Breaking News

Dialog Impresionisme dan Tradisi Seni Rupa Indonesia ​Oleh: Hamid Nabhan

   ​Kalau kita mau jujur, keberadaan impresionisme di Indonesia sebetulnya memang tidak bisa dilepaskan dari hadirnya pelukis-pelukis Eropa yang datang ke tanah air. Kedatangan mereka membawa pengaruh cara pandang dan teknik baru dalam menangkap lanskap alam, yang pada akhirnya ikut diserap dan ditiru oleh para pelukis kita.

   ​Gaya impresionis menjadi semakin akrab ketika para pelukis Eropa mulai rutin menggelar pameran-pameran di kota-kota besar Hindia Belanda saat itu. Melalui ruang-ruang pameran dan interaksi di lapangan inilah para pelukis lokal menyaksikan langsung bagaimana seniman luar menorehkan kuas secara lepas dan cepat untuk menangkap perubahan cahaya tropis. Proses peniruan ini adalah hal yang wajar dalam dunia seni, sebab dari belajarlah seorang pelukis mulai mengenali teknik dan instrumen berkarya.

   ​Menariknya, beberapa pelukis kita yang banyak menyerap pelajaran dari mereka justru berhasil menghasilkan karya-karya berkarakter impresionis yang sangat baik. Namun dalam perkembangannya, peniruan itu tidak berhenti sekadar menjadi jiplakan teknis. Saat para pelukis kita mempraktikkan teknik tersebut, objek dan rasa yang dituangkan adalah apa yang ada di depan mata mereka sehari-hari, kehidupan rakyat, suasana pedesaan, dan alam yang mereka hidupi sendiri.

   ​Pengaruh Eropa memberikan jalannya, sementara alam dan keseharian kita memberi isinya. Dari pengamatan saya, di situlah letak dialognya. Impresionisme memang datang sebagai pengaruh luar, tetapi ketika bersentuhan dengan tangan-tangan pelukis Indonesia, ia menjadi bagian dari perjalanan sejarah seni rupa kita dalam merekam keindahan tanah air.

(Red)

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id