Breaking News

Membangun Profesionalisme Drumband Al-Irsyad di Tengah Arus Politik 1960-an ​Oleh: Hamid Nabhan

   ​Memasuki paruh pertama dekade 1960-an, lanskap sosial dan kebudayaan di Indonesia diwarnai oleh dinamika politik yang sangat pekat. Berbagai kekuatan ideologis berlomba-lomba menanamkan pengaruhnya di tengah masyarakat, tak terkecuali di kota-kota besar seperti Surabaya.

   Pada masa itu, propaganda kebudayaan dan kesenian digencarkan secara masif oleh Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat untuk merangkul kaum muda. Berbagai kelompok kesenian, korps musik, hingga sanggar seni rupa dan tari yang berada di bawah payung lembaga tersebut tumbuh dan menggema di berbagai sudut kota.

   Gelombang pengaruh ini menarik perhatian luas, termasuk kalangan remaja dan pemuda dari komunitas Al-Irsyad yang kerap antusias menyaksikan serta ikut berlatih di ruang-ruang publik.

​Melihat gelagat pergerakan tersebut, para sesepuh, pengurus, dan aktivis Al-Irsyad tidak tinggal diam. Dengan kepekaan membaca situasi politik dan sosial yang tajam, mereka menyadari bahwa gelombang propaganda kultural berpotensi menarik generasi muda ke dalam arus polarisasi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai keagamaan dan kepribadian yang ingin dibina. 

   Di internal organisasi, perdebatan sempat mengemuka mengenai bagaimana menyikapi antusiasme pemuda yang telanjur terpikat oleh semaraknya aktivitas seni, pameran rupa, dan barisan musik di luar sana. Namun, para tokoh sepuh sepakat pada satu kesimpulan yang jernih yaitu energi, semangat, dan minat besar para pemuda tidak boleh dilarang secara kaku, melainkan harus diselamatkan dan diwadahi secara positif.

   ​Langkah taktis dan strategis pun segera diambil. Alih-alih membiarkan generasi muda terombang-ambing oleh arus luar, para pengurus memutuskan untuk memprofesionalkan wadah pembinaan kesenian di lingkungan internal. Cikal bakal barisan kepanduan yang sebelumnya telah memiliki tradisi kuat berupa permainan seruling bambu mulai ditata ulang secara serius. Korps musik dikelola dengan standar disiplin yang tinggi, memiliki struktur organisasi yang jelas, serta pola pelatihan yang terstruktur layaknya korps musik profesional. 

   Keputusan berani ini bukan sekadar upaya menghidupkan hobi bermusik, melainkan sebuah strategi pertahanan kultural yang sangat efektif untuk melindungi akidah dan karakter generasi muda.

​Dalam perjalanannya, keputusan untuk mendirikan korps drumband secara profesional ini melampaui tujuan awalnya sebagai benteng penyelamatan. Wadah pembinaan yang solid tersebut bertransformasi menjadi kawah candradimuka yang melahirkan prestasi-prestasi gemilang di kancah regional hingga nasional. 

   Para pemuda yang sebelumnya dikhawatirkan terseret arus luar justru menemukan ruang aktualisasi diri yang membakar semangat, menorehkan tinta emas di berbagai panggung kenegaraan, dan membuktikan bahwa keteguhan prinsip yang dipadukan dengan profesionalisme seni mampu melahirkan sebuah legasi abadi yang melintasi berbagai zaman.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id