Breaking News

Jejak PAI dan Para Digulis dalam Pusaran Nasionalisme Indonesia ​Oleh: Hamid Nabhan

   ​Peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dikenal luas sebagai titik balik penting dalam pembentukan identitas kebangsaan Indonesia. Enam tahun setelah ikrar bersejarah tersebut, lahirlah sebuah simpul pergerakan yang kurang banyak diulas secara mendalam, yaitu peristiwa 4 Oktober 1934. Saat itu, para pemuda keturunan Arab berkumpul di Semarang dan mengikrarkan Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab (SPIKA).

   ​Lewat ikrar tersebut, mereka secara tegas menyatakan bahwa Indonesia adalah satu-satunya tanah air mereka, berkomitmen untuk meninggalkan pola hidup yang terisolasi atau berkelompok, serta siap memenuhi kewajiban bakti bagi perjuangan tanah air dan rakyat Indonesia.

   ​Ikrar SPIKA hari itu juga menandai secara resmi berdirinya Partai Arab Indonesia (PAI) di bawah kepemimpinan Abdul Rahman Baswedan (A.R. Baswedan). PAI mendorong kaum peranakan Arab untuk mengakhiri sikap menyendiri, mengakui Indonesia sebagai tanah air tempat lahir dan berbakti, serta secara sadar menempatkan diri di tengah-tengah perjuangan rakyat Indonesia.

   ​Sikap PAI ini meruntuhkan sistem stratifikasi sosial yang diciptakan kolonial melalui politik divide et impera. Pemerintah Belanda menggolongkan warga keturunan Arab sebagai Oosterlingen (Timur Asing), sebuah kelompok berstatus hukum di atas kaum pribumi (inlander). Ketika PAI menolak hak istimewa (privilege) tersebut dan memilih melebur dengan inlander, Belanda memandang gerakan ini sebagai aktivitas radikal, progresif, dan revolusioner.

   ​PAI seketika menjadi momok yang menakutkan bagi kekuasaan kolonial. Ketakutan Belanda bermuara pada tindakan represif yang sangat keras. Aktivitas politik PAI diawasi secara ketat, hingga banyak kader dan aktivisnya yang ditangkap lalu dibuang ke kamp pengasingan Boven Digoel. Para kader PAI tersebut mencatatkan nama mereka dalam sejarah sebagai bagian dari para Digulis.

   ​Di sisi lain, kaum pergerakan nasional menyambut kehadiran PAI sebagai "darah segar" bagi perjuangan. Pers pergerakan menyebarluaskan gagasan PAI, dan partai ini diterima menjadi anggota Gabungan Partai Politik Indonesia (GAPPI) serta Majelis Islam 'Ala Indonesia (MIAI).

   ​Perjuangan para Digulis dari PAI ini mempertegas bahwa nasionalisme Indonesia terbentuk dari kesadaran lintas etnis yang rela mengorbankan kebebasan demi kemerdekaan bersama.


​Catatan Kaki:

-​Lukman Hakiem, Merawat Indonesia: Belajar dari Tokoh dan Peristiwa (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2017), hlm. 18–21.

​Mobini-Kesheh, Natalie. (2004). Kebangkitan Arab Hadrami di Indonesia: Kebudayaan, Islam, dan Nasionalisme (1900–1942). Jakarta: Komunitas Bambu.

-​Suratmin. (1989). H. A.R. Baswedan: Karya dan Pengabdiannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.

-​Shiraishi, Takashi. (1997). Hantu Digoel: Politik Pengasingan Kolonial di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

-​Algadri, Hamid. (1994). Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda. Jakarta: Mizan.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id