Sejarah acap kali ditulis oleh pihak yang memenangkan kekuasaan, dan dalam lembaran Perang Aceh, arsip kolonial Belanda kerap kali meninggalkan bias narasi yang dirancang untuk merusak reputasi para pejuang di Hindia-Belanda. Salah satu tokoh yang tak luput dari sasaran pembunuhan karakter (character assassination) tersebut adalah Habib ‘Abdurrahman az-Zahir, sosok ulama, negarawan kosmopolitan, arsitek diplomasi global, sekaligus komandan gerilya yang memiliki peran teramat krusial dalam sejarah perlawanan Aceh abad ke-19.
Hingga kini, narasi sejarah sering kali terbelah. Di satu sisi, sejarawan terkemuka Australia, Anthony Reid, mencatat bahwa Habib Abdurrahman Az- Zahir adalah "orang yang paling mengkhawatirkan bagi Belanda" dan pemimpin militer terbesar yang mampu menggerakkan perlawanan kolosal rakyat Aceh. Namun di sisi lain, muncul narasi miring warisan kolonial yang menuding bahwa langkah diplomasi maupun akhir hayat beliau diwarnai "kompromi" atau penerimaan dana pensiun.
Padahal, jika kita menelaah dokumen sejarah, riset akademis, catatan kesaksian keluarga, hingga klarifikasi tegas dari Lembaga Asyraf Aceh, tampak jelas bahwa berbagai stigma negatif tersebut tak lebih dari propaganda hitam (black propaganda) penjajah untuk melucuti legitimasi moral perjuangan rakyat Aceh.
Lahir di Tarim, Hadhramaut pada 1832, Habib ‘Abdurrahman bin Muhammad Az-Zahir dibekali pendidikan global. Ia menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo di bawah bimbingan Syaikh Syamsuddin Al-Anbabi dan Syaikh Ibrahim al-Bajuri, serta mendalami fiqih di Makkah kepada Mufti Besar Ahmad Zayni Dahlan. Sebelum tiba di Aceh pada 1864, ia telah melanglang buana ke berbagai belahan dunia termasuk India, Turki, Eropa, dan sempat bekerja di Johor.
Setibanya di Aceh, di tengah kondisi istana dan para huluubalang yang terpecah akibat perseteruan puluhan tahun, Habib Abdurrahman hadir sebagai pemersatu. Sebagaimana dicatat Anthony Reid, ia menggunakan kewibawaan keagamaannya untuk menyatukan elit Aceh, menghimpun dana besar, mendirikan kekuatan militer mandiri, serta diangkat oleh Sultan Ibrahim Mansyur Syah sebagai Perdana Menteri (Mudabbir al-Muluk), Menteri Luar Negeri, sekaligus Qadhi Malikul Adil dan Imam Masjid Raya Baiturrahman.
Ketika Perang Aceh meletus tahun 1873, Habib ‘Abdurrahman berada di garis depan, memimpin perlawanan hingga menewaskan jenderal Belanda J.H.R. Kohler. Tidak hanya berjuang di medan fisik, ia juga membangun aliansi internasional dengan Turki Utsmani serta membidani pembentukan Dewan Delapan (Council of Eight) di Penang bersama para tokoh lokal untuk menyelundupkan senjata dan logistik perang.
Ketika pertahanan pesisir terdesak, ia menanggalkan fasilitas istana dan memimpin perang gerilya di hutan belantara Aceh selama lima tahun berturut-turut (1873–1878), membuat militer kolonial frustrasi berat.
Tekanan militer brutal dan blokade ketat membawa situasi pada titik akhir 13 Oktober 1878. Kesaksian langsung yang dituturkan oleh saksi sejarah memperkuat fakta di balik peristiwa ini. Berdasarkan riwayat dari Mudrik bin Husein Zaki bin Ali Shahab yang bersumber langsung dari kakeknya, Ali bin Ahmad Shahab (atau dikenal dengan Habib Ali Menteng), ia pernah bertemu langsung dengan Habib Abdurrahman di kediamannya di Jeddah pada tahun 1890 ketika menunaikan ibadah haji.
