Seorang pria Iran bernama Mehran Karimi Nasseri, yang lahir di Iran pada tahun 1945, pernah menjadi pusat perhatian dunia karena sebuah kisah hidup yang luar biasa sekaligus memilukan, ia menghabiskan waktu selama 18 tahun hidup di dalam area bandara.
Semua babak sunyi ini bermula dari masalah paspor dan dokumen perjalanan yang menderanya.
Kisah itu berawal ketika Nasseri terjebak di Bandara Charles de Gaulle, Paris. Paspor dan dokumen pentingnya hilang, membuatnya tidak memiliki kejelasan identitas untuk meninggalkan area bandara ataupun melanjutkan perjalanannya ke Inggris. Di tempat yang seharusnya hanya menjadi ruang transit sekejap bagi jutaan manusia untuk berlalu-lalang, Nasseri justru terperangkap dalam belenggu birokrasi internasional yang panjang dan melelahkan.
Hari-hari di bandara ia jalani dengan sebuah rutinitas yang konsisten di atas sebuah bangku merah di Terminal 1. Di tengah bisingnya deru mesin pesawat dan derap langkah para pelancong, Nasseri membangun dunianya sendiri. Setiap pagi sebelum bandara sibuk, ia membersihkan diri di toilet, membeli sarapan, lalu menghabiskan waktunya dengan membaca koran, belajar bahasa, serta menulis jurnal harian di atas tumpukan kertas kosong.
Berkat kebaikan para staf maskapai dan pelancong yang memberinya makanan atau voucer, ia bisa bertahan hidup di ruang tanpa batas tersebut.
Ironisnya, ketika kesempatan untuk keluar datang, luka batin dan isolasi panjang telah mengubah cara pandangnya. Pada tahun 1999, pemerintah menawarkan status residen dan dokumen resmi, namun ia menolak menandatanganinya karena otoritas tidak mencantumkan nama pilihannya, "Sir Alfred Mehran," serta tidak mengakui status tanpa kewarganegaraannya. Ia memilih tetap tinggal bersama koper-kopernya.
Meskipun sempat keluar dari bandara pada tahun 2006 karena masalah kesehatan dan tinggal di penampungan, takdir seolah menariknya kembali ke tempat di mana ia merasa paling mengenali dunia. Beberapa minggu sebelum akhir hayatnya, Nasseri secara sukarela kembali ke Bandara Charles de Gaulle. Di sanalah, pada tahun 2022, ia menghembuskan napas terakhirnya akibat serangan jantung, di tempat yang selama belasan tahun menjadi rumah sekaligus penjaranya.
Kisah hidupnya yang sunyi, penuh keterasingan, namun sarat dengan pencarian makna identitas dan rumah ini pada akhirnya menginspirasi dunia, kisah hidupnya diangkat ke layar lebar melalui film Hollywood berjudul "The Terminal".

Social Header