Breaking News

Di Balik Nama Besar Dolira Advonso Chavid Oleh: Hamid Nabhan

   ​Sebuah nama kerap hidup jauh lebih panjang daripada raga pemiliknya, bahkan sering kali terlepas kendali dari kehendak si empunya semasa hidup. Di Kota Surabaya, nama Dolly telanjur melekat erat sebagai simbol salah satu kawasan tersohor di Nusantara. Namun di balik riuh rendah sejarah sosial dan segala stigma yang mengitarkannya, tersimpan kisah manusia yang jauh lebih sunyi, sebuah perjalanan hidup, pergulatan batin, hingga babak akhir di sebuah tempat peristirahatan terakhir di Malang.

   ​Selama bertahun-tahun, mitos urban beredar liar di tengah masyarakat. Kawasan di Jalan Kupang Gunung Timur itu kerap dinarasikan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, didirikan oleh sosok perempuan asing bernama "Dolly van der Mart" untuk melayani serdadu kolonial. Padahal, penelusuran arsip dan catatan sejarah menunjukkan realitas yang sama sekali berbeda.

​Perempuan di balik inisial tersebut adalah Dolira Advonso Chavid, atau yang lebih dikenal sebagai D.A. Chavid, seorang perempuan kelahiran Surabaya pada 15 September 1929. Dari garis keturunan ayahnya, ia memang membawa darah blasteran Eropa, sebuah latar belakang fisik dan perawakan yang kerap memicu berbagai spekulasi serta distorsi cerita dari mulut ke mulut.

   ​Kehidupan Mami Dolly tidak bermula dari kemewahan era kolonial, melainkan dari perjuangan keras pascakemerdekaan. Setelah ditinggal wafat oleh suaminya, seorang kelasi berkebangsaan Belanda bernama Soukup alias Jacop, ia harus berjuang seorang diri menghidupi putranya. Ia sempat menjalani masa-masa sulit sebelum akhirnya terjun ke dunia malam pada dekade 1950-an, berguru di bawah asuhan mucikari Tante Beng di kawasan Kembang Kuning, hingga akhirnya merintis usahanya sendiri di Kupang Gunung Timur I pada akhir dekade 1960-an.

   ​Ironisnya, di tengah kepopuleran kawasan tersebut semasa hidupnya, Mami Dolly justru menyimpan kekecewaan yang mendalam. Dalam sebuah wawancara arsip majalah lama pada tahun 1990, ia pernah melontarkan protes retoris yang merefleksikan isi hatinya: "Kenapa kok (pakai) namaku? Padahal germo di sana kan banyak?" Ia menyadari bahwa wismanya hanyalah salah satu dari sekian banyak yang beroperasi, tetapi takdir telanjur menempatkannya sebagai lambang tunggal dari sebuah kompleksitas sosial yang besar.

   ​Memasuki masa senjanya, ia memilih meninggalkan hingar-bingar Surabaya dan menghabiskan sisa hidupnya di Malang. Hingga pada 7 Januari 1992, Dolira Advonso Chavid menutup usia. Ia dimakamkan di TPU Sukun, Malang, beristirahat dalam kesunyian berdampingan dengan sang buah hati, Eduard Soukup Eddy. Pusara sederhana dengan batu nisan bertuliskan inisial D.A. Chavid tersebut kini menjadi saksi bisu terakhir dari riwayat seorang manusia di balik nama besar yang abadi dalam catatan sejarah lokal.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id