Memandangi selembar kartu pos lawas bertuliskan Kampement Prins Hendrik terbitan H. van Ingen Soerabaja adalah cara terbaik untuk melompati ruang dan waktu. Di atas kertas tua bernuansa hitam-putih itu, koridor jalan yang dulu dikenal sebagai Campemenstraat atau Jalan Prince Henry, yang kini telah berganti nama menjadi Jalan Kiai Haji Mas Mansur, mengambil nama seorang tokoh pahlawan nasional keturunan Arab yang bermarga Basyaiban, tampil dalam wujud yang jauh berbeda dari hari ini. Deretan pohon tanjung yang rindang menaungi jalanan, pagar-pagar rumah kolonial berdiri rapi, dan lampu jalan klasik menemani aktivitas di bawah langit Surabaya tempo dulu.
Di sinilah, di tanah yang dulunya dikenal sebagai Campemenstraat atau kawasan perkemahan militer kolonial, jejak memori masa kecil dan sejarah panjang bermula.
Namun, riwayat tanah ini membentang jauh melampaui batas-batas era kolonial. Jauh sebelum hiruk-pikuk modern menyelimuti kawasan Surabaya Utara, tanah ini adalah pusat peradaban awal yang lekat dengan nama Ampel Denta, sebuah nama historis yang kini perlahan lenyap dari peta administratif modern dan hanya tinggal kenangan di dalam arsip-arsip tua.
Berdasarkan catatan sejarah, asal-usul nama "Ampel" menyimpan lapis-lapis makna yang kaya. Sebagian sejarawan mencatat bahwa nama tersebut lahir dari kata ngampel (meminjam) dan ngempal (mengumpulkan rakyat), ketika Raden Rachmad Rachmatullah atau Sunan Ampel memohon izin kepada Prabu Brawijaya Kertabumi V, untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat dakwah Islam tanpa paksaan maupun sekat kasta.
Di sisi lain, masyarakat keturunan Arab yang bermukim secara turun-temurun di wilayah ini memaknai "Ampel" dari serapan al-Am dan al-Fil atau Tahun Gajah, sebagai simbol memancarnya fajar kebangkitan Islam yang pertama.
Seiring berjalannya waktu, kawasan seluas kurang lebih 38 hektare dengan populasi belasan ribu jiwa ini tumbuh menjadi sebuah perkampungan khas yang padat.
Di balik lorong-lorong sempitnya yang saling berhimpitan tanpa halaman, tersimpan memori kampung-kampung dengan nama unik yang merekam cerita rakyat masa silam, mulai dari Ampel Melati yang dulu dikenal sebagai Kampung Kandang Sapi tempat penampungan hewan kurban, Jalan Ampel Kenanga yang dijuluki Kampung Judeg karena jalurnya yang buntu, Jalan Ampel Lonceng yang menyimpan kisah ledakan lonceng kapal, hingga Jalan Kalimas yang merangkum riwayat Kampung Baru Bangilan dan Kampung Baru Gemuk.
Menelusuri koridor Ampel hari ini, dengan corak arsitektur perpaduan Majapahit, Arab, Tiongkok, dan Eropa serta alunan ayat suci yang berpadu dengan aroma rempah Timur Tengah, berarti merajut kembali kepingan sejarah yang hampir tercerabut. Ia adalah pengingat bahwa di balik sibuknya koridor perdagangan dan ziarah saat ini, tersimpan akar peradaban agung yang membentuk identitas keindonesiaan kita.
Surabaya, 5 Agustus 2026

Social Header