Di balik lembar kanvas yang selesai dilukis, selalu ada cerita, kesabaran, dan proses kreatif yang tidak disaksikan oleh penikmat seni. Bagi seorang pelukis impresionis, ruang proses ini sering kali diuji oleh dinamika alam dan ketidakpastian cuaca di lapangan.
Ada satu pengalaman menarik yang tak pernah saya lupakan ketika berburu objek. Saat itu, saya hendak merekam sebuah sudut pemandangan yang artistik melalui jepretan kamera, dengan niat untuk mengeksekusi dan menyelesaikannya di dalam studio. Namun, tepat ketika kamera hendak membidik, arak-arakan awan tebal tiba-tiba datang menutupi sinar matahari. Seketika itu pula, karakter objek yang semula memikat berubah menjadi redup, kusam, dan kehilangan kilau cahayanya. Hasil foto yang tertangkap kamera terasa sangat datar, jauh dari kata sempurna, dan tidak mampu mewakili esensi keindahan yang saya tangkap lewat mata indra.
Di sinilah ujian ketabahan seorang pelukis dimulai. Demi mendapatkan pencahayaan yang ideal (natural lighting), saya rela berdiri menunggu dalam waktu yang cukup lama di tempat itu. Saya menunggu dengan sabar hingga gumpalan awan itu bergeser dan matahari kembali menyembul utuh. Begitu sinar mentari kembali memantul di atas objek, seketika itu pula bayangan, dimensi, dan warna-warna asli lanskap tersebut terpancar sempurna. Jepretan kedua pun saya ambil, lalu saya bandingkan dengan foto pertama di layar kamera. Perbandingannya sangat kontras: foto pertama tampak datar warna-warni keindahan seketika hilang, sementara foto kedua begitu kaya warna dan hidup.
Pengalaman tersebut makin mempertegas alasan mengapa saya begitu menyukai dan jatuh cinta pada suasana musim kemarau. Di saat kemarau, langit terbuka lebar dan pancaran sinar matahari hadir begitu sempurna, terang, dan stabil. Cahaya terik kemarau memantulkan sinar visual yang sangat indah, tajam, dan spesifik pada setiap lekuk objek, mulai dari ranting pohon jati yang meranggas, bukit-bukit kapur, hingga gubuk petani di tepi tambak.
Pengalaman atau catatan kecil di luar kanvas inilah yang membentuk karakter dan kedalaman sebuah karya. Setiap lukisan menyimpan cerita tentang waktu yang dikorbankan, dialog dengan alam, serta kepekaan dalam menunggu momen paling estetik sebelum kuas pertama digoreskan.

Social Header