Breaking News

Di Balik Warna Biru Bunga Iris Van Gogh Oleh: Hamid Nabhan

   ​Bunga iris yang kini tampak didominasi warna biru pada mahakarya Vincent van Gogh menyimpan sebuah kisah pergulatan emosional, sains modern, dan pelarian kreatif yang lahir di tengah sunyinya suaka mental. Pada Mei 1889, Van Gogh secara sukarela masuk ke rumah sakit jiwa Saint-Paul-de-Mausole di Saint-Remy-de-Provence, setelah mengalami krisis mental yang berat di Arles. 

   Di tempat inilah, di antara tembok-tembok rumah sakit dan taman yang menjadi satu-satunya jendela dunianya, ia menciptakan lukisan Irises, sebuah karya yang tidak hanya merekam keindahan alam, tetapi juga berfungsi sebagai penawar deritanya sendiri.

   ​Selama bulan-bulan pertamanya di suaka tersebut, ketika ruang geraknya terbatas hanya di area taman suaka khusus pasien pria, Van Gogh menemukan ketenangan di antara hamparan tanaman bunga. Ia memandang proses melukis bukan sekadar aktivitas artistik, melainkan sebagai bentuk terapi jiwa yang menyelamatkannya dari jurang keputusasaan. 

   Dalam surat-suratnya kepada sang adik, Theo van Gogh, ia bahkan menyebut lukisan ini sebagai "penangkal petir bagi penyakitnya" (lightning rod for my illness) karena ritme dan konsentrasi melukis mampu meredam gejolak batin dan ketakutan akan kegilaannya.

​Secara visual, karya ini memamerkan kepiawaian Van Gogh dalam menyederhanakan bentuk-bentuk kompleks alam tanpa kehilangan esensinya. Ia sangat terpengaruh oleh seni cetak blok kayu Jepang atau ukiyo-e yang dikoleksinya selama di Paris, yang tampak jelas pada penggunaan garis luar (outline) yang tegas, sudut pandang yang dinamis, serta komposisi potongan yang rapat. 

   Di atas hamparan tanah berwarna merah-cokelat dan latar belakang marigold oranye, rumpun bunga iris berdiri tegak dengan daun-daun berbentuk pedang yang meliuk dinamis, diselingi oleh satu tangkai bunga iris putih yang mencuri perhatian di antara lautan warna. Ia memadukan warna-warna komplementer dengan cermat, seperti nuansa hijau pucat dan biru yang kontras dengan kehangatan warna tanah, untuk menciptakan ritme visual yang hidup.

   ​Namun, rahasia terbesar dari lukisan ini baru terungkap melalui sains modern. Penelitian konservasi dan ujilaboratoris  tingkat lanjut yang dilakukan oleh J. Paul Getty Museum menemukan bahwa warna bunga iris yang kita saksikan hari ini sebenarnya telah berubah dari rona aslinya. Van Gogh awalnya melukis kelopak bunga tersebut dengan warna ungu (violet), menggunakan pigmen merah sensitif yang dikenal sebagai geranium lake. Akibat paparan cahaya matahari dan lingkungan selama bertahun-tahun, komponen pigmen merah tersebut perlahan memudar dan hilang, meninggalkan dominasi pigmen biru yang mendefinisikan penampilannya sekarang.

   ​Perjalanan hidup lukisan ini setelah meninggalkan tangan sang seniman juga penuh dengan liku sejarah. Pertama kali dikirim ke Paris, Theo van Gogh langsung terpikat dan memamerkannya untuk publik dalam pameran Societe des Artistes Independants pada September 1889, bersanding dengan Starry Night over the Rhone. Theo menulis bahwa lukisan tersebut langsung menarik perhatian dari kejauhan karena memancarkan udara dan kehidupan yang luar biasa. Setelah berpindah-pindah tangan melalui sejumlah kolektor dan kritikus seni terkemuka, termasuk Julien Tanguy dan Octave Mirbeau, Irises sempat mencetak rekor dunia sebagai lukisan termahal yang terjual seharga 53,9 juta dolar AS pada tahun 1987, sebelum akhirnya berlabuh secara permanen di J. Paul Getty Museum di Los Angeles sejak tahun 1990.

   Dari balik kesunyian sebuah rumah sakit jiwa di Provence hingga menjadi harta karun dunia seni global, Irises tetap abadi sebagai bukti ketangguhan jiwa manusia yang mengubah penderitaan menjadi keindahan abadi.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id