Di penghujung abad ke-19, gelombang Pan-Islamisme yang berhembus dari Timur Tengah membawa pengaruh besar hingga ke Hindia Belanda. Di tengah cengkeraman sistem kolonial yang membatasi ruang gerak masyarakat Arab atau Vreemde Oosterlingen (golongan Timur Asing) melalui aturan ketat seperti wijkenstelsel (sistem pengelompokan wilayah tempat tinggal) dan passenstelsel (sistem surat izin tinggal/bepergian), sebuah keluarga pedagang kaya asal Bogor bermarga Ba Junaid mengambil langkah berani. Mereka memilih jalur pendidikan modern di jantung Kekaisaran Utsmaniyah, Istanbul, sebagai jalan panjang menuju emansipasi dan kebangkitan kesadaran kaum Muslim di Nusantara.
Dua anak dari keluarga tersebut, Ahmad Ba Junaid yang saat itu berusia sekitar 13 tahun dan adiknya Sa'id Ba Junaid yang berusia 8 tahun, dikirim ke Istanbul pada tahun 1899 di bawah naungan restu Sultan Abdul Hamid II dan mediasi konsulat Utsmaniyah di Batavia. Di sana, mereka menimba ilmu di sekolah khusus kekaisaran, Ashiret Mekteb-i Hümâyûn, sebuah institusi berasrama gratis yang mempersiapkan para pemuda dari berbagai wilayah Islam untuk berkarier di bidang birokrasi maupun militer.
Pengalaman hidup dan menuntut ilmu di ibu kota Utsmaniyah tentu memberikan cakrawala berpikir yang jauh berbeda bagi kedua kakak beradik ini.
Sekembalinya ke tanah air, dinamika pergerakan mereka tidak berhenti di ruang-ruang kelas Utsmaniyah. Jaringan diaspora Hadrami dan wawasan internasional yang mereka miliki turut memperkuat kesadaran membangun kemandirian ekonomi dan sosial umat Islam. Puncak dari perintisan kesadaran politik tersebut terwujud pada tahun 1909 di Bogor. Bersama tokoh pergerakan Tirtoadisurjo, Ahmad dan Sa'id Ba Junaid ikut membidani lahirnya cikal bakal wadah pergerakan dagang Islam.
Di dalam organisasi perintis tersebut, Ahmad dipercaya sebagai presiden atau ketua, sementara Sa'id memegang posisi penting sebagai bendahara. Meskipun pada fase berikutnya organisasi ini bertransformasi dan berkembang masif di bawah kepemimpinan Haji Samanhudi melalui Sarekat Dagang Islam (SDI) di Surakarta, serta dilanjutkan oleh H.O.S. Tjokroaminoto dalam bendera Sarekat Islam (SI) yang menjadi gerakan massa terbesar di era pergerakan nasional, fondasi awal yang diletakkan oleh Ba Junaid bersaudara membuktikan bahwa jejaring diaspora Hadrami tidak hanya berputar pada poros perdagangan semata. Mereka turut aktif membangun solidaritas lintas batas, termasuk menjadi jembatan informasi dan diplomasi antara pergerakan di Hindia Belanda dengan dunia Islam internasional.
Perjalanan mereka dari bangku sekolah di Istanbul hingga berdiri di garda depan embrio pergerakan Islam menjadi catatan sejarah yang memperlihatkan bagaimana pendidikan luar negeri dan semangat kebangkitan Islam turut merajut benang merah kemerdekaan di bumi Nusantara.
Sumber Bacaan
-Alatas, Alwi, & Tekin, Alaeddin. (2022). The Indonesian-Hadramis' Cooperation with the Ottoman and the Sending of Indonesian Students to Istanbul, 1880s-1910s. Tarih İncelemeleri Dergisi, XXXVII/1, 27–52.
-Mobini-Kesheh, Natalie. (1999). The Hadhrami Awakening: Community and Identity in the Netherlands East Indies, 1900–1942. Cornell University Press.
-Noer, Deliar. (1994). Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900–1942. LP3ES.
Schmidt, Jan. (1992). Through the Legation Window 1876–1926: Four Essays on Dutch, Dutch-Indian and Ottoman. Nederlands Historisch-Archaeologisch Instituut te Istanbul.
-Hidayatullah.com. (2020). Kisah para 'Pelajar Jawa' di Istanbul.

Social Header