Breaking News

Merenungi Esensi di Balik Angka Usia Oleh: Hamid Nabhan

   ​Hari ini, dunia mungkin mengingatkan saya tentang pertambahan usia. Ucapan selamat dan doa-doa baik datang silih berganti.

   Namun, alih-alih merayakannya sekadar sebagai penambahan angka di kalender, saya memilih untuk melihat hari ini sebagai titik henti untuk merenung.

​Sebab, jika dipikirkan kembali, bertambahnya usia sebenarnya bukanlah sebuah penambahan, melainkan pengurangan jatah waktu yang kita miliki di dunia ini. 

   Seperti kata sebuah kutipan: "Age is merely the number of years the world has been enjoying you." (Usia hanyalah angka berapa tahun dunia telah menikmati kehadiranmu). Di balik kalimat itu, ada sebuah pengingat yang menohok yaitu ini bukan tentang seberapa tua kita, melainkan seberapa besar jejak kebermanfaatan yang sudah kita tinggalkan selama waktu tersebut berjalan.

​Di titik ini, perenungan tentang sisa hidup menjadi jauh lebih penting. 

   Kita sering terjebak mengejar pencapaian-pencapaian riuh yang, ketika akhirnya didapat, terkadang tidak serta-merta membawa ketenangan batin. Padahal, sisa umur bukanlah untuk dicemaskan, melainkan untuk diisi dengan hal-hal yang esensial.

   ​Seperti sebuah kanvas yang tidak lagi membutuhkan coretan warna liar penuh ambisi, sisa hidup menuntut sentuhan yang lebih tenang, matang, dan bermakna. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apa yang bisa kita rebut dari dunia ini?, melainkan apa yang bisa kita berikan sebelum waktu itu benar-benar habis?

   ​Sebab, pada akhirnya, perjalanan sisa hidup ini bukan tentang seberapa lama kita bernapas, melainkan tentang seberapa dalam kita menghidupkan hari-hari yang tersisa.


Surabaya, 15 Agustus 2026

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id