Dunia seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro lukis terkemuka asal Yogyakarta, Nasirun, berpulang pada hari ini, Sabtu, 1 Agustus 2026. Kepergian seniman yang sangat produktif ini meninggalkan lubang yang besar di hati keluarga, kolega, serta siapa saja yang pernah mengenal karakternya dari dekat.
Bagi publik luas, Nasirun adalah seorang maestro besar yang goresan kuas, warna, dan karya-karyanya telah menghiasi berbagai ruang pameran penting serta mengukir sejarah seni rupa Indonesia. Namun, bagi orang-orang yang pernah bersinggungan langsung dengannya, almarhum adalah sosok manusia yang luar biasa hangat, membumi, dan sangat humble.
Kesan mendalam tentang kerendahan hati itu salah satunya tergambar ketika saya bersama perupa sketsa nasional, Pak IP Ma'aroef, berkunjung dan bersua langsung dengan pelukis Nasirun. Pada saat itu, Nasirun baru saja tiba dari Jepang dan menitipkan sebuah amplop untuk disampaikan kepada Pak IP Ma'ruf, yang berisi uang seratus dolar serta sketsa karya Nasirun beserta pesan khusus. Dengan penuh kegembiraan Pak IP Ma'ruf menerima amplop tersebut, mengambil uang seratus dolar di dalamnya, lalu dengan murah hati memberikan sketsa tersebut sebagai hadiah kepada saya.
Sebagai seorang seniman yang namanya telah menjulang, Nasirun dan Pak IP Ma'aroef sama sekali tidak pernah membangun jarak. Mereka menyambut pertemuan itu dengan senyum yang cair, gelak tawa yang akrab, dan kesederhanaan khas seorang sahabat lama. Tidak ada sekat atau aura keangkuhan, bagi mereka, ruang kesenian dan pertemanan adalah tempat di mana semua orang berdiri dalam kesetaraan yang tulus.
Di balik karya-karyanya yang sarat akan filosofi dan napas tradisi, almarhum meninggalkan warisan nilai yang begitu berharga tentang bagaimana kita memandang dan menjalani dunia kesenian. Di dalam sebuah buku kenangan yang ia hadiahkan kepada saya lengkap dengan goresan sketsa khasnya dan juga kesan pada secarik kertas tertanggal 10 Oktober 2014, Nasirun menuliskan pesan singkat yang sarat makna: "Buat Hamid Nabhan, Kerja-kerja Seni".
Pesan singkat tersebut bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, melainkan sebuah manifesto hidup. Sebuah pengingat bahwa seni menuntut ketekunan, kejujuran batin, dan kerja keras yang terus-menerus tanpa kenal lelah, suatu prinsip yang selalu dibuktikan sendiri melalui konsistensinya berkarya di studionya di Bantul sepanjang hidupnya.
Kini, raga sang maestro telah beristirahat untuk selamanya. Namun, ketulusan hatinya, kenangan perjumpaan yang hangat, serta semangat "kerja-kerja seni" yang diwariskannya akan terus hidup abadi di dalam ingatan dan denyut kesenian kita.
Selamat jalan, Mas Nasirun. Terima kasih telah merawat dunia ini dengan ketulusan dan goresan keindahanmu.
Surabaya, 1 Agustus 2026


Social Header