Breaking News

Ketika Keindahan Alam Toskana Bertemu Sentuhan Impresionis Dalam Kanvas Adolfo Tommasi ​Oleh: Hamid Nabhan

   ​Dunia seni rupa abad ke-19 sering kali mendewakan tema-tema agung seperti mitologi kuno, kisah kepahlawanan, atau potret kaum ningrat yang megah. Namun, di tengah pakem kaku tersebut, ada seniman-seniman yang memilih untuk menundukkan kepala, meresapi alam terbuka, dan menemukan keindahan luar biasa pada hal-hal yang paling sederhana di sekitar mereka.

   Salah satu maestro paling menonjol dari aliran ini adalah Adolfo Tommasi yang hidup pada tahun 1851 hingga 1933.

​Ia lahir di Livorno dan menghabiskan sebagian besar hidup serta masa kreatifnya di Firenze, Italia. Tommasi menjadi salah satu figur penting yang menjembatani gaya akademik klasik menuju napas naturalisme dan impresionisme di Italia.

   Perjalanan seni Tommasi bermula ketika ia meninggalkan kampung halamannya di Livorno menuju Florence untuk menimba ilmu di Academy of Fine Arts. Di sana, ia berkenalan dengan pelukis realis terkemuka, Silvestro Lega, yang kemudian menjadi mentor penting bagi lingkaran keluarga Tommasi, termasuk sepupu-sepupunya, Angiolo dan Ludovico.

​Meski sempat mencicipi pendidikan formal, Tommasi muda merasa akademi seni konvensional tidak sejalan dengan jiwanya. Ia menolak batasan-batasan sanggar tertutup dan memilih terjun langsung ke alam terbuka. 

  Ia menguasai teknik melukis dal vero, sebuah metode melukis langsung di luar ruangan atau en plein air berdasarkan pengamatan visual yang jujur terhadap cahaya, cuaca, dan atmosfer sekitar.

​Salah satu episode paling ikonik dalam hidup Adolfo Tommasi terjadi pada tahun 1880 dalam sebuah pameran seni di Turin. Ia memamerkan sebuah karya lukis berjudul Dopo la Brinata atau Setelah Embun Beku. Bagi ukuran kritikus seni masa itu, lukisan tersebut dianggap tidak lazim karena objek utamanya sangat sederhana dan tidak umum untuk ukuran seni tinggi, yaitu sebuah ladang kubis yang tersapu embun beku. Reaksi publik terbelah ketika sebagian kritikus tradisional dan profesor seni mencemoohnya habis-habisan; bahkan, ada yang menyebut karya tersebut sebagai hasil kerja orang gila. Namun, di sisi lain, kelompok seniman progresif membelanya mati-matian. Pelukis besar Telemaco Signorini dan majalah seni bergengsi asal Paris, L'Art, justru memuji keberanian Tommasi dalam mengangkat realitas alam apa adanya tanpa polesan dramatisasi palsu.

   ​Tommasi tidak hanya piawai melukis lanskap sunyi perbukitan Toskana atau hamparan pantai. Pada tahun 1884, ia melahirkan karya monumentalnya yang berjudul Il fischio del vapore atau Peluit Uap. Dalam lukisan ini, ia dengan brilian menangkap transisi zaman dengan memadukan simbol industrialisasi modern seperti kereta api atau pabrik dengan pemandangan sederhana kehidupan para petani. Kritikus seni Camillo Boito dalam jurnal New Anthology memuji bagaimana Tommasi mampu merajut elemen mesin modern dan kehidupan agraris ke dalam satu kanvas yang harmonis.

   ​Memasuki dekade 1890-an, fokus Tommasi semakin matang dalam memotret denyut kehidupan pedesaan Toskana yang tenang. Melalui karya-karyanya seperti Portatrice d'acqua nei pressi di un casolare atau Gadis Pembawa Air di Dekat Rumah Pertanian yang dibuat sekitar tahun 1890 hingga 1895, ia tidak hanya merekam keindahan arsitektur bangunan tani klasik, tetapi juga menghadirkan sentuhan humanis yang hangat mengenai rutinitas harian masyarakat lokal.

   ​Sepanjang kariernya, ia meraih medali emas di pameran internasional seni lukis cat air di Milan pada tahun 1893 dan diminta melukis ilustrasi untuk karya kumpulan puisi sahabat karibnya, Giovanni Pascoli, yang berjudul Myricae pada tahun 1894.

​Hingga hari ini, warisan visual Adolfo Tommasi tetap bernilai tinggi dan hidup dalam ekosistem seni rupa global. Karya-karyanya, mulai dari lanskap bukit Pistoia, sudut-sudut kota Firenze, hingga keindahan vila klasik di kala senja, kerap menghiasi berbagai bursa lelang seni internasional terkemuka dan galeri digital dunia, membuktikan bahwa goresan tangan sang maestro melintasi batas zaman.

   ​Adolfo Tommasi wafat di Firenze pada tahun 1933. Lewat kejujuran kuasnya, ia membuktikan bahwa keindahan sejati tidak harus dicari dari kisah-kisah megah di istana, melainkan bisa ditemukan lewat embun pagi yang menempel di daun kubis, langkah gadis pembawa air di pedesaan Toskana, dan bias cahaya matahari yang hangat.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id