NAGEKEO - Metro Global News || Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nagekeo terus memperkuat respons kemanusiaan pascagempa melalui layanan Restoring Family Links (RFL). Di bawah koordinasi Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, Tim Tanggap Darurat (TDB) bersama relawan bergerak dari satu titik pengungsian ke titik lainnya untuk memastikan penyintas tetap terhubung dengan keluarga.
Bagi PMI Nagekeo, pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak bencana tidak hanya berkaitan dengan pangan, air bersih, tempat tinggal dan pelayanan kesehatan. Akses komunikasi dan kepastian keberadaan anggota keluarga juga menjadi kebutuhan penting yang harus dijaga selama masa tanggap darurat.
Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, menegaskan pentingnya layanan RFL dalam kondisi bencana.
“Dengan adanya RFL ini sangat membantu,” kata Kristianus.
Menurut Kristianus, situasi pengungsian dapat membuat masyarakat kehilangan akses komunikasi atau kesulitan mengetahui keberadaan anggota keluarga. Karena itu, PMI Nagekeo melalui TDB dan relawan terus hadir langsung di tengah masyarakat untuk melakukan edukasi, monitoring serta membuka akses komunikasi bagi penyintas.
Ketua PMI Dorong Relawan Perkuat Layanan di Pengungsian
Arahan tersebut kemudian diterjemahkan relawan PMI dengan mendatangi langsung sejumlah lokasi pengungsian.
Salah satu titik yang menjadi sasaran monitoring adalah Camp Umum Dadiwuwu, Kelurahan Lape, yang merupakan Posko 3. Di lokasi yang dihuni sekitar 360 jiwa tersebut, relawan memberikan edukasi mengenai mekanisme RFL sekaligus memantau kondisi komunikasi antaranggota keluarga.
Koordinator RFL, Goudensius Mantang dan Maria A. Kizu, bersama relawan memastikan masyarakat memahami fungsi layanan tersebut dan mengetahui ke mana harus melapor apabila kehilangan kontak dengan anggota keluarga.
Hasil monitoring sementara menunjukkan masyarakat di Camp Umum Dadiwuwu masih dapat berkomunikasi dengan keluarga. Hingga kegiatan dilakukan, belum ditemukan laporan adanya anggota keluarga yang terpisah akibat gempa.
Namun, PMI tidak berhenti pada pendataan.
Untuk memperluas akses layanan, relawan juga menyediakan telepon gratis bagi penyintas yang membutuhkan komunikasi dengan keluarga.
Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran PMI di lokasi pengungsian. Penyintas yang mengalami keterbatasan akses komunikasi dapat menggunakan fasilitas tersebut untuk memastikan kondisi dan keberadaan keluarga.
Posko Berdikari Juga Menjadi Sasaran Monitoring
Penguatan RFL juga dilakukan di Posko 4, Lapangan Berdikari.
Di lokasi tersebut terdapat sekitar 25 kepala keluarga, sementara pendataan jumlah jiwa masih berlangsung. Mobilitas masyarakat yang cukup tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam pemutakhiran data.
Meski demikian, relawan tetap melakukan monitoring untuk memastikan tidak ada laporan anggota keluarga yang kehilangan kontak maupun terpisah akibat bencana.
Hasil pemantauan sementara menunjukkan belum terdapat laporan keluarga yang terpisah di lokasi tersebut.
Kondisi itu tidak membuat PMI menghentikan pemantauan. Justru, monitoring tetap dilakukan karena situasi masyarakat di pengungsian dapat berubah sewaktu-waktu.
Kristianus: Relawan Adalah Ujung Tombak
Kristianus Pantaleon Jogo menilai keberadaan relawan di lapangan menjadi kekuatan utama dalam memastikan layanan RFL berjalan efektif.
Relawan bukan hanya memberikan edukasi. Mereka juga mendengarkan kebutuhan penyintas, memantau kondisi keluarga, membantu membuka akses komunikasi serta mengidentifikasi kemungkinan adanya anggota keluarga yang kehilangan kontak.
“RFL ini sangat membantu,” tegas Kristianus.
Bagi Ketua PMI Nagekeo, keberadaan layanan tersebut menunjukkan bahwa respons kemanusiaan harus melihat kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
Dalam kondisi bencana, seseorang tidak hanya membutuhkan makanan dan tempat berlindung. Kepastian bahwa orang tua, anak, saudara atau anggota keluarga lainnya berada dalam kondisi aman juga menjadi bagian dari rasa aman penyintas.
RFL Bukan Sekadar Telepon Gratis
PMI Nagekeo menegaskan bahwa RFL tidak sebatas menyediakan fasilitas telepon gratis.
Layanan tersebut merupakan bagian dari mekanisme kemanusiaan untuk membantu masyarakat memulihkan dan mempertahankan hubungan dengan keluarga, terutama ketika komunikasi terputus atau anggota keluarga terpisah akibat bencana.
Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dari kerja relawan.
Masyarakat diberikan pemahaman mengenai langkah yang harus dilakukan apabila kehilangan kontak dengan keluarga. PMI kemudian dapat membantu melalui mekanisme RFL sesuai kebutuhan dan kondisi kasus yang ditemukan di lapangan.
Dengan pendekatan tersebut, PMI Nagekeo berupaya memastikan persoalan kehilangan kontak keluarga tidak luput dari perhatian di tengah besarnya penanganan pascagempa.
PMI Nagekeo Terus Bergerak
Melalui TDB dan jaringan relawan, PMI Kabupaten Nagekeo terus melakukan monitoring dari satu titik pengungsian ke titik lainnya.
Kinerja lapangan tersebut menjadi bagian dari upaya Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, untuk memastikan layanan kemanusiaan PMI benar-benar menjangkau masyarakat terdampak.
Bagi PMI Nagekeo, keberhasilan respons bencana tidak semata-mata diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan. Ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting, yakni memastikan penyintas memperoleh informasi, merasa aman dan tetap memiliki akses untuk terhubung dengan keluarga.
Di tengah situasi pengungsian pascagempa, PMI Nagekeo bersama para relawan terus menjaga koneksi kemanusiaan itumemastikan penyintas tidak merasa sendirian ketika menghadapi masa sulit.
Penulis : James Bisara
MGN : Nagekeo


Social Header