Breaking News

Larissa Sansour: Estetika Fiksi Ilmiah dan Utopia Identitas Masa Depan Oleh: Hamid Nabhan


   ​Larissa Sansour lahir pada tahun 1973 di Yerusalem Timur. Ia tumbuh dalam bayang-bayang realitas okupasi yang membatasi ruang gerak fisik, sebuah pengalaman yang nantinya mendorong ia untuk mencari kebebasan berekspresi lewat ruang-ruang imajiner.

   ​Sansour menempuh pendidikan seni rupa di berbagai institusi internasional, termasuk di Copenhagen, New York, dan meraih gelar pascasarjana dari universitas di Inggris. Perjalanan akademis lintas negara ini memperluas cakrawala berpikirnya, memungkinkannya untuk melihat konflik di tanah airnya dari sudut pandang global yang segar, hingga ia kini dikenal sebagai salah satu seniman multimedia paling inovatif yang dimiliki oleh Palestina.

   ​Karakteristik visual Sansour sangat distingtif karena ia secara berani mendobrak tradisi seni rupa Palestina yang biasanya bergaya realis atau dokumenter, lalu menggantinya dengan estetika fiksi ilmiah (Sci-Fi). Karya-karyanya memadukan film sinematik berskala besar, efek CGI (Computer-Generated Imagery), instalasi futuristik, dan musik opera yang megah namun terasa dingin dan distopia. Melalui visualisasi masa depan yang sangat rapi, steril, dan berteknologi tinggi, Sansour menciptakan sebuah kontras yang tajam terhadap kenyataan di lapangan yang penuh dengan puing-puing konflik. Ia menggunakan elemen-elemen futuristik ini bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan sebagai alat satire untuk menelanjangi absurditas politik kontemporer.

   ​Kontribusi historis Larissa Sansour terletak pada keberhasilannya membawa terobosan radikal dalam cara dunia internasional mencerna isu identitas dan hilangnya tanah air Palestina. Melalui karya trilogi fiksi ilmiahnya yang monumental, dimulai dari "A Space Exodus" (2009) yang menampilkan astronaut Palestina pertama di bulan, instalasi "Nation Estate" (2012) yang memvisualisasikan negara Palestina dalam sebuah gedung pencakar langit tunggal yang megah, hingga "In the Future They Ate From the Finest Porcelain" (2015), Sansour menawarkan cara baru untuk membicarakan trauma kolektif.

   ​Bukannya mendekati masalah Palestina lewat masa lalu atau kesedihan historis, ia justru melompat jauh ke masa depan. Pendekatan konseptual yang berani ini menempatkan seni rupa kontemporer Palestina di garis depan kompetisi seni global, membuktikan bahwa narasi perlawanan dapat disampaikan melalui bahasa visual yang mutakhir dan melampaui sekat-sekat tradisi.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id