Breaking News

Menyeimbangkan dunia, keluarga, dan iman: kisah inspiratif Husain Ali Al-Haddad dari Condet ke panggung internasional

  ​Bagi sebagian orang, sukses mungkin hanya diukur dari jabatan atau materi. Namun, bagi Husain Ali Al-Haddad, pria kelahiran 25 Desember berzodiak Capricorn, Arek Suroboyo yang kini berdomisili di Condet, Jakarta Timur ini, kesuksesan adalah sebuah harmoni antara karier profesional, kontribusi sosial, pendidikan keluarga, dan keteguhan iman. Sebagai Financial Director di Kaha Group, pria yang murah senyum ini dikenal sebagai sosok profesional yang andal dalam mengelola keputusan-keputusan besar korporasi.

   Namun di balik kesibukan manajerialnya, ia adalah seorang filantropis sejati, sosok pria yang ringan tangan, berjiwa sosial tinggi, dan selalu siap mengulurkan tangan membantu sesama sahabat yang membutuhkan.

   ​Husain Ali Al-Haddad adalah seorang yang sangat senang bepergian menjelajahi berbagai belahan dunia. Namun bagi dirinya, setiap perjalanan selalu punya cerita, terutama karena ia adalah sosok yang sangat mencintai sepak bola. Dirinya dikenal sebagai penggila bola sejati yang selalu mengikuti perkembangan dan menonton pertandingan-pertandingan bola penting di skala internasional.

   Bahkan untuk gelaran Piala Dunia tahun ini (2026), ia sudah menjagokan Prancis untuk keluar sebagai sang juara dunia.

   ​Kecintaannya ini bukan sekadar hobi layar kaca. Husain Ali Al-Haddad telah menginjakkan kaki di stadion-stadion paling ikonik di Eropa untuk menyaksikan laga-laga paling bersejarah secara langsung. Ia pernah merasakan atmosfer magis dan rivalitas tertinggi di tanah Spanyol saat menonton laga El Clasico antara Barcelona vs Real Madrid di Stadion Camp Nou. Tak berhenti sebagai penonton, ia melangkah jauh lebih dalam ke industri sepak bola Inggris. Pada tahun 2018, ia mengikuti kursus pelatihan intensif dan berhasil meraih UEFA C Diploma dari England Football Learning (The FA). Menjalani pelatihan ini bukanlah perkara mudah. Di tengah ketatnya jadwal ujian yang membahas taktik dasar dan manajemen pemain usia muda, ia harus menghadapi ujian praktik yang luar biasa menantang seperti mengevaluasi pertandingan secara langsung di tengah atmosfer panas Derby Manchester (United vs City) di Old Trafford. 

   Suka dan duka ia lalui demi menyerap ilmu dari industri sepak bola terbaik dunia.

​Dari sana pula, ia mengamati bagaimana manajemen industri olahraga yang maju bekerja. Ia menceritakan sebuah fakta luar biasa tentang Stadion Old Trafford, di mana terdapat ribuan kursi dekat lapangan berlapis plat emas dengan nama pemiliknya yang tidak boleh diduduki orang lain seumur hidup. Syaratnya sangat berat yaitu harus 25 tahun tanpa absen menonton pertandingan Manchester United. Ditambah lagi dengan ekosistem ribuan rumah singgah di sekitar stadion yang menghidupkan bisnis miliaran dolar. Sebuah konsep manajemen luar biasa yang ia impikan suatu saat bisa diterapkan di Indonesia.

   ​Baginya, membawa anak-anak berjalan-jalan ke luar negeri bukanlah sekadar rekreasi atau bersenang-senang, melainkan sebuah investasi masa depan. Ia ingin anak-anaknya membuka mata melihat dunia, mengamati, dan belajar. Maka, setiap kali tiba kembali di Indonesia dari negara-negara yang mereka kunjungi, seperti Belanda, Swiss, Prancis, hingga Turkey,  sebuah tradisi diskusi keluarga yang hangat pun dimulai. Ia selalu bertanya kepada anak-anaknya, "Ide bisnis apa yang sudah kamu dapatkan dari sana dan belum ada di Indonesia?" Satu per satu, anak-anaknya pun mengeluarkan ide kreatif mereka. Sebuah cara mendidik yang luar biasa untuk menanamkan jiwa kewirausahaan dan kepekaan global sejak dini.

   ​Namun, di atas semua pencapaian duniawi, bisnis, dan panggung sepak bola megah yang telah ia kunjungi, ada satu prinsip hidup yang paling Husain Ali Al-Haddad syukuri kepada Allah SWT. Di usianya saat ini, ia merasa sangat bersyukur bahwa ke mana pun kakinya melangkah di berbagai belahan dunia, ia tidak pernah meninggalkan kewajiban paling utama. Meskipun sering kali penuh perjuangan dan kesulitan untuk menemukan tempat di negeri orang, ia konsisten menjaga salat 5 waktu. Harapan dan doa terbesarnya sangat menyentuh hati: Semoga tanah-tanah yang pernah ia sholati di hampir seluruh penjuru dunia kelak menjadi saksi di Hari Hisab di hadapan Allah SWT, bersaksi bahwa ia tidak pernah meninggalkan perintah-Nya.

   ​Husain Ali Al-Haddad adalah teladan nyata tentang bagaimana menjadi seorang profesional yang andal, ayah yang visioner, filantropis yang hangat, dan hamba yang taat kepada Sang Pencipta, sebuah potret tentang bagaimana membawa bekal dunia untuk menggapai berkah akhirat.

(Red)

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id