NAGEKEO - METRO GLOBAL NEWS || Persoalan konsumsi di tengah penanganan darurat gempa bumi di Kabupaten Nagekeo kembali menjadi perhatian. Sejumlah relawan yang berada di lapangan mengeluhkan makanan yang mereka terima dari dapur umum BNPB karena diduga sudah tidak layak konsumsi atau basi.
Keluhan tersebut muncul di tengah kondisi para relawan yang setiap hari bekerja membantu masyarakat terdampak gempa. Mereka harus menjalankan berbagai tugas kemanusiaan, mulai dari distribusi bantuan, membantu pengungsi, mendirikan tenda, hingga mendukung pelayanan di sejumlah titik terdampak.
Dalam kondisi fisik yang terkuras akibat aktivitas di lapangan, makanan menjadi kebutuhan penting untuk menjaga stamina para relawan. Namun, makanan yang diterima justru dikeluhkan memiliki kondisi yang tidak layak.
Dokumentasi yang beredar memperlihatkan paket makanan berupa nasi dan lauk. Selain terdapat lauk telur yang tampak gosong, relawan juga menyampaikan keluhan bahwa makanan tersebut diduga sudah basi.
Keluhan ini tentu perlu mendapat perhatian serius. Metro Global News tidak menyimpulkan secara sepihak bahwa makanan tersebut telah basi sebelum adanya pemeriksaan atau verifikasi dari pihak berwenang. Namun, laporan dan dokumentasi dari relawan perlu segera ditindaklanjuti untuk memastikan keamanan pangan yang diberikan selama masa tanggap darurat.
Para relawan merupakan bagian penting dalam operasi kemanusiaan. Mereka bekerja dalam situasi yang jauh dari kondisi normal, menghadapi kelelahan, cuaca, keterbatasan fasilitas, serta tekanan akibat kondisi bencana.
Karena itu, dukungan terhadap relawan seharusnya tidak hanya berupa fasilitas kerja, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar yang layak, termasuk makanan yang bersih, bergizi, cukup, dan aman dikonsumsi.
Jika makanan benar-benar mengalami kerusakan atau basi, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kesehatan relawan dan pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam menjalankan tugas kemanusiaan di lapangan.
Pengelola dapur umum BNPB diharapkan segera melakukan pengecekan terhadap seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari kualitas bahan baku, proses memasak, waktu produksi, penyimpanan, suhu makanan, pengemasan hingga distribusi kepada penerima.
Pengawasan terhadap masa simpan makanan juga menjadi penting. Dalam kondisi darurat, makanan yang telah disiapkan dalam jumlah besar harus dikelola dengan sistem yang memastikan makanan tetap aman ketika diterima dan dikonsumsi.
Relawan yang bekerja membantu korban gempa juga merupakan manusia yang membutuhkan perlindungan dan perhatian. Mereka tidak seharusnya mengorbankan kesehatan hanya karena persoalan konsumsi yang semestinya dapat dikendalikan.
Keluhan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan dapur umum agar kualitas makanan tetap terjaga dan kejadian serupa tidak kembali dialami para relawan maupun masyarakat terdampak.
Dalam situasi bencana, bantuan kemanusiaan bukan hanya tentang seberapa banyak makanan yang dapat disalurkan, tetapi juga tentang kelayakan, keamanan, kebersihan, dan penghormatan terhadap mereka yang menerima bantuan.
Penulis : James Bisara
MGN : Nagekeo

Social Header