Breaking News

Jejak Estetika Sapardi Djoko Damono dalam Puisi-Puisi Emi Suy Oleh: Hamid Nabhan

   ​Di dalam peta kesusastraan Indonesia modern, Sapardi Djoko Damono menempati posisi yang khas. Melalui diksi-diksi yang tampak sederhana, bersahaja, dan jauh dari kesan berlebih-lebihan, Sapardi mampu mengubah hal-hal keseharian, seperti hujan, sepasang sepatu, ranting, atau bayangan yang menjadi sebuah renungan filosofis yang agung.  Keindahan karya-karyanya terletak pada kemampuannya menjinakkan hal yang rumit menjadi hening. Napas, keteduhan, dan cara pandang estetik inilah yang tampak berkelindan secara organik dalam antologi puisi Emi Suy, Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri (2025).

   ​Kedekatan batin dan penghormatan Emi Suy kepada sang maestro bukanlah rahasia. Hal itu bahkan diabadikan secara tersurat melalui sejumlah puisi apresiatif di dalam bukunya, seperti Khusyuk Menyimak Sapardi dan Belajar Menjahit Kata Pada Jokpin. Namun, hubungan estetik ini melampaui batas-batas kekaguman pasif. Emi menyerap DNA kepuitisan Sapardi, terutama perihal kesederhanaan bentuk dan kedalaman renungan, lalu meramunya kembali dengan warna keperempuanan, ketelanjangan emosional, serta pergulatan batin yang khas.

   ​Salah satu warisan paling kuat dari Sapardi yang hidup dalam puisi-puisi Emi Suy adalah ketertarikannya pada benda-benda remeh-temeh di sekeliling kita. Dalam tradisi lirik Emi, objek-objek domestik yang akrab dengan keseharian, seperti jarum jahit, secangkir kopi, engsel pintu tua, meja yang patah kaki, hingga sisa-sisa perca, ditarik keluar dari fungsi utilitariannya dan diangkat menjadi metafora eksistensial. 

   Judul utama antologi ini sendiri, Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri, adalah sebuah manifestasi estetik yang cemerlang. Kegiatan menjahit, yang dalam konvensi tradisional sering dilekatkan pada ruang domestik perempuan, oleh Emi dialihsuarakan menjadi tindakan penyembuhan diri atau healing process. Jarum dan benang bukan lagi alat merajut pakaian, melainkan instrumen batin untuk menambal hidup yang bolong di tengah-tengah. Di sinilah Emi meneruskan tradisi Sapardi yaitu membentangkan keluasan makrokosmos melalui bilik mikrokosmos yang sangat personal.

   ​Bagi Sapardi, jarak dan waktu bukanlah sekadar ukuran meter atau detik di arloji, melainkan ruang psikologis tempat manusia menguji kesabaran dan ingatannya. Emi Suy memperluas premis puitik ini ke dalam teritori kepekaan yang lebih rapuh. Dalam puisi-puisinya, waktu sering kali berdetak di kepala, memutar ingatan tentang masa silam, kota yang renta, dan perpisahan. 

   Namun, alih-alih meratapi waktu sebagai algojo yang merenggut segalanya, Emi memandangnya sebagai medium pendewasaan. Seperti terlihat dalam sajak-sajaknya, jarak fisik sering kali runtuh oleh keintiman batin. Emi menyerap gagasan bahwa penderitaan dan kerinduan tidak perlu diteriakkan dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan diterima dengan dada yang lapang, sebagaimana laku hidup yang tenang namun berakar kuat di bumi.

   ​Jika ditelusuri lebih jauh, kata sunyi adalah salah satu denyut yang paling sering berdetak di sepanjang halaman buku ini. Dalam khazanah Sapardi, sunyi adalah elemen yang menjernihkan, menerangi, dan menyalakan kreativitas. Emi Suy merangkul pemahaman ini secara penuh, menempatkan sunyi bukan sebagai bentuk keputusasaan atau kesepian yang merana atau loneliness, melainkan sebagai ruang meditasi yang otonom atau solitude.

   Melalui puisi-puisi bertema kontemplatif, Emi menuliskan bagaimana sunyi menjadi tempat perlindungan bagi jiwa yang lelah dari penjajah berupa pandangan dan ekspektasi orang lain. Di ruang sunyi inilah penyair menanggalkan topeng-topeng sosialnya, bercakap-cakap dengan diri sendiri, dan membiarkan luka-luka mengering dengan wajar. Sunyi menjelma menjadi semacam katedral batin tempat manusia berserah kepada Sang Pencipta.

   ​Kendati mewarisi kelembutan dan kejernihan lirik ala Sapardi Djoko Damono, Emi Suy memiliki keberanian tersendiri ketika berhadapan dengan realitas sosial dan psikologis yang keras. Jika Sapardi kerap menyapa pembaca melalui ironi yang halus dan senyum yang jenaka, Emi Suy hadir dengan ketelanjangan yang lebih frontal. Ia tidak menutup mata terhadap carut-marut kaum urban di Jakarta, ketimpangan sosial, hingga trauma-trauma domestik yang kerap disenyapkan. Namun, alih-alih membenturkan kemarahan itu ke muka pembaca, Emi menyaringnya melalui saringan spiritualitas dan puitika kesunyian. Rasa perih akibat hantaman dunia luar diredam dengan laku tirakat, doa, dan kesadaran diri.

   ​Hubungan kepenulisan antara Emi Suy dan Sapardi Djoko Damono adalah sebuah bentuk pertalian estetik yang matang. Emi tidak jatuh pada jebakan peniruan gaya atau epigonisme, melainkan berhasil menangkap esensi paling murni dari kepeloporan Sapardi, bahwa kekuatan puisi sejati terletak pada kejujuran diksi, kesahajaan bentuk, dan kedalaman renungan. Melalui Perempuam Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri, Emi Suy telah merawat warisan estetik para maestro sastra Indonesia, meramunya dengan napas keperempuanan, dan mempersembahkannya sebagai perban serta rumah pulang bagi siapa saja yang tengah berjalan dalam gelap.


Surabaya, 27 September 2026

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id