Breaking News

Di Bawah Terpal PMI, KBM Darurat Bencana Kembali Hidup di SDK Aeramo

NAGEKEO, METRO GLOBAL NEWS — Selembar terpal putih kini menjadi ruang kelas sementara bagi siswa SDK Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Di bawah terpal bantuan Palang Merah Indonesia (PMI), kegiatan belajar mengajar (KBM) darurat bencana kembali berlangsung setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.

Tanpa dinding dan pintu kelas, belasan siswa duduk berkelompok dengan buku dan alat tulis di hadapan mereka. Sejumlah batang bambu digunakan sebagai penyangga terpal yang menjadi pelindung dari panas matahari.

Fasilitas yang tersedia memang jauh dari kata ideal. Namun, suasana belajar perlahan kembali terasa. Guru mengajar, siswa membaca, mengerjakan tugas, dan berinteraksi dengan teman-temannya.

KBM darurat bencana tersebut menjadi upaya untuk menjaga proses pendidikan tetap berjalan, terutama ketika kondisi bangunan sekolah belum sepenuhnya memungkinkan untuk digunakan.

Guru SDK Aeramo, Florentina Tey, mengatakan pembelajaran di bawah terpal masih memiliki banyak keterbatasan. Meski demikian, ruang belajar sementara itu sangat membantu siswa agar tidak kehilangan aktivitas pendidikan.

“Walaupun sederhana dan terbatas, lumayan untuk sekadar belajar. Daripada di rumah, sementara di dalam kelas belum bisa masuk,” ujar Florentina.

Bagi siswa, kembali belajar bukan sekadar soal mengejar pelajaran. Aktivitas tersebut juga menjadi bagian dari proses pemulihan setelah bencana.

Rasa takut terhadap bangunan sekolah masih dirasakan sebagian siswa. Bela, siswa kelas 5 SDK Aeramo, mengaku senang dapat kembali berkumpul dengan teman-temannya, meski dirinya masih belum berani mengikuti pembelajaran di dalam kelas.

“Senang saya bisa kumpul dan belajar bareng teman-teman saya, tetapi sampai saat ini masih takut kalau belajar di dalam kelas,” katanya.

Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Panteleon Jogo, mengatakan penyediaan terpal untuk KBM darurat bencana dilakukan agar aktivitas pendidikan tetap dapat berlangsung di tengah kondisi sejumlah sekolah yang belum memungkinkan digunakan.

“Dengan adanya terpal untuk KBM ini, kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan baik bagi guru dan siswa. Ada beberapa sekolah yang sudah tidak layak ditempati karena kondisinya tidak memungkinkan untuk melaksanakan KBM,” kata Kristianus.

Menurutnya, dukungan dalam situasi pascabencana tidak hanya menyangkut kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga memastikan anak-anak tetap memperoleh hak mereka untuk belajar.

Kondisi di SDK Aeramo memperlihatkan bahwa pemulihan pascagempa bukan hanya persoalan memperbaiki bangunan yang rusak. Anak-anak juga membutuhkan ruang yang aman agar dapat kembali menjalani rutinitas dan perlahan memulihkan rasa percaya diri setelah bencana.

Panas matahari, lantai tanah, dan keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat para siswa. Buku kembali terbuka, guru kembali mengajar, dan aktivitas sekolah perlahan hidup kembali.

Terpal itu memang bukan ruang kelas permanen.

Namun, bagi anak-anak Aeramo, terpal tersebut menjadi jembatan untuk tetap belajar ketika ruang kelas belum sepenuhnya aman digunakan.

Di bawah terpal PMI, KBM darurat bencana menjadi bagian kecil namun penting dari proses pemulihan.

Sederhana dan terbatas, tetapi dari ruang belajar sementara itulah pendidikan kembali bergerak.

Anak-anak kembali berkumpul. Guru kembali mendampingi. Dan sekolah perlahan kembali hidup.

Di tengah rasa takut yang masih tersisa akibat gempa, KBM darurat bencana di SDK Aeramo menjadi langkah kecil untuk mengembalikan keberanian anak-anak menatap hari esok.


Penulis  : James Bisara

MGN      : Nagekeo

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id