilai kemanusiaan, serta semangat bersama menentang segala bentuk penjajahan.
Di saat pintu-pintu diplomasi dunia Barat tertutup rapat, bisikan dan langkah nyata dari Timur Tengah hadir membukakan jalan. Sebuah warisan sejarah yang patut dirawat dan diingat, bahwa kemerdekaan Indonesia berdiri kokoh juga berkat uluran tangan sahabat-sahabat yang tidak membiarkan Republik ini berjuang sendirian.
Sumber Rujukan:
-Lesus, Rizki. (2017). Perjuangan yang Dilupakan. Yogyakarta: Pro-U Media.
-Kompas.com, Peran Liga Arab terhadap Pengakuan Kemerdekaan Indonesia.
-Dokumen & Arsip Sejarah Diplomasi Republik Indonesia di Timur Tengah.

Social Header