Breaking News

Ketika Gejolak Cinta Remaja dan Keberanian Abadi Dituangkan dalam Lagu Usia 18

   ​Bagi para penikmat musik balada dan karya-karya klasik Indonesia, nama Erros Djarot identik dengan lirik yang sarat perenungan, puitis, dan menyentuh jiwa. Namun, di balik berbagai mahakarya besarnya, tersimpan sebuah permata personal yang merekam fase paling jujur dalam hidupnya yaitu lagu berjudul "Usia 18".

​Jika banyak orang mengenal Erros melalui megahnya album Badai Pasti Berlalu, "Usia 18" justru lahir dari ruang yang jauh lebih intim, sebuah catatan harian musikal tentang transisi masa muda, keberanian yang meledak-ledak, dan ketulusan cinta pertama.

   ​Kisah di balik penciptaan lagu ini berakar pada sebuah momen krusial dalam hidup Erros Djarot. Di usia yang masih sangat muda, yaitu 18 tahun, ia bersiap untuk meninggalkan tanah air guna melanjutkan perjalanan hidup dan studi ke Jerman. Namun, sebelum langkah kakinya menyeberang benua, takdir mempertemukannya dengan seorang perempuan yang berhasil mencuri hatinya. Alih-alih memendam perasaan atau sekadar merangkai kata dalam diam, gejolak romansa remaja tersebut mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang luar biasa.

   ​Ia menciptakan sebuah lagu sebagai wadah untuk mengutarakan segenap perasaannya yang murni. Puncak dari kenekatan dan ketulusan itu terjadi ketika ia membawa karyanya langsung ke stasiun televisi nasional, TVRI, demi memastikan lagunya bisa mengudara dan sampai kepada sang pujaan hati sebelum ia berangkat. ​Kejadian tersebut mencerminkan apa yang sering disebut oleh Erros sendiri sebagai keistimewaan masa muda. 

   Dalam sebuah kesempatan, ia pernah mengenang bahwa karya-karya di masa itu terasa begitu puitis dan romantis karena diciptakan dengan kejujuran pikiran yang masih segar serta ekspresi yang tanpa kompromi. Saat jatuh cinta, ia tidak hanya sekadar merasa suka, tetapi menerjemahkannya ke dalam bahasa alam, menghadirkan rembulan, matahari, lautan, hingga gunung ke dalam liriknya.

​Melalui lirik-lirik seperti "Jalan yang ini, penuh perih dan harapan / Langit merah di cakrawala / Kaki melangkah, menyusur pantai harapan / Sepagi ini kuharus sendiri, melanjutkan cita manusia...", lagu ini menjelma menjadi monumen tentang perpisahan, ketidakpastian masa depan, dan keteguhan langkah seorang anak muda.

   ​"Usia 18" pada akhirnya membuktikan bahwa karya seni yang paling abadi bukanlah yang lahir dari kalkulasi industri, melainkan dari keberanian seseorang untuk merangkul kejujuran emosionalnya di masa-masa paling rapuh dalam hidup. Lagu ini tetap hidup sebagai saksi bisu bahwa gelora cinta remaja, jika disalurkan dengan ketulusan yang tepat, dapat melintasi batas ruang dan waktu untuk dikenang selamanya.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id