Breaking News

Kisah penerbangan solo Amelia Earhart Oleh: Hamid Nabhan

   ​Keinginan manusia untuk menatap cakrawala selalu melahirkan keberanian yang sulit dijelaskan. Di saat langit malam terasa teramat pekat dan samudra di bawah sana menyembunyikan dingin yang mematikan, selalu ada jiwa-jiwa nekad yang memilih terbang melintasi ketakutan mereka sendiri.

   ​Pada senja 20 Mei 1932, lapangan udara Harbour Grace di Newfoundland terasa begitu lengang. Angin dingin meniup rumput-rumput liar saat sebuah pesawat bersayap tunggal berwarna merah menyala, Lockheed Vega 5B, bersiap membelah udara. Di dalam kokpit yang sempit itu duduk Amelia Earhart, seorang perempuan berambut pendek dengan jaket kulit lusuh. Jaket itu punya sejarahnya sendiri: dulu, ketika baru membeli jaket tersebut demi merayakan penerbangan solonya yang pertama, ia diejek karena kulitnya terlalu baru dan kaku. Tanpa ragu, Amelia mengusap jaket itu dengan oli mesin pesawat dan menggunakannya saat tidur malam agar terlihat lusuh dan berpengalaman.

   ​Jiwa petualangnya telah menempa keberanian itu sejak kecil di Kansas, saat ia bersama adiknya memanjat pohon, mengoleksi katak, hingga meluncur dari atap gudang kayu. Ketika dewasa, setelah membeli pesawat pertama berwarna kuning cerah yang ia juluki The Canary, Amelia pernah mengalami kecelakaan pertamanya saat pesawat tersangkut di dahan pohon Eucalyptus. Di tengah runtuhan pesawat dan bibir yang berdarah, ia dengan tenang mematikan sakelar mesin lalu merapikan riasan wajahnya. "Kita harus terlihat rapi ketika wartawan datang," bisiknya santai.

   Bahkan ketika keterbatasan finansial memaksanya menjual pesawat itu, ia menempuh perjalanan darat 7.000 mil menembus Amerika bersama ibunya mengendarai mobil kuning terang Kissel Speedster yang ia juluki Yellow Peril, menarik perhatian setiap kota kecil yang mereka lewati.

   ​Kini, di atas Samudra Atlantik, seluruh kenangan dan keteguhan jiwa itu diuji kembali. Begitu roda pesawat terangkat dari tanah Newfoundland, daratan perlahan lenyap berganti hamparan air laut yang kelam. Di malam hari, Atlantik bukan sekadar samudra, melainkan ruang sunyi tanpa batas. Hanya ada raungan mesin tunggal Pratt & Whitney yang menjadi satu-satunya kawan bicara.

​Memasuki pertengahan malam, cuaca buruk mulai menyergap. Awan tebal menyelimuti pandangan, memaksa pesawat terombang-ambing di tengah kegelapan total. Suhu udara melonjak turun drastis, menyebabkan es mulai membeku dan memberati sayap pesawat. Ketika es menempel, bobot pesawat bertambah dan gaya angkatnya melorot tajam. 

   Pada saat yang sama, instrumen pengukur ketinggian terkunci mati. Amelia tidak lagi tahu seberapa tinggi ia melayang dari permukaan air laut yang bergolak di bawahnya.

​Dalam kepungan badai es, sebuah bahaya lain muncul dari bagian mesin. Manifes knalpot retak dan menyemburkan lidah api kecil di balik kap mesin. Setiap kali matanya menatap ke luar kokpit, pijar api itu seolah mengancam akan membakar seluruh badan pesawat yang sarat dengan bahan bakar ekstra. Di tengah ketegangan yang memuncak, pilihan untuk balik arah sudah lama tertutup.

   Satu-satunya jalan keluar adalah terus menerus menerobos kegelapan ke arah timur.

​Selama hampir lima belas jam, Amelia bertarung melawan rasa lelah, getaran mesin yang tak stabil, dan kesendirian yang mencekat dada. Ia memandu pesawatnya bukan lagi sekadar dengan angka-angka pada indikator yang rusak, melainkan dengan ketenangan jiwa, naluri, dan keteguhan hati.

   ​Ketika fajar perlahan menyingsing dan membiaskan warna keemasan di balik awan, gulungan badai akhirnya menyurut. Di balik kabut pagi, garis pantai hijau yang membentang mulai terlihat samar. Amelia menuntun pesawat merahnya menuju padang rumput melandai di Derry, Irlandia Utara.

​Saat pesawat itu akhirnya menyentuh tanah dan mendarat dengan selamat di antara kawanan sapi yang sedang merumput, seorang peternak lokal berjalan mendekat dengan keheranan. Ketika ditanya dari mana ia berasal, Amelia hanya tersenyum tipis dan menjawab dengan tenang bahwa ia baru saja terbang menyeberangi Atlantik dari Amerika.

   ​Penerbangan solo itu bukan sekadar rekor kecepatan atau kemenangan teknologi udara. Di balik mesin dan kepakan sayap besi, kisah Amelia Earhart adalah perayaan puitis tentang keberanian manusia, tentang bagaimana seorang perempuan berdiri tegak menatap luasnya langit, menembus badai, dan membuktikan bahwa jiwa manusia diciptakan untuk bebas menembus batas.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id