Menteri Muda Penerangan Abdurrahman Rasyid (A.R.) Baswedan masih tak percaya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Mesir benar-benar mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto dan de jure. Pengakuan ini benar-benar mengubur mimpi Belanda untuk tetap mencengkeram Indonesia.
Pak Wakil Menteri Penerangan, A.R. Baswedan diam-diam diberi pesan oleh Ketua Delegasi Haji Agus Salim agar bagaimana pun caranya dokumen tersebut bersama dokumen penting lainnya harus sampai di Indonesia dengan selamat. Saat itu Haji Agus Salim berbicara dengan gaya jenderal, "Baswedan, bagi saya tidaklah penting apakah Saudara sampai di tanah air atau tidak. Yang penting dokumen-dokumen itu sampai di Indonesia dengan selamat!" A.R. Baswedan hanya melongo mendengar perintah sang komandan.
Sebenarnya ia ingin sekali pulang ke Indonesia. Sudah berbulan-bulan dirinya tak bersua dengan keluarga tercinta. Namun apa daya, pesawat yang akan membawanya tak kunjung tiba.
Sambil menanti pesawat datang, A.R. Baswedan merampungkan beberapa catatan perjalanan selama di Mesir. Hal yang paling terkenang dan kelak dirasa sangat berperan di saat genting ialah pertemuan Pak Baswedan dengan seorang wartawan dan seorang pahlawan kemerdekaan di pengasingan. Dari tinta wartawan ini, suara-suara minor negeri-negeri yang terjajah ini mulai tampak ke permukaan.
Suara yang tak terdengar disuarakan oleh wartawan asal Palestina ini melalui surat kabar Assyura (Pembela Bangsa-Bangsa Terjajah).
Orang-orang mengenalnya Muhammad Ali Tahir. Surat kabar Assyura sudah sangat kesohor sebelum perjanjian ditandatangani, sampai kelak, ia selalu membantu perjuangan rakyat Indonesia. "Saudara Rasyid dapat menceritakan bantuan yang diberikan M. Ali Attahir ketika KBRI mengalami kesulitan semasa Belanda menggempur Republik dan menangkap Presiden Sukarno.
Bantuan moral dan material, yang menunjukkan keyakinannya pada kesucian perjuangan bangsa Indonesia. Semoga Allah membalas semua jasanya," kenang A.R. Baswedan.
Seorang lagi yang sangat "berjasa" bagi Baswedan bernama Amir Abdul Karim, pahlawan kemerdekaan bangsa-bangsa Afrika yang diberi suaka oleh Mesir. Orang ini adalah orang nomor satu yang dicari-cari pemerintah Prancis. Dengan jalan berliku, berbelit, mengelabui petugas yang menyembunyikannya, A.R. Baswedan akhirnya bersua dengan Amir Abdul Karim di tempat persembunyiannya.
Pertemuan ini sontak membuat kaget Amir Abdul Karim. Tapi setelah Baswedan mengisahkan dirinya berasal dari Indonesia dan merasa penting bersua dengannya untuk mendapati nasihat perjuangan dari seorang pahlawan, Abdul Karim malah akrab dengan Baswedan yang fasih berbahasa Arab.
Perbincangan tentang perjuangan pun terjadi. Di dalam rumah mungil itu, suasana semakin hangat. Ketika A.R. Baswedan berpamitan, Amir Abdul Karim memberi secarik kertas sambil berkata: "Anakku, semoga Allah melindungimu dalam perjalanan pulang ke tanah air dan semoga perjuanganmu berhasil. Insya Allah Tuhan yang Mahakuasa akan menolongmu."
Rupanya, jalan-jalan ini sudah disetting Mesir agar Amir Abdul Karim dapat lengang bebas dari cengkeraman Prancis. "Akan tetapi, di balik acara keliling kota itu telah disiapkan, oleh pejuang-pejuang Maroko dengan bantuan Mesir," kenang A.R. Baswedan dalam catatannya.
