Breaking News

PMI Tegaskan Komitmen Layanan Bebas Eksploitasi dan Pelecehan Seksual lewat Safeguarding Relawan di Nagekeo



NAGEKEO - METRO GLOBAL NEWS || Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nagekeo terus memperkuat standar perlindungan dan integritas dalam setiap operasi kemanusiaan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui sesi Safeguarding bagi relawan sebelum melaksanakan penugasan layanan kemanusiaan di wilayah terdampak gempa bumi M7,7 Flores.

Kegiatan yang berlangsung di Posko/Markas PMI Kabupaten Nagekeo, Rabu, 18 September 2026, pukul 10.00–11.00 WITA, tersebut disampaikan oleh Nabila Nursepti Aryanti dan diikuti 17 relawan dewasa, termasuk lima relawan perempuan.

Sosialisasi Safeguarding menjadi bagian penting dari persiapan pra-layanan untuk memastikan setiap relawan memahami prinsip perlindungan, etika, serta perilaku yang wajib dijunjung selama berinteraksi dengan masyarakat penerima manfaat.

Materi tersebut secara khusus memperkuat komitmen terhadap pencegahan eksploitasi dan pelecehan seksual (Protection from Sexual Exploitation and Abuse/PSEA) dalam seluruh rangkaian pelayanan kemanusiaan.

Safeguarding tidak hanya berkaitan dengan perlindungan relawan, tetapi juga memastikan masyarakat yang dilayani—terutama kelompok rentan—mendapatkan pelayanan dalam suasana yang aman, bermartabat, inklusif dan bebas dari segala bentuk penyalahgunaan posisi maupun kekuasaan.

Selain Safeguarding, para relawan juga mendapatkan materi pendukung berupa psikoedukasi relawan untuk menjaga kesehatan mental dan kesiapan psikologis sebelum bertugas, serta promosi kesehatan (Promkes) sebagai penguatan kapasitas relawan dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat.

Ketua PMI Nagekeo: Relawan Wajib Memahami SOP dan Kode Etik

Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, menegaskan bahwa setiap relawan PMI bekerja dalam sistem organisasi yang memiliki mekanisme, standar operasional prosedur (SOP), serta kode etik yang harus dipatuhi.

«“PMI adalah lembaga besar yang memiliki mekanisme dan SOP dalam sistem kerja. Semua relawan diharapkan mampu menyiapkan diri, termasuk memahami kebijakan perlindungan diri, kode etik, dan safeguarding sebagai acuan dalam bekerja,” ungkap Kristianus.»

Menurutnya, relawan PMI berhadapan langsung dengan masyarakat dari berbagai latar belakang dan kondisi, sehingga aspek perlindungan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap pelayanan kemanusiaan.

«“Kita bekerja dengan dan bersama masyarakat dengan berbagai golongan. Karena itu, kita wajib melindungi diri serta menjaga masyarakat yang dilayani, khususnya kelompok rentan,” tegasnya.»

Kristianus menambahkan, pemahaman safeguarding merupakan bagian dari profesionalitas relawan dalam menjalankan mandat kemanusiaan PMI. Relawan tidak hanya dituntut mampu menjalankan tugas secara teknis, tetapi juga harus memahami batas-batas etika dan tanggung jawab ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Perkuat Respon Gempa M7,7 Flores

PMI Kabupaten Nagekeo hingga kini terus memperkuat kapasitas relawan dalam mendukung operasi tanggap darurat bencana gempa bumi M7,7 Flores.

Berbagai layanan kemanusiaan dijalankan, mulai dari distribusi logistik, layanan WASH (Water, Sanitation and Hygiene), pelayanan kesehatan, promosi kesehatan dan kebersihan, dukungan psikososial, pembangunan shelter serta sekolah darurat, hingga Restoring Family Links (RFL) atau pemulihan hubungan keluarga.

Dalam pelaksanaannya, PMI juga mengintegrasikan prinsip Protection, Gender and Inclusion (PGI) serta mekanisme penerimaan dan penginputan umpan balik masyarakat dalam setiap layanan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya PMI Nagekeo untuk memastikan bahwa bantuan dan pelayanan kemanusiaan tidak sekadar menjangkau masyarakat terdampak, tetapi juga diberikan berdasarkan prinsip aman, bermartabat, inklusif, akuntabel dan berorientasi pada perlindungan penerima manfaat.

Bagi PMI Nagekeo, kesiapan relawan bukan hanya persoalan kemampuan teknis di lapangan. Pemahaman terhadap kode etik, safeguarding, PSEA, PGI, kesehatan mental, serta mekanisme umpan balik menjadi fondasi penting agar seluruh operasi kemanusiaan tetap berada dalam koridor prinsip-prinsip kemanusiaan.


Penulis : James Bisara

MGN     : Nagekeo

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id