NAGEKEO - Metro Global News || Duka kembali menyelimuti warga Dusun Nggolonio RT 01 Desa Nggolonio Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Seorang pemuda berinisial LM, 19 tahun, yang baru menyelesaikan pendidikan SMA, ditemukan meninggal dunia di sekitar rumah orang tuanya pada Kamis (20/8/2026).
Berdasarkan keterangan Kepala Desa Nggolonio, Oris Lengga, yang diperoleh Metro Global News, korban disebut mengalami perubahan perilaku setelah gempa bumi yang mengguncang Flores dan sekitarnya pada Sabtu (15/8/2026).
Pihak keluarga mengatakan, setelah gempa, korban mulai menunjukkan rasa takut yang lebih kuat. Ia disebut menjadi lebih penurut, lebih sering meminta pegangan dan tampak mengalami ketakutan.
“Perubahan sikap itu sejak hari pertama gempa,” ungkap salah seorang anggota keluarga.
Keluarga menduga perubahan perilaku tersebut berkaitan dengan tekanan psikologis yang dialami korban setelah bencana. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab peristiwa meninggalnya korban.
Keluarga juga menyebut rumah tempat tinggal mereka tidak mengalami kerusakan berarti akibat gempa.
“Secara rumahnya tidak (rusak). Mungkin ketakutan secara psikisnya,” kata pihak keluarga.
AKSES KOMUNIKASI SEMPAT TERGANGGU
Selain dampak fisik, masyarakat Desa Nggolonio juga sempat menghadapi gangguan listrik dan jaringan komunikasi setelah gempa.
Kepala Desa Nggolonio, Oris Lengga, mengatakan bahwa selama dua hari pertama pascagempa, akses internet dan listrik belum berfungsi normal. Kondisi tersebut membuat komunikasi masyarakat menjadi terbatas.
“Sabtu, Minggu di sana akses komunikasi internet tidak ada, listrik tidak ada,” jelas Oris Lengga.
Menurutnya, aktivitas pelayanan dan bantuan mulai bergerak lebih intensif setelah memasuki Senin, ketika listrik dan jaringan komunikasi mulai kembali tersedia.
Bantuan kemudian datang dari Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui instansi terkait, BPBD, relawan, donatur, lembaga sosial, pihak gereja serta berbagai unsur masyarakat.
“Mulai Senin Pemda Nagekeo dengan relawan-relawan, donatur-donatur lain sudah mulai membantu,” ujarnya.
PEMULIHAN PASCABENCANA TAK HANYA SOAL LOGISTIK
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, air bersih, tempat tinggal maupun perbaikan bangunan.
Kondisi psikologis masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan setelah bencana.
Rasa takut, kecemasan dan hilangnya rasa aman dapat muncul setelah seseorang mengalami peristiwa yang mengancam keselamatan. Karena itu, perhatian terhadap kondisi psikologis warga terdampak perlu berjalan beriringan dengan bantuan logistik.
Pendampingan psikososial juga penting diberikan kepada kelompok yang membutuhkan perhatian lebih, termasuk anak-anak, remaja, lansia, serta warga yang menunjukkan perubahan perilaku setelah mengalami bencana.
Metro Global News tidak menyimpulkan bahwa gempa bumi merupakan penyebab langsung meninggalnya korban. Informasi mengenai perubahan perilaku korban diperoleh dari keterangan keluarga.
Sementara itu, penyebab pasti kematian serta kondisi psikologis korban sebelum kejadian merupakan hal yang perlu ditelusuri lebih lanjut oleh pihak berwenang dan tenaga profesional.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak, tetapi juga membantu masyarakat mengembalikan rasa aman, ketenangan dan kondisi psikologis mereka.
Penulis: James Bisara
MGN: Nagekeo

Social Header