Pahlawan Rifkabilen (Kabilah Rif)* ini kemudian dapat dibebaskan dan dibawa ke Mesir, yang memberikan suaka politik kepadanya. Peristiwa itu sangat menggemparkan dunia Timur Tengah, sehingga Prancis kemudian menarik Duta Besarnya dari Kairo, padahal hubungan diplomatik Mesir-Prancis bukan main eratnya.
"Saat saya sedang dibawa oleh Prancis dari Pulau Rignon untuk ditahan lebih lanjut, kapal yang membawanya stop sebentar di Portsaid, dan Walikota Portsaid atas permintaan Raja Farouk, mengajak saya keliling kota," kata Amir Abdul Karim yang mulai akrab dengan Baswedan memulai kisahnya. Raja tidak memedulikan hal itu, karena "Sebagai Muslimin saya tidak bisa menolak permohonan orang yang meminta perlindungan, apalagi jika dia seorang pejuang Islam yang gigih," tegasnya.
Raja Farouk memberikan persetujuan agar Mesir membantu Indonesia, seraya menitipkan pesan mendalam agar kelak ketika Indonesia berdiri tegak, bangsa ini tidak melupakan sejarah dan ikut membebaskan bangsa-bangsa lain yang masih terjajah.
Waktu itu tanggal 18 Juni 1947. Salah seorang tumpumpangannya adalah saya, yang berangkat sendirian menuju Singapura. Rupanya petualangan Baswedan tak kalah menegangkan dibanding Abdul Mun'im. Dengan susah payah, ia harus mempertahankan "kursi" yang ia duduki di pesawat komersial tersebut. Tak ada yang tahu siapa Baswedan yang pulang membawa dokumen rahasia. Pesawat yang ditumpangi Baswedan yang membawa dokumen penting ini sempat mendarat dan berputar-putar berkali-kali di beberapa tempat.
"Kesulitan demi kesulitan menimpa, ketika saya berangkat ke Singapura. Pesawat terbang yang saya tumpangi mendarat di Bahrein, Karachi, Kalkuta, Rangoon, baru akhirnya sampai di Singapura.
Padahal tidak satu pun negeri-negeri itu memiliki perwakilan Indonesia. Bahkan nama Indonesia saja tidak dikenal," kenang Baswedan.
Sempat, Baswedan nyaris diusir di beberapa tempat di India. Dia pun terpaksa main gertak dengan mengaku agen rahasia undangan Nehru, ketika tempat duduknya yang akan dicatut untuk orang lain di Kalkuta. "Kapal terbang yang saya tumpungi dua kali diganti, dari kapal terbang air ke kapal terbang biasa," katanya.
Akhirnya dengan tampang kuyu, sampai juga Baswedan di Singapura. Tak seorang pun menjemput di airport, sedang uang sudah betul-betul menipis dengan kantong yang sudah melompong.
Pesawat BOAC melesat meninggalkan Kairo, entah ke mana dulu. Yang jelas, Baswedan harus sampai dulu di Singapura sebelum masuk ke Indonesia.
Akhirnya dia bersua dengan seorang dermawan, Ibrahim Assegaf yang terkenal di Singapura bersama kawan lamanya, Ali Talib Yamani. Karena simpati akan perjuangan Indonesia, mereka tak berpikir panjang segera membantu Baswedan.
Mr. Octojo yang saat itu menjadi Sekjen Kemlu RI tidak tahu-menahu tentang kedatangan Baswedan, dan tidak pula menolongnya yang kekurangan uang untuk pulang. Naluri wartawan Baswedan membawanya kembali keluyuran di Negeri Singa tersebut.
Beragam cara diupayakan Ali Talib Yamani agar Baswedan mendapat tiket pesawat ke Jakarta.
