Melukis bagi seorang impresionis sejatinya bukanlah memindahkan bentuk benda secara kaku ke atas kanvas, melainkan mengabadikan peristiwa jatuhnya cahaya pada suatu objek. Oleh karena itu, sebuah objek yang sama tidak akan pernah menjadi lukisan yang sama jika dilukis dalam waktu yang berbeda.
Ketika saya berdiri di hadapan objek yang serupa, merekam visualnya menjelang siang, lalu melukis obyek yang sama di sore hari, hingga megulang di ambang malam, saya menemukan bahwa setiap bentangan waktu melahirkan karakter dan irama visual yang berbeda.
Di bawah terik matahari pagi dan siang, bias warna hadir begitu bertenaga, kontras, dan menuntut kecepatan gerak kuas untuk mengejar pergeseran bayangan.
Namun, estetika impresionisme tidak berhenti saat matahari terbenam. Ketika senja melebur dan malam tiba, tantangan baru dimulai. Dengan berbekal sinar seadanya, baik temaram lampu jalan, kilau lampu kota, maupun bias rembulan, atmosfer lukisan berubah total.
Pendekatan ini memberi kebebasan pada eksplorasi tersebut, bahwa suasana malam (nocturne) bukanlah warna hitam pekat, melainkan perpaduan warna antara biru ultramarin, ungu, dan cokelat hangat yang menyerap sinar lampu.
Pada akhirnya, lukisan ini hadir dari sebuah proses, melepas detail kaku demi menangkap getaran cahaya.

Social Header