Suatu hari guru lukisku pernah berkata, "Belajar melukis ibarat mendaki sebuah gunung." Tanpa proses dan perjuangan tidak akan sampai di puncak. Begitu pula di dalam seni rupa ini, setiap hari kita dituntut untuk mendisiplinkan diri, belajar, dan berlatih membuat goresan-goresan untuk mendapatkan hasil kerja kreatif yang lebih berkualitas. Goresan yang kita latih secara kontinu tentunya akan menghasilkan teknik estetis yang kita harapkan. Tanpa kita sadari, secara otomatis kemampuan kita bertambah dan terus bertambah.
Sejak lama saya menyukai lukisan impres. Saya dibuatnya tergila-gila dengan coretan pelukis-pelukis impres yang saya kenal lewat buku-buku (literatur) seni rupa, sebut saja Vera Mukinha, Isaac Levitan, Renoir, Monet, dan lain-lain. Dalam pandangan saya, impres adalah satu aliran yang menyajikan objek secara begitu impresif melalui coretan atau goresan kuas (brush stroke), garis, serta warna yang simpel, menakjubkan, dan tidak terlalu mendetail. Namun, jika kita perhatikan coretan-coretan di dalam karya impres, hal itu menimbulkan kesatuan yang menarik (unity atau kesatuan elemennya).
Di dalam impres tidak dikenal penyimpangan (distorsi) elemen-elemennya; objek disajikan secara simpel dan impresif. Berbeda dengan ekspresionis yang mungkin memiliki kesan impresif, tetapi lebih liar dalam presentasi karena adanya distorsi elemen-elemen (bentuk, garis, bidang, dan warna). Saya contohkan, misalnya, lukisan potret diri Affandi.
Merujuk dari sejarahnya, impres lahir karena ketidakpuasan terhadap akademi saat itu. Mereka melakukan pemberontakan karena pengaruh klasik di akademi sangat kuat, sehingga timbul kesan menjemukan. Mereka mencari jalan dengan melakukan gebrakan (garis dan bentuk yang berlebihan dilewati).
Bisa saya tambahkan bahwa impres tidak mementingkan bentuk-bentuk sempurna (detail diabaikan). Penekanan lebih dititikberatkan pada bagaimana kita menangkap jatuhnya cahaya terhadap objek. Warna cerah dan kekuatan brush stroke adalah ciri-ciri impres tersebut. Dalam impres, pada dasarnya warna hitam tidak ditemukan di dalam lukisan-lukisan ini karena ada anggapan bahwa warna hitam bukan bagian dari warna. Menyinggung masalah warna, hal ini bisa disimak pada tulisan lain dalam bab berikut (penjabaran dalam Teori Seni).
WARNA adalah elemen yang paling kuat dalam memberikan kesan penglihatan. Karena itu, kejelian seorang pelukis sangat diperlukan untuk menangani warna-warna saat berkarya. Aturan-aturan atau asas penjabaran warna adalah kunci dalam berproses. Semisal ilusi-ilusi dalam kontras warna atau diskord sangat membantu (kontras harmoni, kontras kontra), seperti merah dan jingga, atau jingga dan biru. Untuk meredam nada warna (tonal) masing-masing, diperlukan penurunan intensitas salah satu warna untuk disandingkan. Belum lagi tentang value atau nilai warna yang dipengaruhi oleh warna putih dan hitam yang sangat beragam itu. Bagi impresionis, tonal value atau paduan warna komplementer (penyeimbang) sering kali menghiasi karya-karya impres. Dalam hal ini, penting sekali pemahaman atas sifat-sifat (kesan yang ditimbulkan) warna.
Seperti warna putih yang memberi kesan melebar dan juga menggambarkan objek itu mendekat atau menjauh. Saya contohkan, daun berwarna hijau yang kita campur dengan warna putih akan tampak lebih mendekat. Sebaliknya, jika dibandingkan dengan daun berwarna hijau yang lebih tua pada lukisan pemandangan (landscape) di bagian horizon, ia akan tampak menjauh jika kita tambahkan warna putih. Jadi, warna putih bisa menjadi pendekat atau penjauh suatu objek. Sesuatu yang tampak putih pun bukan sekadar putih cat; kita sebagai pelukis harus mampu mempresentasikan putih awan maupun putih asap. Di sinilah kepekaan pelukis akan teruji. Begitu juga dengan warna biru yang memberi kesan sempit; kita harus menempatkan warna-warna ini dengan cermat agar tidak merusak karya seni tersebut.
Berburu Objek
Di dalam pencarian objek, saya menyukai suasana kemarau. Saat kemarau, warna objek lebih beragam: ochre, sap green, dan raw sienna sangat kontras dengan warna cobalt pada langit. Terasa semuanya berirama, dan terkadang objek yang saya buru adalah objek-objek yang tidak umum, yang jarang diburu pelukis lain, seperti ranting-ranting yang meranggas atau rimbunan pohon-pohon yang sederhana. Saya meyakini setiap objek di mata seniman, dalam hal ini pelukis, akan menjadi indah karena seorang seniman memiliki kepekaan estetis. Di sini saya katakan, objek yang tidak menarik bagi umum bisa jadi hal yang menarik bagi seniman. Ada sebuah ungkapan yang pernah saya dengar, "Seni Tidak Selalu Indah." Maksudnya, objek yang dipaparkan tidak selalu yang indah-indah; justru objek yang tidak menarik bagi mata awam akan menjadi menarik bagi mata seniman yang mempunyai kepekaan dan kapasitas estetis.
