NAGEKEO, METRO GLOBAL NEWS || Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nagekeo mengambil langkah konkret memperkuat kapasitas relawan yang terlibat dalam pelayanan tanggap darurat bencana melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) dan On the Job Training (OJT) Psychosocial Support Service (PSS) dan Promosi Kesehatan (Promkes).
Kegiatan yang berlangsung 19–20 September 2026 di Hotel Flores Mandiri, Mbay, tersebut diikuti perwakilan PMI dari Kabupaten Nagekeo, Ngada, Ende, Sikka dan Manggarai Timur.
Pelatihan ini menjadi bagian dari penguatan respons PMI terhadap dampak gempa bumi berkekuatan M7,7 yang melanda Flores, Nusa Tenggara Timur, khususnya dalam memastikan layanan kemanusiaan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan fisik penyintas, tetapi juga menyentuh aspek psikososial dan kesehatan masyarakat.
Sebanyak 11 peserta mengikuti kegiatan, terdiri dari tujuh personel PSS dan empat personel Promkes.
PSS dan Promkes Jadi Bagian Penting Respons Bencana
Dalam operasi tanggap darurat, kebutuhan penyintas tidak berhenti pada bantuan logistik maupun penanganan medis. Kondisi psikologis masyarakat terdampak, terutama anak-anak, keluarga, kelompok rentan, serta masyarakat yang mengalami kehilangan, juga membutuhkan perhatian.
Karena itu, layanan Psychosocial Support Service (PSS) menjadi salah satu instrumen PMI dalam memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat terdampak bencana.
Sementara Promosi Kesehatan (Promkes) diarahkan untuk memperkuat kesadaran dan perilaku hidup sehat masyarakat di tengah kondisi pascabencana, termasuk ketika sebagian warga masih tinggal di tenda atau tempat pengungsian.
Bimtek dan OJT tersebut dirancang tidak hanya melalui pembelajaran teoritis di dalam kelas. Peserta juga mendapatkan kesempatan melakukan praktik langsung di titik layanan tanggap bencana PMI di Kabupaten Nagekeo.
Pola tersebut memungkinkan peserta menghubungkan materi yang diperoleh dengan situasi nyata yang dihadapi masyarakat terdampak.
Untuk memperkuat proses pembelajaran, PMI menghadirkan tim pendamping dari sejumlah daerah.
Tim PSS terdiri dari I Ketut Sassu Budi Satwam, Kris Saptana dan Made Yogi Artha Sudarta.
Sementara tim Promkes menghadirkan Nabila Nursepti Aryanti dan Nurlaela.
Para fasilitator tersebut berasal dari jaringan PMI Bali, Lampung Selatan, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Kehadiran fasilitator lintas daerah sekaligus menunjukkan bahwa penguatan kapasitas dalam operasi kemanusiaan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dibangun melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan antarkomponen PMI.
Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari Badan Diklat PMI Pusat. Kepala Badiklat PMI Pusat, Dwi Hariyadi, hadir secara daring melalui Microsoft Teams untuk memberikan pengantar orientasi pelaksanaan OJT kepada peserta.
Koordinator Tim Layanan Kesehatan, I Ketut Sassu Budi Satwam, M.Kom., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut pada dasarnya diarahkan untuk mengoptimalkan sumber daya yang sudah dimiliki PMI di daerah.
“Dari hasil mencari informasi di beberapa kabupaten, masing-masing PMI sebenarnya telah memiliki sumber daya. Tugas kami adalah menguatkan kapasitas mereka sehingga mereka dapat berkegiatan dalam jangka panjang dan berkesinambungan,” ujar I Ketut Sassu Budi Satwam.
Keterlibatan PMI Nagekeo, Ngada, Ende, Sikka dan Manggarai Timur memberikan dimensi penting dalam kegiatan tersebut.
Kelima wilayah merupakan bagian dari jaringan pelayanan PMI di Flores yang menghadapi kebutuhan penanganan masyarakat terdampak bencana. Karena itu, peningkatan kemampuan relawan di masing-masing daerah menjadi bagian dari upaya memperkuat kesinambungan layanan.
Koordinator Lapangan TDB PMI Provinsi NTT, Adrian Jeharun, mengatakan penguatan kapasitas staf dan relawan harus menjadi perhatian selama respons tanggap darurat berlangsung.
“Kita perlu dorong pelatihan bagi semua relawan PMI yang terlibat dalam respons TDB ini agar kualitas layanan PMI semakin baik,” ujar Adrian.
Ia mengapresiasi keterlibatan fasilitator dan peserta dari lima kabupaten dalam pelaksanaan OJT PSS dan Promkes.
“Kami berharap agar para relawan ini mampu mendukung percepatan layanan PSS dan Promkes di tiap wilayah terdampak,” katanya.
Adrian juga menyampaikan apresiasi kepada Pengurus, Kepala Markas dan pendamping PMI Kabupaten Nagekeo yang telah menginisiasi serta memfasilitasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
PMI menegaskan pelayanan kepada masyarakat terdampak gempa bumi M7,7 Flores masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam konteks tersebut, relawan menjadi salah satu komponen utama yang berhadapan langsung dengan masyarakat di lapangan. Karena itu, kapasitas teknis, kemampuan berkomunikasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan penyintas menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pelayanan.
Bimtek dan OJT PSS-Promkes di Mbay diharapkan menghasilkan relawan yang tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkan keterampilan tersebut dalam situasi pelayanan nyata.
Dari Nagekeo, penguatan kapasitas relawan menjadi bagian dari strategi PMI menjaga kesinambungan layanan kemanusiaan di Flores agar respons tidak sekadar cepat hadir, tetapi juga tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
Penulis : James Bisara
MGN : Nagekeo


Social Header