Dalam pertemuan tersebut, Habib Abdurrahman memberikan sebuah foto diri berukuran kartu pos lengkap dengan jubah kebesarannya.
Kepada sang kakek, Habib Abdurrahman menceritakan kisah yang sebenarnya. Ketika Belanda mulai kewalahan pada tahun 1878, pihak kolonial mengajukan usulan perdamaian. Habib Abdurrahman kemudian mengumpulkan para panglima bawahannya sebanyak lima orang untuk meminta pendapat apakah usulan damai dari Belanda tersebut harus diteruskan atau ditolak. Hasil pertemuan tersebut menunjukkan bahwa dua orang ingin meneruskan perjuangan, sementara tiga orang lainnya ingin berdamai.
Sebagai seorang asing yang berada di tengah-tengah situasi yang pelik, ia akhirnya terpaksa harus menerima suara terbanyak dari hasil musyawarah tersebut.
Berdasarkan mufakat bersama di antara para panglima perang itulah ia terpaksa menerima tawaran Belanda, dengan syarat-syarat yang mencakup kerelaan untuk dibuang ke Jeddah dan menerima tunjangan hidup.
Fakta sejarah dari saksi langsung ini sekaligus mematahkan anggapan dan tuduhan selama ini yang memojokkan Habib Abdurrahman sebagai pengkhianat.
Penuturan tersebut membuktikan bahwa keputusan berdamai bukanlah karena sogokan pribadi, melainkan hasil musyawarah mufakat para panglima demi mengakhiri penderitaan. Bahkan setelah berada di pembuangan Jeddah, ia tetap menggalang perjalanan diplomasi untuk memohon bantuan ke pemerintahan Turki serta berupaya keras untuk masuk kembali ke Aceh secara diam-diam demi menyokong perjuangan.
Habib ‘Abdurrahman az-Zahir wafat di Jeddah pada 29 Juli 1896 dan dimakamkan di Pemakaman Ummu Hawwa. Ia adalah potret pejuang sejati: seorang ulama besar Al-Azhar, negarawan ulung, pemersatu bangsa, dan panglima yang mewakafkan hidupnya bagi kemerdekaan Aceh.
Menjernihkan nama baiknya dari bayang-bayang propaganda kolonial adalah bentuk tanggung jawab moral kita dalam merawat keadilan sejarah Nusantara.
Daftar Pustaka
-Hayaze’, Nabiel A. Karim. (2021). Hikayat Kapitein Arab di Nusantara: Jejak Dakwah dan Nasionalisme. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca.
-Reid, Anthony. (1972). "Habib Abdur-Rahman Az-Zahir, (1833-1896)". Indonesia, No. 13, hlm. 36–59. Cornell University Press.
Reid, Anthony. (1967).
-"Nineteenth Century Pan Islam". The Journal of Asian Studies, Vol. XXVI, No. 3.
-Al-Gadri, Hamid. (1984). Snouck Hurgronje Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab. Jakarta: Sinar Harapan.
-Syamsu, Muhammad. (1996). Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya. Jakarta: Lentera.
Lembaga Asyraf Aceh. (2024).
-Klarifikasi terhadap Habib Abdurrahman Az-Zahir Dituduh Pengkhianat dalam Perang Aceh-Belanda. Prosiding Seminar & Mini Galeri "Peranan dan Kontribusi Habaib dalam Perang Aceh (1873-1911)". Banda Aceh: Puslatbang KHAN LAN.
-InfoPublik / MC Prov Aceh. (2023). Ulama Mesir Ajak Santri Dayah IQ Teladani Syeh Abdurrahman Az-Zahir (Pernyataan Prof. Usamah Sayyid Al-Azhari).
-Wikipedia / External Archives. Abdurrahman Az-Zahir: Political Biography and Hadhrami Leaders in Aceh.

Social Header