Sejarah kolonial kerap kali hadir dalam wujud catatan politik, statistik ekonomi, atau laporan militer yang kering dan kaku. Namun, di balik angka-angka dan narasi besar kekuasaan imperial tersebut, terdapat ruang-ruang batin, memori, dan kehidupan sehari-hari yang luput dari jangkauan arsip resmi. Di sinilah karya-karya Maria Dermout menemukan urgensinya.
Maria Dermout lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 15 Juni 1888 dari keluarga pengelola pabrik gula, Dermout menghabiskan masa kecilnya di lingkungan perkebunan tebu. Pengalaman masa kecil yang akrab dengan alam tropis dan dongeng-dongeng dari para pengasuh pribumi membentuk kepekaan indrawi yang khas, menjadikannya seorang sohibul hikayat atau pendongeng yang memegang erat nilai-nilai humanisme.
Kehidupan awal Dermout sempat membawanya menempuh pendidikan dan tinggal di negeri Belanda saat usia remaja. Namun, benua Eropa itu hanya menjadi batu lompatan sebelum ia kembali ke tanah air bersama suaminya.
Perjalanan panjang berkeliling Nusantara, mulai dari Jawa, Sulawesi, hingga Maluku, memberikannya kekayaan inspirasi dan gagasan yang mendalam. Dari sinilah ia merekam denyut kehidupan masyarakat, tradisi lokal, hingga lanskap alam yang memukau.
Berbeda dari kebanyakan orang Eropa sezamannya, pengalaman langsung di lapangan meruntuhkan didikan kolonial yang kaku, menumbuhkan kesadaran bahwa ia adalah bagian dari dunia yang lebih luas dan humanis.
Titik balik paling menakjubkan dalam hidup Dermout terjadi ketika ia mulai menulis dan menerbitkan karya-karyanya di usia senja, yaitu pada dekade 1950-an di Belanda. Di tengah kepedihan batin setelah kehilangan anak laki-lakinya, Hans, yang tewas di kamp interniran Jepang pada tahun 1945, serta tersingkirnya komunitas Eropa akibat proses dekolonisasi dan kemerdekaan Indonesia, menulis menjadi medium baginya untuk merebut kembali ruang hidup yang hilang.
Debut pertamanya, Nog pas gisteren (Only Yesterday), terbit pada tahun 1951 saat usianya menginjak 63 tahun. Disusul kemudian oleh mahakaryanya yang paling monumental, De tienduizend dingen (The Ten Thousand Things) pada tahun 1955.
Novel The Ten Thousand Things menceritakan kehidupan Felicia, seorang nyonya Belanda pemilik perkebunan di sebuah pulau di Maluku yang hidup ditemani para pelayan pribumi, serta kepedihan mendalam ketika anak tunggalnya tewas dalam operasi militer di Pulau Seram.
Melalui buku ini, Dermout memadukan realitas alam tropis dengan filosofi Timur yang melihat manusia sebagai bagian kecil dari puluhan ribu unsur alam semesta. Buku ini meledak di kancah internasional, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, dan pada tahun 1958 dinobatkan oleh majalah Time sebagai salah satu buku terbaik tahun itu, bersanding sejajar dengan karya-karya besar dunia.
Kendati demikian, penerimaan atas karya-karya Dermout tidak lepas dari perdebatan kritis di ranah pascakolonial.
Di satu sisi, para pengamat seperti Rob Nieuwenhuys memandangnya sebagai sosok penulis Hindia-Belanda yang sangat berakar pada cara hidup dan napas pribumi, bukan sekadar penulis kolonial biasa. Di sisi lain, kritikus seperti Paul Doolan melihat bahwa Dermout tetap berdiri dalam posisi seorang perempuan kulit putih dengan segala privilese kelas penguasanya. Narasi mengenai konflik di Pulau Seram atau kepemilikan perkebunan selama lima generasi memperlihatkan bagaimana bayang-bayang kuasa kolonial tetap melekat dalam sudut pandangnya.
Meskipun demikian, melalui kacamata Maria Dermout, kita diajak untuk membaca ulang Hindia Belanda bukan sebagai entitas kekuasaan yang abstrak, melainkan sebagai teater kemanusiaan yang penuh dengan memori, keindahan, sekaligus ironi sejarah. Ia berhasil merajut nostalgia yang hilang menjadi warisan sastra abadi, mengingatkan kita bahwa di balik retaknya sebuah imperium, selalu ada kisah tentang manusia, alam, dan kehilangan yang universal.
Maria Dermoût wafat di Noordwijk, Belanda, pada 27 Juni 1962 dalam usia 74 tahun, meninggalkan warisan sebagai seorang pendongeng besar dari Hindia-Belanda yang suaranya terus bergema melintasi batas zaman.

Social Header