Breaking News

Bukti Takzim Nasirun kepada Sang Sketser Legendaris Ipe Ma'aroef dalam Sebuah Catatan Oleh:Hamid Nabhan

   ​Kepergian pelukis terkemuka Nasirun, tentu meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia seni rupa Indonesia. Di tengah gelombang ucapan duka dan kenangan atas karya-karyanya yang luar biasa, terselip sebuah memori personal yang amat berharga, yaitu sebuah catatan tangan dari Nasirun yang saya simpan secara rapi, merekam sisi lain dari seorang maestro besar dengan kerendahan hati yang tulus.

   ​Catatan bertahun 2014 tersebut ditujukan kepada Bapak Ipe Ma'aroef, seorang sketser legendaris Indonesia yang dihormati banyak kalangan. Pada tahun 2014 itu, Nasirun sejatinya telah berada di puncak kematangan estetik dan jajaran pelukis papan atas tanah air. Namun, kesuksesan dan popularitas tidak membuat matanya rabun melihat akar keilmuan seni rupa. Ia tetap memandang Ipe Ma'aroef bukan sekadar senior, melainkan seorang guru besar yang jejaknya patut disujudi secara batin.

   ​Dalam goresan tangan yang khas di atas kertas, Nasirun menuliskan sebuah apresiasi yang begitu puitis dan mendalam:

"​Keteduhan jiwanya

Kelenturan jemarinya

menghantarkan karya yang sangat esensial".

​Kalimat-kalimat itu menunjukkan bagaimana Nasirun membaca karya Ipe Ma'aroef bukan hanya dari segi teknis semata, betapa lenturnya jemari sang senior melahirkan garis-garis sketsa, tetapi menukik jauh ke dalam, membaca "keteduhan jiwa" yang terpancar dari karya-karya sang empu.

   ​Lebih menyentuh lagi, catatan tersebut ditutup dengan sebuah kalimat takzim yang memperlihatkan laku hidup seorang seniman sejati:

​Hormat saya kepada

Bapak Ipe  Ma'aroef

Mohon doa restunya

​Hormat saya, Nasirun

2014. Sebuah 

P​ermohonan "doa restu" dari seorang Nasirun yang sudah mapan kepada Ipe  Ma'aroef  adalah sebuah pemandangan batin yang langka hari ini. Ia mengajarkan kita bahwa seniman besar sejati tidak pernah merasa dirinya "selesai". Mereka adalah pembelajar abadi yang selalu haus akan restu, restu dari para pendahulu yang membabat jalan kesenian di negeri ini.

   ​Catatan yang tersimpan ini kini bukan lagi sekadar secarik kertas kenangan, melainkan sebuah monumen kecil tentang adab, rasa takzim, dan ketulusan jiwa. Selamat jalan, Nasirun. Keteduhan jiwamu dan kerendahan hatimu akan terus hidup di dalam catatan-catatan sejarah seni rupa Indonesia.


Surabaya, 3 Agustus 2026

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id