Melukis dengan ketelitian tinggi membutuhkan ketabahan dan rasa cinta yang mendalam pada setiap prosesnya. Melalui pengolahan garis dan titik, Sutomo, seorang pengagum maestro Amang Rahman dan Kubu Sarawan ini mendedikasikan dirinya untuk melahirkan karya-karya yang tidak hanya rapi, tetapi juga sarat akan perenungan hidup.
Dalam karya terbarunya, ia memilih media ballpoint berukuran sangat halus, yaitu 0,5 mm, di atas kanvas. Penggunaan media ini menuntut waktu pengerjaan berbulan-bulan yang panjang dan membutuhkan ketekunan ekstra tinggi. Setiap garis tipis dan titik-titik halus ditata satu demi satu dengan penuh kesabaran hingga membentuk visual yang begitu hidup.
Lukisan ini merekam momen yang sangat akrab yaitu dua orang sahabatnya yang duduk santai, mengobrol, dan tertawa lepas sembari menikmati secangkir kopi. Melalui karya ini, Sutomo ingin menyampaikan pesan bahwa bahagia itu tidak perlu ribet dan mahal, bisa berkumpul, ngopi, dan tertawa bersama teman sudah menjadi bentuk kebahagiaan yang utuh.
Seperti pesan filsuf Confucius, "Hidup itu sangat sederhana, tapi kita yang bersikeras membuatnya rumit." Kebahagiaan tersebut tidak dicari dalam kemewahan, melainkan hadir dari kesederhanaan hubungan antarmanusia yang dirayakan secara telaten di atas kanvas.
Pengalaman akademis sebagai sarjana Seni Rupa Universitas Adi Buana serta perjalanan hidup pria kelahiran 7 Februari 1969 ini makin mematangkan bahasa visualnya. Ketekunan dan kedalaman pesan dalam karya ini menjadi pijakan kuat bagi Sutomo yang terus melangkah maju merawat cita-citanya untuk menggelar pameran tunggal di masa depan.
Surabaya, 25 Agustus 2026

Social Header