Kisah hidup Saroo Brierley adalah salah satu narasi paling mengharukan dan luar biasa di era modern. Lahir di Khandwa, India, sekitar tahun 1981 dengan nama asli Sheru Munshi Khan, Saroo kecil harus merasakan pahitnya kemiskinan dan kerasnya kehidupan jalanan sejak usia dini.
Puncak titik balik kehidupannya terjadi pada tahun 1986. Saat berusia lima tahun, ia ikut sang kakak, Guddu, ke stasiun kereta api.
Kelelahan menunggu, Saroo tertidur di dalam gerbong kereta kosong yang ternyata bergerak menjauh, membawanya sejauh hampir 1.500 kilometer ke kota megapolitan Kolkata (dulu Kalkuta). Di sana, ia terdampar tanpa tahu arah, bahasa lokal yang berbeda, serta tidak mengetahui nama kampung halamannya sendiri.
Setelah berminggu-minggu bertahan hidup di jalanan yang berbahaya, Saroo akhirnya diselamatkan dan ditempatkan di sebuah panti asuhan. Tak lama kemudian, takdir membawanya melintasi samudra setelah ia diadopsi oleh pasangan asal Tasmania, Australia, yaitu Sue dan John Brierley.
Mereka memberikan kehidupan baru yang penuh kasih, pendidikan, dan keluarga. Meskipun tumbuh dalam kenyamanan di Australia, potongan memori masa kecil, seperti menara air, jembatan penyeberangan, rel kereta, dan tata letak lingkungan, terus terpatri di dalam kepalanya.
Sebagai orang dewasa, Saroo memutuskan untuk menggunakan teknologi Google Earth guna memecahkan teka-teki masa lalunya. Berbekal radius waktu perjalanan kereta dan potongan memori visual, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun menelusuri jalur rel kereta api di India secara digital. Hingga pada akhirnya, ketekunan itu membuahkan hasil ketika ia menemukan wilayah Ganesh Talai di Khandwa yang persis seperti ingatannya.
Pada tahun 2012, Saroo menginjakkan kembali kakinya di tanah kelahiran yang telah ia tinggalkan selama 25 tahun. Dengan menunjukkan foto masa kecilnya kepada warga lokal, ia akhirnya dipertemukan kembali dengan sang ibu kandung, Fatima, yang tidak pernah berhenti mendoakan dan menantinya pulang. Pertemuan tersebut menjadi bukti nyata bagaimana keteguhan hati, harapan yang tak pernah padam, serta kemajuan teknologi dapat menyatukan kembali sebuah keluarga yang terpisah oleh ruang dan waktu.
Kisah inspiratif ini kemudian diabadikan dalam memoar bertajuk A Long Way Home (2013) dan diadaptasi menjadi film layar lebar berkelas dunia berjudul Lion (2016) yang sukses meraih berbagai nominasi Oscar. Saat ini, Saroo menetap di Hobart, Tasmania, dan aktif berkarier sebagai seorang pebisnis, penulis, serta pembicara internasional yang membagikan pesan tentang kekuatan harapan dan arti sebuah keluarga.


Social Header