Era Victoria (1837–1901) di Inggris dikenal luas sebagai masa ketika identitas keagamaan Kristen melekat erat dengan tatanan sosial masyarakatnya. Namun, di balik kemapanan tersebut, sejarah mencatat adanya sejumlah kaum bangsawan dan intelektual yang justru menemukan ketenteraman jiwa dalam pelukan Islam. Salah satu figur paling memukau dari gelombang tersebut adalah Lady Evelyn Cobbold.
Lahir di Edinburgh pada 17 Juli 1867 dengan nama Lady Evelyn Murray, ia merupakan putri sulung dari pasangan Charles Adolphus Murray, Earl of Dunmore ke-7, dan Lady Gertrude Coke.
Masa kecilnya diwarnai oleh pengalaman lintas budaya yang tidak biasa bagi kalangan aristokrat seusianya. Ia banyak menghabiskan musim dingin di Aljazair dan Kairo, di mana ia akrab dengan para pengasuh Muslim, mengunjungi masjid, serta tumbuh dengan kefasihan berbahasa Arab. Tanpa disadarinya saat itu, fondasi keislamannya telah tertanam sejak dini.
Titik balik menuju pengakuan iman yang terbuka terjadi dalam sebuah momen spontan di Roma, Italia. Ketika seorang pejabat tinggi gereja bertanya kepadanya secara mendadak mengenai keyakinannya, Lady Evelyn tanpa ragu menjawab bahwa ia adalah seorang Muslim. Percakapan tak terduga itu memicunya untuk mendalami literatur Islam lebih serius.
Bagi Lady Evelyn, Islam adalah agama yang paling masuk akal untuk menjawab berbagai persoalan pelik dunia serta menghadirkan kedamaian hakiki. Ia pun secara resmi memeluk Islam pada tahun 1915 dan mengambil nama Islam, Zainab.
Puncak dari perjalanan spiritualnya terjadi pada April 1933. Di usianya yang menginjak 65 tahun, setelah permohonannya dikabulkan oleh Raja Abdul Aziz, ia menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Perjalanan bersejarah ini menjadikannya wanita kelahiran Inggris pertama yang berhasil menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Kisah perjalanannya di Tanah Suci diabadikan dalam sebuah karya memoir bertajuk Pilgrimage to Mecca (1934), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul Min Landan ila Makkah (Dari London ke Mekkah). Melalui catatan hariannya, ia melukiskan kekagumannya yang luar biasa saat pertama kali menyaksikan Ka'bah, mendeskripsikannya sebagai "rumah Allah yang berdiri dengan keagungan sederhana," sementara ia merasa hanyalah satu unit kecil yang terhanyut dalam gelombang kebahagiaan spiritual.
Selain dimensi spiritualnya, catatan tersebut juga merekam potret unik kondisi sosio-geografis Arab Saudi pada tahun 1933 sebelum era minyak bumi masif. Ia menyaksikan langsung bagaimana Raja Abdul Aziz mengatur lalu lintas di Mekkah dengan melarang penggunaan mobil pada puncak haji (8 Dzulhijjah) demi mengurai kepadatan, sebuah bukti bahwa dinamika logistik musim haji telah menjadi perhatian sejak era awal kerajaan modern tersebut.
Lady Evelyn menghabiskan sisa hidupnya hingga akhir hayat pada Januari 1963 di usia 95 tahun. Sesuai dengan wasiat terakhirnya, ia meminta untuk dimakamkan di sebuah lereng bukit terpencil di perkebunannya di Glencarron, Wester Ross, Skotlandia, dengan posisi makam yang menghadap ke arah Ka'bah di Mekkah. Di atas batu nisannya, terukir penggalan ayat suci Al-Qur'an dari Surat An-Nur ayat 35: Allahu nur-us-samawati wal ard (Allah adalah cahaya langit dan bumi).
Perjalanan hidup Lady Evelyn Cobbold bukan sekadar catatan tentang seorang mualaf dari kalangan elit, melainkan sebuah kisah keteguhan hati seorang perempuan tangguh yang melintasi batasan budaya dan zaman demi menggapai ketenangan batin di jalan Tuhannya.


Social Header