Hubungan erat dan rasa cinta Presiden Soekarno kepada sahabatnya, seorang pengusaha keturunan Arab bernama Faradj bin Said bin Awad Martak, terekam secara otentik dalam dokumen-dokumen bersejarah yang sangat bernilai. Keberadaan bukti surat-surat bersejarah tersebut salah satunya turut ditunjukkan dan diungkap kembali oleh Yusuf Muhammad Martak (Yusuf Martak) selaku keponakan dari Faradj Martak untuk memperkuat ingatan kolektif bangsa akan jasa besar sang paman.
Dokumen utama yang menjadi bukti ikatan perhatian tersebut adalah Surat Ucapan Terima Kasih Pribadi Bung Karno bertanggal 24 Juli 1950. Surat tersebut ditulis tangan langsung oleh Soekarno di atas secarik kertas yang sangat tipis berkop President of the Republic of Indonesia.
Dalam surat otentik itu, Bung Karno menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung atas kiriman Madu Arab pemberian Faradj Martak yang sangat membantu kesehatannya di saat beliau menderita penyakit beri-beri. Perhatian tulus berupa kiriman madu tersebut menjadi simbol kepedulian seorang sahabat terhadap kondisi fisik Sang Proklamator.
Selain surat pribadi dari Bung Karno, terdapat pula Surat Penghargaan Resmi Pemerintah RI bertanggal 14 Agustus 1950 yang dikeluarkan atas nama Pemerintah Republik Indonesia dan ditandatangani oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan, Ir. H.M. Sitompul. Surat ini merupakan bentuk apresiasi resmi negara atas hibah gedung di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Cikini, Jakarta, lokasi bersejarah tempat dijahitnya Sang Saka Merah Putih oleh Ibu Fatmawati dan dibacakannya teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Dukungan Faradj Martak terhadap Republik Indonesia tidak berhenti pada penyediaan tempat proklamasi. Sebagai Presiden Direktur N.V. MARBA, Faradj Martak secara konsisten menyokong kebutuhan finansial dan infrastruktur negara yang baru berdiri. Salah satu bukti kedermawanannya yang luar biasa tercatat dalam dokumen sejarah pembangunan Gedung Palang Merah Indonesia (PMI). Dalam proyek kemanusiaan skala nasional tersebut, Faradj Martak tercatat sebagai salah satu penyumbang dana terbesar. Langkah ini menegaskan integritasnya bahwa pengorbanan harta yang ia lakukan murni demi kemanusiaan dan kedaulatan bangsa Indonesia.
Rasa hormat dan cinta Bung Karno kepada Faradj Martak turut diwariskan ke generasi berikutnya. Bung Karno memiliki hubungan yang sangat akrab dengan putra Faradj Martak, yaitu Ali bin Faradj Martak. Bung Karno beserta Ibu Hartini tercatat beberapa kali berkunjung langsung ke kediaman Ali Martak di Bogor. Bahkan, Bung Karno sendiri yang memberikan nama kepada salah satu putri dari Ali Martak, sebuah penanda bahwa keluarga Martak telah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Sang Proklamator.
Hubungan erat antara Soekarno dan Faradj Martak adalah cermin nyata dari pesan sejarah Bung Karno yang mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak pernah melupakan jasa-jasa warga keturunan Arab dalam membidani dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Melalui perhatian tulus berupa kiriman Madu Arab, penyediaan Rumah Proklamasi, hingga kucuran dana utama untuk Gedung PMI, Faradj Martak telah membuktikan cintanya pada Tanah Air. Dan rasa cinta balasan dari Bung Karno kepadanya adalah bukti bahwa sejarah Indonesia dibangun di atas fondasi gotong royong dan ketulusan para pejuang bangsa.

Social Header