Breaking News

Hari ke-8 Pascagempa M7,7, Nagekeo Catat 13 Korban Meninggal dan 34.256 Warga Mengungsi


NAGEKEO - Metro Global News || Delapan hari setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026, dampak bencana di Kabupaten Nagekeo masih cukup besar. Berdasarkan Laporan Situasi (SITREP) Pos Komando Penanggulangan Bencana Kabupaten Nagekeo, hingga Sabtu (22/8/2026) pukul 23.00 WITA, tercatat 13 orang meninggal dunia, 13 orang mengalami luka berat, dan 17 orang luka ringan.

Gempa yang berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, tersebut sebelumnya juga memicu peringatan dini tsunami. BMKG memutakhirkan parameter gempa menjadi magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.

SITREP Posko Penanggulangan Bencana Kabupaten Nagekeo mencatat, jumlah warga yang masih mengungsi mencapai 34.256 jiwa. Mereka tersebar di tujuh kecamatan terdampak, dengan jumlah pengungsi terbesar berada di Kecamatan Mauponggo sebanyak 14.180 jiwa, disusul Kecamatan Aesesa 10.378 jiwa, Boawae 3.800 jiwa, Wolowae 2.478 jiwa, Nangaroro 1.536 jiwa, Aesesa Selatan 965 jiwa, dan Keo Tengah 919 jiwa.

9.644 Rumah Mengalami Kerusakan

Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan rumah warga yang mencapai 9.644 unit.

Rinciannya, sebanyak 3.218 rumah rusak berat, 1.598 rumah rusak sedang, dan 4.828 rumah rusak ringan.

Kecamatan Aesesa menjadi wilayah dengan jumlah rumah rusak terbanyak, yakni 2.786 unit, terdiri atas 1.191 rusak berat, 733 rusak sedang dan 862 rusak ringan.

Selanjutnya Boawae tercatat 1.999 rumah rusak, Nangaroro 1.474 rumah, Mauponggo 1.452 rumah, Keo Tengah 921 rumah, Aesesa Selatan 568 rumah, dan Wolowae 444 rumah.

Kerusakan tersebut menunjukkan bahwa proses pemulihan pascagempa membutuhkan penanganan yang tidak hanya berfokus pada kebutuhan pengungsian, tetapi juga pemulihan hunian masyarakat.

Infrastruktur dan Fasilitas Publik Turut Terdampak

Selain rumah warga, gempa juga berdampak pada fasilitas umum dan infrastruktur di berbagai wilayah.

SITREP mencatat 54 fasilitas pemerintahan, 125 fasilitas pendidikan, 7 fasilitas air bersih, 52 fasilitas kesehatan, 49 fasilitas ibadah, serta 7 titik jalan atau akses mengalami dampak.

Pada sektor aksesibilitas, terdapat sejumlah titik jalan, jembatan dan jaringan irigasi yang mengalami kerusakan. Laporan posko juga mencatat sedikitnya 16 titik kerusakan pada saluran irigasi, talang, bangunan bagi/sadap, gorong-gorong dan jalan inspeksi, yang mayoritas berada di daerah irigasi Mbay dan Kecamatan Aesesa.

Sejumlah titik akses juga dilaporkan masih menjadi perhatian, termasuk kawasan Sawu–Mauka (Mauponggo), Kajukaki–Malaban (Jembatan), Rotok–Pusu–Ua, Nangaroro–Maunori, serta Kekadodo–Kedimali di Keo Tengah.

13 Korban Meninggal, Mayoritas Berkaitan dengan Syok dan Gempa Susulan

Posko juga merangkum penyebab korban meninggal dunia. Dari 13 korban, 7 orang disebut mengalami syok atau panik saat gempa, tiga orang sakit tertahan atau mengalami kondisi akibat gempa susulan, dua orang berkaitan dengan faktor medis pascagempa, dan satu korban masuk kategori lainnya, termasuk dugaan gangguan psikologis.

Data tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat, terutama kelompok rentan yang masih berada di lokasi pengungsian.

Posko menekankan pentingnya dukungan lanjutan bagi kelompok lansia dan masyarakat yang mengalami tekanan psikologis setelah bencana.

Mauponggo Jadi Wilayah dengan Pengungsi Terbanyak

Dari tujuh kecamatan terdampak, Mauponggo menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi paling tinggi, mencapai 14.180 jiwa.

Kecamatan Aesesa berada di posisi berikutnya dengan 10.378 jiwa, kemudian Boawae 3.800 jiwa dan Wolowae 2.478 jiwa.

Tingginya jumlah pengungsi membuat kebutuhan terhadap pangan, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, tempat tinggal sementara, serta dukungan psikososial tetap menjadi perhatian utama dalam masa tanggap darurat.

Pemulihan Masih Membutuhkan Perhatian Bersama

Memasuki hari kedelapan pascagempa, kondisi Nagekeo menunjukkan bahwa fase tanggap darurat masih menghadapi tantangan besar. Ribuan rumah rusak, puluhan ribu warga mengungsi, serta kerusakan fasilitas publik menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan koordinasi lintas sektor.

Pemerintah bersama unsur TNI-Polri, tenaga kesehatan, relawan, organisasi kemanusiaan dan masyarakat terus didorong untuk memastikan kebutuhan dasar para penyintas terpenuhi sekaligus mempercepat pemulihan fasilitas vital.

Di tengah kondisi tersebut, Pos Komando Penanggulangan Bencana Kabupaten Nagekeo mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, mengutamakan keselamatan, menjaga kebersihan lingkungan, mengikuti arahan petugas, serta saling membantu selama proses pemulihan berlangsung.


Penulis : James Bisara

MGN     : Nagekeo

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id