NAGEKEO, METRO GLOBAL NEWS — Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), memaksa aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah terdampak beradaptasi dengan kondisi darurat.
Salah satunya dialami SMPK Stella Maris Marapokot, Kabupaten Nagekeo. Setelah hampir tiga pekan aktivitas sekolah terganggu akibat bencana, para siswa akhirnya kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM), Kamis (3/9/2026).
Namun, hari pertama sekolah pascagempa itu tidak berlangsung di ruang-ruang kelas seperti biasanya. Para siswa belajar di bawah tenda darurat bantuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang didirikan di Lapangan Desa Marapokot, sekitar satu kilometer dari lokasi sekolah.
Tenda darurat tersebut dipilih sebagai lokasi KBM sementara karena lingkungan sekolah belum memungkinkan digunakan. Kawasan sekolah masih dipenuhi genangan dan lumpur akibat luapan air laut yang terjadi setelah gempa dan gelombang tinggi.
Lokasi SMPK Stella Maris Marapokot sendiri berada kurang dari 100 meter dari garis pantai Nangadhero. Saat gempa terjadi pada 15 Agustus lalu, luapan air laut dilaporkan mencapai hingga halaman sekolah.
Kondisi bangunan sekolah juga mengalami kerusakan. Sejumlah ruang mengalami keretakan, bahkan terdapat ruangan yang mengalami kerusakan cukup parah, termasuk beberapa ruang kelas dan ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Meski berada dalam situasi serba terbatas, suasana hari pertama KBM darurat terlihat cukup ceria. Para siswa mengikuti kegiatan dengan semangat, meskipun belum seluruh siswa dapat hadir.
Kegiatan diawali dengan doa bersama dan ibadah syukur. Setelah itu, para siswa mengikuti kegiatan trauma healing sebagai bagian dari upaya membantu mereka memulihkan kondisi psikologis setelah mengalami bencana.
KBM juga belum berjalan dalam waktu normal. Pada sekitar pukul 10.00 WITA, para siswa diperbolehkan kembali ke rumah.
Kepala SMPK Stella Maris Marapokot, Apolonia Dhupa Mema, mengatakan kegiatan belajar di bawah tenda menjadi langkah awal untuk membangkitkan kembali semangat para siswa setelah mengalami situasi sulit akibat gempa.
“Hari ini merupakan hari pertama kami masuk dan belajar di tenda darurat ini. Kami awali dengan ibadah syukur, kemudian trauma healing. Kami mulai memastikan, kami mulai bangkit dari keadaan ini, agar anak-anak bisa terbiasa dan mulai semangat lagi untuk melakukan pembelajaran,” ungkap Apolonia.
Menurutnya, keputusan mendirikan tenda di Lapangan Desa Marapokot dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi lingkungan sekolah yang belum aman dan nyaman untuk kegiatan belajar.
“Hari ini kami belajar di bawah tenda, bukan di lingkungan sekolah karena lokasinya tidak memungkinkan. Di sekolah ada gedung yang rusak dan lingkungan sekitar sekolah dipenuhi air laut karena sekolah kami sangat dekat dengan pusat gempa,” jelasnya.
Apolonia mengatakan, keberadaan tenda di lokasi yang lebih jauh dari pantai diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi siswa dan guru selama kegiatan belajar berlangsung.
“Pertimbangan kami, kami bangun tenda di Lapangan Marapokot yang agak jauh dari laut sehingga anak-anak dapat belajar dengan baik di tempat ini,” katanya.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian dan dukungan khusus terhadap SMPK Stella Maris Marapokot, terutama untuk membantu pemulihan sarana pendidikan yang terdampak bencana.
“Kami berharap agar pemerintah bisa membantu kami memulihkan keadaan ini dan bisa ada perhatian khusus terhadap sekolah kami, anak-anak, bapak ibu guru dan kami semua, agar semua boleh kembali melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah kami,” pungkasnya.
Bagi SMPK Stella Maris Marapokot, tenda darurat bukan sekadar tempat untuk kembali membuka kegiatan sekolah. Di tengah bangunan yang rusak dan lingkungan yang belum sepenuhnya pulih, tenda itu menjadi ruang untuk memulai kembali, membangun keberanian, dan mengembalikan harapan anak-anak setelah gempa.
Penulis : James Bisara
MGN : Nagekeo

Social Header