Breaking News

Spirit Impresionisme dalam Alam Benda Oleh: Hamid Nabhan

   ​Jiwa saya sejatinya selalu tertambat pada lanskap. Kebebasan  berdiri di alam terbuka, mengejar pergeseran bayangan matahari, dan merekam bentangan panorama adalah gairah utama saya dalam melukis.

   Namun, bagi saya, esensi impresionisme tidak boleh berhenti hanya pada garis horizon. Spirit impresionisme, yaitu menangkap kesan spontan, kejujuran pancaran cahaya, dan getaran suasana, bisa dan justru sangat menarik untuk diterapkan pada ruang yang lebih terbatas, ketika melukis alam benda (still life) maupun lukisan potret.

​Sesekali, saya sengaja melangkah mundur masuk ke dalam studio, berhadapan dengan sudut meja, beberapa susunan benda mati, atau raut paras manusia. 

   Bagi saya, ini adalah ruang ujian yang jujur untuk menguji sejauh mana kepekaan impresionistik kita bekerja ketika dihadapkan pada objek yang terbatas tersebut.

​Melukis alam benda berfokus pada objek yang terbatas, sebuah kontras yang tajam jika dibandingkan dengan keleluasaan melukis lanskap. Jika pada lanskap keluasan alam terkadang bisa menutup atau menyamarkan kekurangan detail teknis, maka pada alam benda tidak ada tempat untuk bersembunyi. Objeknya terbatas, jaraknya sangat dekat, dan bentuknya berdiri telanjang di hadapan mata.

   Di sinilah kemampuan teknis dan kepekaan rasa seorang pelukis ditekankan seperti bagaimana menangkap objek dengan presisi, mengolah bentuk dan value, tanpa harus terjebak menjadi lukisan yang kaku atau sekadar meniru foto.

   ​Dalam prosesnya, saya kadang melukis secara langsung (live painting) mengamati dunia benda yang disusun di atas meja studio. Saya memadukan tekstur kulit alpukat yang hijau, merahnya tomat yang segar, hingga warna kuning cerah dari buah lemon. Tak jarang pula, eksplorasi ini berlanjut pada kecantikan rangkaian bunga. Menatap bunga atau buah dengan cara pandang impresionisme berarti kita tidak melukis helai demi helai secara matematis, melainkan menangkap kesan dari getaran warna, bentuk dasar, dan bagaimana cahaya jatuh menyentuhnya saat itu juga.

   ​Menata pencahayaan menjadi kunci penting dalam proses ini. Di dalam studio, kita memegang kendali untuk mengatur arah cahaya, baik mengandalkan sinar matahari siang yang masuk lewat jendela maupun mengatur sorot lampu studio. Pengaturan ini dilakukan untuk menciptakan drama gelap-terang yang stabil, menghindari cahaya yang berubah-ubah mendadak, sekaligus menghidupkan karakter volume serta pancaran warna objek secara penuh kejujuran visual.

   ​Menyelami alam benda dan potret melalui kacamata impresionisme pada akhirnya membuktikan bahwa impresionisme bukanlah soal tempat, melainkan soal cara memandang. Baik di hadapan gunung yang megah, lekuk wajah manusia, maupun sebiji lemon di atas meja, tugas pelukis tetap sama yaitu menangkap esensi cahaya dan roh dari apa yang kita lihat.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id