NAGEKEO, Metro Global News — Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Nagekeo memperkuat strategi distribusi bantuan dengan mengerahkan kendaraan roda dua untuk menjangkau masyarakat terdampak yang berada di wilayah terisolasi dan sulit dilalui kendaraan roda empat.
Langkah tersebut merupakan hasil evaluasi pelaksanaan tanggap darurat selama tiga hingga empat hari terakhir. Hasil pemantauan menunjukkan masih terdapat sejumlah wilayah yang menghadapi kendala akses akibat kondisi jalan, medan berat, kerusakan infrastruktur, serta karakteristik geografis wilayah.
Ketua Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, mengatakan keterbatasan akses tidak boleh menjadi alasan bagi masyarakat di wilayah terpencil untuk luput dari pelayanan dan bantuan pemerintah.
Bersinergi dengan TNI, Polri dan Relawan
Gonzalo menegaskan, upaya menjangkau wilayah terisolasi tidak dilakukan Satgas secara sendiri. Pemerintah daerah terus membangun sinergi dengan TNI, Polri dan para relawan untuk memastikan proses evakuasi, distribusi logistik, pendataan kebutuhan serta pelayanan kepada masyarakat terdampak berjalan secara terpadu.
Menurutnya, kolaborasi seluruh unsur menjadi penting karena kondisi geografis dan akses menuju sejumlah wilayah membutuhkan penanganan yang cepat, fleksibel dan sesuai dengan karakter medan.
Meskipun jumlah masyarakat di sejumlah titik relatif tidak besar, mereka tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dan bantuan.
“Targetnya bukan wilayah kota, bukan jalan negara atau jalan utama. Kita arahkan ke pedalaman, ke tempat-tempat yang sulit,” ujar Gonzalo.»
Roda Dua Jadi Strategi Menjangkau Wilayah Sulit
Gonzalo menjelaskan, penggunaan kendaraan roda dua merupakan strategi yang lahir dari evaluasi kondisi riil di lapangan.
Kendaraan roda dua dinilai lebih fleksibel untuk menjangkau kawasan yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat, terutama pada jalur sempit, medan berat maupun wilayah yang akses jalannya masih terganggu akibat gempa.
Mobilisasi kendaraan akan melibatkan personel maupun pihak-pihak yang memahami karakter medan dan akses menuju desa-desa yang sulit dijangkau.
Jumlah kendaraan yang dikerahkan juga tidak ditentukan secara kaku. Satgas akan menyesuaikan mobilisasi berdasarkan laporan kebutuhan dan kondisi aktual di setiap wilayah.
«“Kalau di satu titik membutuhkan lima, kita kirim lima. Kalau tiga, kita kirim tiga. Kita evaluasi terus karena kondisi di lapangan bisa berubah,” katanya.»
Pola tersebut diharapkan mampu memperkecil kesenjangan distribusi bantuan antara wilayah yang mudah dijangkau dengan kawasan pedalaman.
Fasilitas Kesehatan Jadi Perhatian
Selain distribusi logistik, Satgas memberikan perhatian khusus terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang terdampak gempa.
Hasil evaluasi menunjukkan masih terdapat sejumlah fasilitas kesehatan yang membutuhkan dukungan tenda agar pelayanan kesehatan tetap berjalan. Sebagian fasilitas belum dapat menggunakan bangunan utama secara optimal karena pertimbangan keselamatan pascagempa.
Satgas kemudian melakukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperoleh dukungan tenda bagi fasilitas kesehatan yang membutuhkan.
Sejumlah tenda mulai didistribusikan ke beberapa titik berdasarkan tingkat urgensi dan hasil pemetaan kebutuhan di lapangan.
Sementara untuk fasilitas kesehatan di wilayah perkotaan, pemerintah masih menyiapkan cadangan tenda di rumah sakit umum sehingga kebutuhan dapat dipenuhi secara bertahap sesuai perkembangan situasi.
Kelompok Rentan Diprioritaskan
Dalam penanganan pengungsi, kelompok rentan menjadi salah satu perhatian utama Satgas.
Kelompok tersebut meliputi bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan lanjut usia.
Gonzalo menjelaskan, keterbatasan jumlah maupun ukuran tenda keluarga membuat penempatannya harus dilakukan berdasarkan hasil identifikasi dan tingkat kebutuhan masing-masing keluarga.
Faktor cuaca juga menjadi pertimbangan. Tenda keluarga dapat terasa panas pada siang hari, namun memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pengungsi pada malam hari.
Karena itu, pemerintah tidak semata-mata mengejar jumlah tenda yang terpasang, tetapi memastikan fasilitas tersebut diberikan kepada masyarakat yang paling membutuhkan.
