Breaking News

Jumat, 17 Agustus 1945: Hari Suci yang Lahir dari Rahim Bulan Ramadan Oleh: Hamid Nabhan

   ​Bagi sebagian besar bangsa Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945 dihafal sebagai titik nol berdirinya Republik. Hari di mana sang saka merah putih berkibar, dan teks proklamasi dibacakan di tengah kecamuk ketidakpastian dunia.  Namun, di balik angka keramat itu, ada sebuah rahasia kecil waktu yang kerap terlewat dari ingatan kolektif kita, yaitu hari kemerdekaan itu jatuh pada hari Jumat, dan bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah.

   ​Jika kita membalik lembaran kalender tua bulan Agustus 1945, kita akan mendapati hari itu bukan sekadar hari biasa dalam pekan penanggalan Masehi.  Di bawah naungan bulan suci umat Islam, di tengah desing peluru dan bayang-bayang kekalahan tentara pendudukan yang terekam dalam harian Asia-Raya kala itu, sejarah besar justru menemukan takdirnya.

   ​Koran-koran di masa-masa krusial itu masih sibuk memuat berita tentang jalannya perang dan propaganda militer, memperlihatkan betapa ketatnya tekanan informasi di ujung pendudukan Jepang.  Di luar bilik-bilik sensor dan barisan berita perang, para founding fathers bergerak dalam senyap.

​Hingga akhirnya, detik-detik itu pecah di sebuah halaman rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. 

   Sebuah tempat bersejarah yang bukan sekadar bangunan biasa, melainkan buah dari keikhlasan seorang saudagar dermawan keturunan Arab Yaman yang bernama Faradj Martak, yang dengan lapang dada membeli dan menghibahkan rumah tersebut untuk negara yang baru saja hendak bernapas.

​   Membayangkan proklamasi dibacakan pada Jumat berkah di bulan Ramadan memberikan dimensi rasa yang berbeda. Kemerdekaan itu bukan hanya hasil dari diplomasi dan bambu runcing, melainkan juga doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam oleh jutaan rakyat yang mendambakan kebebasan. Sebuah hari suci, yang benar-benar lahir dari rahim bulan suci. Merdeka!!!! 


Surabaya, 6 Agustus 2026

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id