Berhari-hari, Baswedan terkatung-katung, karena Belanda urung mengeluarkan visa untuk dirinya. Dengan pelbagai akal dan intrik, akhirnya didapatkan tiket keberangkatan 13 Juli 1947. Pesawat sempat berputar lama di udara karena bandara sangat padat. Baru saja, Van Mook mengultimatum Indonesia. Nyaris sebulan, Baswedan terkatung-katung di Singapura.
Akhirnya pesawat KLM tinggal landas menuju Bandara Kemayoran. Pagi-pagi buta, tanggal 19 Juli 1947, Baswedan terbang ke Yogya bersama PM Amir Sjarifoeddin untuk melaporkan tentang kunjungan delegasi ke Mesir dan hasil-hasil yang dicapai kepada sidang kabinet. "Alhamdulillah, aman!" begitu kata Baswedan sambil menaruh diri di jok Austin yang meninggalkan Kemayoran.
"Entah bagaimana, tas dokumen begitu juga koper saya, lolos dari pemeriksaan. Petugas itu sedang buta ketika saya lewat di depannya. Koper dan tas dokumen langsung saya sambar, untuk kemudian bergegas mencari taksi," kenangnya.
Dokumen super penting pun dia selipkan di balik kaos kaki sepatunya. Dengan keyakinan, dia melenggang melewati pemeriksaan. Jari-jari tangan kanan menggenggam tasbih dan tangan kiri memegang tas kerja yang berisi catatan penting, sementara naskah perjanjian masih tetap di dalam sepatu.
Tas dokumen itu masih tas lama yang saya bawa ke Kairo, dengan kunci yang juga masih macet.
Tentara Belanda berada di setiap jengkal bandara, berkeliaran ke sana kemari. Airport tampak bak medan perang. Keringat dingin mengucur deras sekujur tubuh menegangkan. Baswedan, dia hanya bisa berdoa agar diloloskan dari pemeriksaan.
"Saya hanya bisa berdoa kepada Allah, memohon agar dapat lolos dari pemeriksaan. Baru di saat itu saya teringat akan tasbih pemberian Amir Abdul Karim dan doa-doa yang diajarkan."
Bung Karno geleng-geleng kepala merasa heran sekali bahwa semua dokumen masih tetap utuh dalam sampul yang dilak (direkatkan dengan lakban). "Bagaimana kok bisa begitu, Saudara Baswedan?" tanya Bung Karno penasaran.
"Untung, Pak Presiden," jawabnya singkat.
Tetapi lamunan Baswedan mengatakan segalanya. Ingatannya melayang ke sebuah rumah kecil di luar kota Kairo. Kepada seorang pahlawan kemerdekaan di pengasingan yang namanya Amir Abdul Karim. Dengan komat-kamit menggenggam tasbih, surat diselipkan dalam kaus kaki, Baswedan selamat dari pemeriksaan. Benar-benar ajaib Diplomat kita! Diplomasi kaus kaki!
*Pahlawan dari Kabilah Rif (suku Berber di pegunungan Rif, Maroko utara), yang merujuk pada tokoh pejuang Amir Abdul Karim al-Khattabi.
Daftar Pustaka:
-Abbas, Rumail. (2013). AR. Baswedan: Pengukir Sejarah. Islami.co.
-Hakiem, Lukman. Kisah A.R. Baswedan Membawa Surat Pengakuan Kedaulatan RI kepada Bung Karno. Republika / KBA News / Koran Riau.
-Lesus, Rizki. (2017). Perjuangan yang Dilupakan. Yogyakarta: Pro-U Media.
-Liputan6.com. Kisah Kakek Anies Baswedan Saat Cari Pengakuan Kemerdekaan RI.
-Tempo.co. Kisah A.R. Baswedan Bawa Surat Pengakuan Kedaulatan Indonesia.
-Arsip & Dokumen Sejarah Diplomasi Republik Indonesia di Timur Tengah (1947).

Social Header