Satgas juga terus melakukan pendataan terhadap bayi dan kelompok rentan yang masih berada di rumah maupun lokasi pengungsian.
Pendataan tersebut dilakukan untuk memastikan kelompok rentan memperoleh perlindungan, kebutuhan dasar serta dukungan logistik yang memadai selama masa tanggap darurat.
Distribusi Beras Disesuaikan dengan Kebutuhan
Pada sektor pangan, Satgas melakukan penataan distribusi beras agar bantuan tepat sasaran sekaligus mencegah terjadinya tumpang tindih dengan program bantuan pemerintah lainnya.
Beras yang masuk ke posko tidak seluruhnya langsung dibagikan kepada masyarakat di sekitar posko. Sebagian diarahkan ke wilayah yang benar-benar membutuhkan, khususnya kawasan terisolasi yang sulit menerima makanan siap saji secara rutin.
Menurut Gonzalo, makanan siap saji memiliki keterbatasan dalam pendistribusiannya ke wilayah pedalaman. Karena itu, beras menjadi salah satu bentuk bantuan yang lebih memungkinkan dikirim ke daerah dengan akses sulit.
Di sisi lain, pemerintah juga memperoleh dukungan melalui program Badan Pangan Nasional yang disalurkan melalui dinas terkait bagi masyarakat terdampak bencana.
Skema tersebut memiliki cakupan lebih luas karena bantuan dapat diberikan berdasarkan data kependudukan dan jumlah kepala keluarga di masing-masing desa.
«“Semua masyarakat Kabupaten Nagekeo dari desa memiliki hak yang sama. Jumlah penduduk dan jumlah KK menjadi dasar, kemudian bantuannya bisa langsung keluar,” jelas Gonzalo.»
Menurutnya, mekanisme tersebut lebih efektif dibandingkan hanya mendistribusikan bantuan dalam jumlah kecil kepada setiap dusun.
Karena itu, pemerintah mendorong pemerintah desa memanfaatkan skema bantuan tersebut dengan melengkapi persyaratan administrasi yang telah disederhanakan.
Data jumlah kepala keluarga dan anggota keluarga menjadi bagian penting dalam proses pengajuan bantuan.
«“Daripada kepala desa pulang hanya membawa dua karung, lebih baik memanfaatkan skema yang bisa mendapatkan bantuan dalam jumlah lebih besar dan signifikan,” ujarnya.»
Bantuan beras yang tersedia di posko juga dapat dialokasikan kepada kelompok yang tidak tercakup dalam skema bantuan reguler, termasuk panti asuhan serta kelompok lanjut usia tertentu.
Sanitasi Pengungsian Masih Jadi Perhatian
Di tengah pemenuhan kebutuhan pangan dan tempat tinggal sementara, persoalan sanitasi menjadi kebutuhan lain yang tidak boleh diabaikan.
Keterbatasan toilet portabel di sejumlah lokasi pengungsian menyebabkan sebagian pengungsi harus mencari fasilitas sanitasi di luar area pengungsian.
Situasi tersebut menjadi persoalan tersendiri, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, lansia, bayi, balita dan kelompok rentan lainnya.
Satgas memastikan kebutuhan sanitasi masuk dalam pemetaan lapangan dan akan ditangani berdasarkan skala prioritas.
Gonzalo menegaskan, penanganan bencana tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan makanan dan tempat berlindung. Aspek kesehatan, sanitasi, perlindungan kelompok rentan serta akses terhadap bantuan harus ditangani secara bersamaan.
Bantuan Harus Sampai ke Titik Terjauh
Satgas memastikan strategi distribusi akan terus dievaluasi mengikuti dinamika di lapangan.
Pendekatan berbasis kebutuhan dan aksesibilitas menjadi bagian penting untuk memastikan bantuan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah yang mudah dijangkau.
Dengan pengerahan kendaraan roda dua, sinergi bersama TNI, Polri dan relawan, pemetaan kelompok rentan, penguatan fasilitas kesehatan, penataan distribusi pangan serta perhatian terhadap sanitasi, pemerintah berupaya memperluas jangkauan pelayanan hingga ke titik-titik terdampak yang memiliki keterbatasan akses.
Bagi Satgas, keberhasilan penanganan bencana bukan hanya diukur dari seberapa banyak bantuan yang terkumpul dan disalurkan, tetapi juga dari sejauh mana bantuan tersebut mampu menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Gonzalo menegaskan, masyarakat yang tinggal di wilayah sulit dijangkau tetap memiliki hak yang sama untuk memperoleh bantuan dan pelayanan pemerintah.
“Yang penting bantuan itu sampai kepada mereka yang membutuhkan. Daerah yang sulit dijangkau justru jangan sampai terlewat,” tegas Gonzalo.
Penulis : James Bisara
MGN : Nagekeo

Social Header