Sebuah karya seni rupa bernas hadir dari tangan pelukis Ebit S. Melalui lukisan berukuran cukup megah, 140x200 cm, yang dikerjakan dengan eksplorasi mixed media, Ebit menghadirkan kanvas bertajuk "SaatNya 1" sebagai ruang perenungan mendalam atas nasib memori kolektif dan sejarah bangsa.
Lukisan ini menampilkan sosok rakyat biasa yang tengah berikhtiar mendulang dan menggali kembali peninggalan leluhur. Dalam kanvas tersebut, proses penggalian sejarah tidak sekadar menjadi aktivitas fisik, melainkan metafora atas pencarian identitas dan akar budaya yang kian terancam punah. Kedalaman narasi ini tak lepas dari rekam jejak Ebit S yang pernah menimba pengalaman di Galeri Cokot Son, Ubud—bersama I Made Dini, putra maestro pematung I Nyoman Cokot, serta bertahun-tahun menjadi kru film dokumenter mendampingi sutradara Labbes Widar.
Visualisasi menjadi kian tajam ketika alat penggali diarahkan ke sebuah telinga yang tersumbat batu. Batu tersebut hadir sebagai simbol yang lugas sekaligus satir yaitu cermin dari kaku dan tulinya telinga para pemangku kebijakan terhadap jeritan masyarakat serta kelestarian cagar budaya.
Menariknya, Ebit S menghadirkan dimensi metafisik di tengah narasi sosial ini. Kehadiran sosok makhluk tak kasatmata (astral) yang turut mengamati adegan tersebut memberi kesan bahwa kerja-kerja menjaga warisan sejarah bukan semata urusan duniawi manusia, melainkan juga disaksikan oleh semesta yang lebih luas.
Melalui teknik mixed media yang memberi tekstur kaya dan bobot visual yang berkarakter, "SaatNya 1" mengetuk kesadaran kolektif kita. Karya ini merupakan seruan agar pemerintah dan masyarakat mau membuka telinga, menepis kebebalan, serta merawat akar sejarah sebelum semuanya terkikis oleh zaman.
Surabaya, 3 September 2026

Social Header