Sebagai contoh, pohon yang hijau teratur biasanya kurang menarik bagi seniman, tetapi indah bagi arsitek pertamanan. Justru pohon-pohon yang berserakan dengan beberapa pohon yang tumbang akan menjadi indah di mata seniman karena kecermatan di dalam penghayatannya. Objek-objek inilah yang selalu saya buru.
Kalaupun saya duduk di tepian padang rumput atau ladang-ladang yang sunyi, hal itu saya lakukan bukanlah untuk mencari inspirasi, melainkan lebih pada penghayatan atas objek dan atmosfer. Ini sangatlah penting. Suatu objek di mata seniman, apa pun benda atau objek itu, akan menjadi menarik karena seniman pada dasarnya memiliki kemampuan estetis. Dengan demikian, karyanya bisa menghasilkan bentuk-bentuk yang artistik, asalkan secara jujur seniman itu betul-betul peka secara estetis atau memiliki kedalaman penghayatan pada hal-hal yang artistik. Sebagai misal, orang yang tidak memiliki kapasitas estetis tidak akan mampu menyajikan karya yang artistik, sekalipun objek tersebut sangat sederhana.
Saya tegaskan lagi, suatu objek yang menarik belum tentu ditangkap secara estetis oleh orang awam. Saya bisa katakan, apa pun objeknya dan berapa pun ukurannya tidak jadi soal, yang penting lukisan itu tidak memiliki cacat estetis karena seni mengedepankan estetika dan rasa.
Bila seseorang telah menguasai hukum-hukum estetis dalam seni rupa (tentang proporsi, komposisi, perspektif, dan distorsi dari elemen-elemen yang diolahnya), objek yang biasa tentu akan menjadi objek lukisan yang luar biasa. Sebagai contoh, rimbunan pohon yang tampak biasa akan menjadi sangat indah jika dipresentasikan dengan hukum-hukum estetika tadi, sehingga menjadikan karya tersebut memiliki nilai atau harga yang luar biasa.
Nilai Gelap Terang
Setiap objek memiliki value atau biasa disebut tingkatan warna dari terang menjadi gelap. Misalnya, daun yang kita pandang dalam jarak tertentu dengan bayangannya masing-masing; terkadang ada daun yang tidak terkena cahaya langsung atau tertutup bayangan. Justru dari value itulah irama sebuah lukisan tercipta. Seperti lukisan "Jerami" karya Monet yang berhubungan erat dengan pantulan cahaya matahari. Karena setiap objek memiliki value-nya sendiri, dan value tersebut mengesankan objek menjadi hidup.
Setiap objek akan memiliki transisi warna yang diakibatkan oleh jatuhnya sinar matahari. Batang-batang serta ranting-ranting pohon akan kaya dengan transisi warna yang diakibatkan oleh cahaya matahari; inilah yang disebut value.
Bila kita berbicara mengenai value, tentulah akan berkaitan erat dengan bayangan (shadow) objek, sebagai berikut:
Bayangan awak:
Yaitu bayangan yang jatuh pada objek itu sendiri, seperti cahaya pada pohon atau gelap terang pada batang pohon. Dari situ terciptalah transisi bayangan yang disebut bayangan semu dan bayangan tegas.
Bayangan lempar:
Yaitu bayangan dari objek ke bidang lain, seperti bayangan pohon akibat sinar matahari yang jatuh ke tanah. Semua itu masuk ke dalam wilayah value.
Tekstur:
Setiap objek memiliki tekstur masing-masing, sehingga tekstur pohon dan rumput berbeda, begitu pula antara air dan tanah. Tekstur dibedakan antara yang halus dan kasar.
Di sini saya tekankan, seorang seniman harus memiliki otoritas secara estetis terhadap objek yang akan dipresentasikan dalam karyanya. Sebagai contoh, ketika berburu objek di Kepulauan Madura, saya menjumpai objek seorang ibu yang sedang memanen tanaman kacang tanah. Sosoknya begitu berkarakter, tetapi sayang latar belakang (background) petani kacang tersebut kurang menarik dari kacamata estetika. Maka, saya melakukan montase (montage) untuk mengatasi objek-objek yang kurang pas (lihat gambar Petani Kacang di Bangkalan). Latar belakang tersebut saya buang dan diganti dengan yang lain yang lebih menarik secara estetis agar sebuah gambar menjadi lebih berbobot. Inilah yang dimaksud dengan kata 'otoritas' di atas, karena kebebasan mengubah merupakan kebebasan kreatif seorang seniman atau pelukis dalam mengungkapkan ekspresinya.

Social Header