Breaking News

Kaum Muda Lapendos Mbay Turun Jadi Relawan, Serukan Sinergi dan Kepedulian di Tengah Duka Pascagempa

MBAY, Metro Global News || Di tengah suasana duka dan keprihatinan yang masih menyelimuti masyarakat Kabupaten Nagekeo pascagempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, kepedulian dari berbagai elemen masyarakat terus bermunculan.

Bukan hanya pemerintah dan aparat yang bergerak. Sejumlah anak muda di Kabupaten Nagekeo memilih meninggalkan kesibukan mereka dan turun langsung ke lapangan untuk menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan.

Perkumpulan Kaum Muda Lapendos Mbay menjadi salah satu kelompok yang mengambil langkah nyata. Sebanyak 17 orang relawan dikerahkan untuk membantu proses pendistribusian bantuan logistik ke berbagai wilayah terdampak di Kabupaten Nagekeo.

Langkah tersebut lahir dari keprihatinan melihat kondisi masyarakat yang masih membutuhkan bantuan setelah bencana. Bagi para relawan muda Lapendos, momentum bencana bukan saatnya untuk saling menunggu, apalagi mempertanyakan siapa yang harus terlebih dahulu bergerak.

Koordinator Lapendos Mbay, Rais Ajo Gene, mengatakan para pemuda yang tergabung dalam relawan tersebut merasa terpanggil untuk mengambil bagian dalam penanganan pascagempa.

“Kami merasa prihatin dengan keadaan Nagekeo saat gempa melanda. Karena itu, kami membuat relawan yang beranggotakan 17 orang untuk membantu pendistribusian logistik ke berbagai daerah di Kabupaten Nagekeo,” ujar Rais.

Menurut Rais, keterlibatan kaum muda merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap sesama. Anak muda, kata dia, tidak boleh hanya menjadi penonton ketika daerahnya sedang menghadapi bencana.

Di tengah keterbatasan yang dimiliki, para relawan berusaha mengambil peran sesuai kemampuan mereka. Mereka membantu mengantarkan bantuan, berkoordinasi di lapangan serta memastikan logistik dapat bergerak menuju masyarakat yang membutuhkan.

Kaum Muda Tidak Boleh Hanya Menunggu

Bencana, bagi Rais, telah memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah daerah tidak hanya berada di tangan pemerintah. Ketika masyarakat mengalami kesulitan, semua elemen harus mengambil bagian.

Kaum muda memiliki energi, tenaga dan kemampuan untuk bergerak cepat. Karena itu, semangat kerelawanan harus terus tumbuh dan tidak berhenti hanya karena perhatian publik terhadap bencana mulai berkurang.

“Ini bukan soal siapa yang paling banyak membantu. Ini tentang bagaimana kita bisa bersama-sama meringankan beban masyarakat yang sedang mengalami kesulitan,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi panggilan bagi generasi muda Nagekeo agar tidak apatis terhadap kondisi daerahnya. Menurutnya, rasa memiliki terhadap daerah harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit.

Lapendos Mbay juga menegaskan pentingnya sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh unsur yang berada di garis depan penanganan bencana.

Rais menyadari bahwa penanganan bencana dalam skala besar tidak mungkin dilakukan hanya oleh kelompok relawan. Pemerintah memiliki kewenangan, sumber daya dan sistem penanganan bencana yang harus menjadi kekuatan utama dalam memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan dan bantuan.

Karena itu, keberadaan relawan Lapendos bukan untuk mengambil alih tugas pemerintah, melainkan menjadi bagian dari kekuatan bersama.

“Kami harus bersinergi dengan Pemerintah Daerah, TNI dan Polri agar semua bantuan bisa tersalurkan,” tegas Rais.

Pernyataan tersebut menjadi pesan penting kepada para pejabat dan pemangku kepentingan di Kabupaten Nagekeo. Dalam kondisi darurat, masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah yang bukan hanya terlihat di pusat pemerintahan, tetapi juga terasa sampai ke posko-posko pengungsian dan wilayah terdampak.

Setiap bantuan yang datang merupakan bentuk kepercayaan kepada masyarakat terdampak. Karena itu, distribusinya harus dilakukan secara tepat, cepat, transparan dan berdasarkan kebutuhan di lapangan.

Para pejabat, perangkat daerah, aparat keamanan, organisasi kemasyarakatan, relawan dan kaum muda diharapkan dapat menanggalkan sekat-sekat kepentingan dan berdiri dalam satu barisan kemanusiaan.

Jangan Biarkan Relawan Berjuang Sendirian

Di balik semangat 17 relawan Lapendos Mbay, terdapat pesan yang lebih besar: bahwa kerja kemanusiaan membutuhkan kolaborasi.

Relawan dapat membantu tenaga dan distribusi di lapangan, tetapi mereka juga membutuhkan koordinasi, informasi yang akurat serta dukungan dari seluruh pemangku kepentingan.

Karena itu, pemerintah daerah dan para pejabat diharapkan membuka ruang koordinasi seluas-luasnya bagi kelompok masyarakat yang ingin membantu. Jangan sampai semangat masyarakat untuk bergotong royong justru terhambat oleh lemahnya komunikasi dan koordinasi.

Sebaliknya, masyarakat juga harus memahami bahwa seluruh proses penanganan bencana membutuhkan tata kelola yang baik agar bantuan tidak menumpuk di satu tempat sementara wilayah lain masih kekurangan.

Lapendos Mbay memilih berada di tengah masyarakat, membantu sebisa mungkin dan menjadi penghubung antara bantuan dengan mereka yang membutuhkan.

Dari Anak Muda untuk Nagekeo

Apa yang dilakukan 17 relawan Lapendos Mbay menjadi gambaran bahwa kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang, sebuah kendaraan yang membawa logistik, tenaga yang digunakan untuk mengangkat bantuan, waktu yang diberikan untuk membantu, hingga keberanian untuk turun langsung ke wilayah terdampak merupakan bentuk kemanusiaan yang sangat berarti.

Semangat inilah yang diharapkan dapat menular kepada lebih banyak anak muda Nagekeo.

Bencana telah meninggalkan luka, kerusakan dan kehilangan. Namun, dari situ pula muncul kekuatan baru berupa solidaritas, gotong royong dan kepedulian antarsesama.

Lapendos Mbay ingin menunjukkan bahwa kaum muda bukan sekadar generasi penerus yang menunggu masa depan. Kaum muda adalah bagian dari kekuatan hari ini.

Ketika masyarakat membutuhkan, mereka hadir.

Ketika bantuan harus disalurkan, mereka bergerak.

Dan ketika daerah sedang berduka, mereka memilih berdiri bersama.

Semangat tersebut menjadi pengingat bagi seluruh elemen, termasuk para pejabat dan pemangku kebijakan, bahwa dalam situasi bencana tidak ada kelompok yang lebih penting dari yang lain.

Yang utama adalah keselamatan masyarakat, terpenuhinya kebutuhan para penyintas, serta hadirnya negara dan seluruh kekuatan masyarakat secara bersama-sama.

Dari Mbay, suara kaum muda itu sederhana tetapi kuat: Nagekeo sedang membutuhkan semua tangan untuk bergandengan, bukan saling menunjuk.


Penulis : James Bisara

MGN     : Nagekeo

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id