Breaking News

Bagaimana Hamid Nabhan Menyelamatkan Jejak Akademi Seni Rupa Surabaya?

   ​Tidak semua sejarah tercatat dengan baik. Sebagian justru perlahan menghilang karena para pelakunya telah tiada dan dokumen-dokumen penting ikut lenyap dimakan waktu. Kekhawatiran inilah yang terus menghantui budayawan dan seniman multitalenta Hamid Nabhan: bagaimana jika sejarah salah satu lembaga pendidikan seni paling berpengaruh di Surabaya ikut lenyap ditelan zaman?

   ​Kekhawatiran tersebut bukan isapan jempol belaka. Inspirasi awalnya bermula dari sebuah perjumpaan dengan seorang seniman asal Medan yang bercerita tentang Dewan Kesenian Medan. Sejarah lembaga itu nyaris hilang karena para pendirinya wafat sebelum sempat mencatat perjalanan organisasi mereka. Kisah itu terus membekas di benak Hamid Nabhan, memantik sebuah pertanyaan besar: bagaimana jika nasib serupa menimpa Akademi Seni Rupa Surabaya, atau yang lebih dikenal dengan nama Aksera? 

   Berkat kegelisahan pribadi itulah, seniman kelahiran Surabaya 15 Agustus yang telah menulis lebih dari 50 judul buku ini memutuskan untuk melakukan misi penyelamatan sejarah.

​Perjalanan menyusun kepingan sejarah ini tentu tidak mudah. 

   Aksera sendiri tercatat tidak berumur panjang. Berdiri pada 1967 di kawasan Balai Pemuda Surabaya dengan empat pendiri utama yaitu Gatut Kusumo, Krishna Mustajab, Amang Rahman, dan M. Ruslan, lembaga ini harus tutup pada awal dekade 1970-an karena kendala keuangan, di mana banyak siswa menunggak atau bahkan tidak membayar sekolah sama sekali.

​Namun, dalam rentang waktu yang singkat itu, Aksera menjelma menjadi kawah candradimuka bagi dunia seni Indonesia. Dari rahimnya lahir sederet maestro besar seperti  Nuzurlis Koto, Makhfoed, Iman Suligi, Nunung WS, Dwijo Sukatmo, hingga Hardi.

   Hamid Nabhan mendedikasikan waktu sekitar 10 bulan untuk menelusuri satu per satu jejak yang tersisa. Tantangannya luar biasa berat karena dokumen resmi sekolah sudah banyak yang raib. Ia harus bergerak taktis berpacu dengan waktu dengan menemui saksi kunci seperti satu-satunya pengajar yang masih hidup saat itu, yaitu Ibu Thea Kusumo (istri dari pendiri Aksera: Gatut Kusumo), yang sumbangan tulisan, kenangan, dan arsip domestiknya memberikan validitas emosional serta sejarah yang sangat kuat. 

   Selain itu, ia juga melacak keberadaan staf TU Aksera bernama Prabowo atau Bowo hingga ke Jawa Tengah untuk menggali informasi penting mengenai kondisi internal dan finansial lembaga. Tanpa gerak cepat Hamid Nabhan, sejarah Aksera dipastikan akan benar-benar tenggelam ditelan zaman. Terlebih, langkah mulia ini dilakukannya murni atas panggilan jiwa dan kegelisahan kultural, bukan karena tugas akademis atau proyek instansional.

   ​Melalui buku berjudul Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) dalam Sejarah dan Dinamika, Hamid Nabhan berhasil mendokumentasikan warisan berharga para maestro. Buku ini membuka mata kita terhadap beberapa fakta penting, seperti bagaimana Aksera menerapkan pendidikan mental sanggar yang membuktikan bahwa pendidikan seni terbaik tidak harus kaku secara akademis, melainkan memberi kebebasan berpikir yang luar biasa kepada para mahasiswanya. Alih-alih menciptakan satu gaya lukisan yang seragam, Aksera melatih muridnya menemukan jati diri masing-masing sehingga lahirlah warna yang sangat kontras namun indah, seperti gaya surealisme spiritual Amang Rahman hingga corak abstrak legendaris Nunung WS. 

   Buku ini juga sukses menempatkan Surabaya kembali ke peta emas sejarah seni rupa nasional, membuktikan bahwa kota ini bukan sekadar kota pahlawan dan perdagangan, tetapi juga salah satu episentrum pendidikan seni rupa pertama di Indonesia.

​Buku ini pertama kali diterbitkan pada 2016 dan dicetak sebanyak dua kali dengan masing-masing 1.000 eksemplar, yang saat itu sengaja dibagikan secara cuma-cuma kepada para budayawan, seniman, dan akademisi. Kini, setelah edisi perdana tersebut habis, buku tersebut diterbitkan kembali dalam edisi revisi dengan format baru serta sejumlah tambahan materi oleh penerbit Garudha Waca agar warisan sejarah tersebut dapat menjangkau pembaca yang lebih luas dari berbagai generasi. 

   Kerja keras Hamid Nabhan, sinergi dengan keluarga pendiri seperti Ibu Thea Kusumo, dan semangat menjaga ingatan membuktikan satu hal bahwa arsip tertulis adalah benteng pertahanan terbaik melawan lupa, dan Surabaya serta dunia seni rupa Indonesia berutang budi besar pada dedikasi ini. 

(Red)

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id